Brilio.net - "Senjata yang paling ampuh untuk memutus rantai kemiskinan adalah dengan meningkatkan pendidikan". Kata-kata bijak itu telah memotivasi Heni Sri Sundani (28) bersama suami, Aditia Ginantaka, untuk menggagas Gerakan Anak Petani Cerdas di tanah kelahirannya, Desa Jampang, Bogor, Jawa Barat. Awalnya Heni mengasuh sekitar 15 anak petani saja. Namun kini, di bawah gerakan #anakpetanicerdas, anak didiknya sudah mencapai lima kampung dengan jumlah sekitar 500 anak.

Pasangan suami istri ini mengaku, tak bisa tinggal diam melihat keadaan pendidikan anak-anak petani dan orang-orang miskin di kampung yang cenderung putus pendidikan dan dianggap tak menonjol dalam prestasi. Padahal, Heni percaya, tidak ada anak di dunia ini yang bodoh. Yang ada hanyalah anak yang tidak sempat mendapatkan pendampingan dan metode pembelajaran yang tepat.

Sayangnya, orangtua yang petani dan miskin, tentu tidak dapat membantu dengan maksimal proses pembelajaran anaknya. Apalagi, para orangtua itu dulunya juga tidak sempat menikmati jenjang pendidikan yang tinggi.

Heni sukarela didik anak petani & warga miskin, pesertanya 5 kampung

Kegelisahan inilah yang menggugah nurani Heni untuk meluangkan waktu dan tenaganya "mengasuh" anak-anak petani dan golongan orang miskin untuk belajar bersamanya. Kini gerakan berlogo seorang petani itu, semakin lama kian berkembang.

Loading...

Gerakan ini telah menginspirasi banyak orang yang ingin turut serta mendukung programnya. Bahkan, setiap bulannya Heni mendapatkan bantuan dana dari teman-temannya yang tersebar di lima benua melalui jejaring sosial media. Kebanyakan dari mereka menyalurkan donasinya untuk didistribusikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.

Bukan hanya donasi, banyak di antara teman-teman Heni yang memilih menjadi relawan dan terlibat langsung dengan kegiatan Anak Petani Cerdas ini. Wajar jika kian lama gerakan ini semakin luas, hingga menjadi komunitas dan semakin banyak orang yang ingin terlibat.

Heni sukarela didik anak petani & warga miskin, pesertanya 5 kampung

Okti Lia, salah satu relawan gerakan ini, menuturkan ragam kegiatan yang diberkan tidak hanya bimbingan belajar intensif, tetapi terus dikembangkan. Seperti kelas life skill yang mempelajari komputer dan bahasa Inggris, literasi atau pendampingan baca-tulis melalui media pembelajaran yang menarik, safari buku ke berbagai perpustakaan, story telling, hingga character building.

"Tidak hanya di gerakan #anakpetanicerdas saja, bidang kesehatan pun dilakukan. Heni menggagas program kesehatan, seperti edukasi dan penyuluhan kesehatan, pembangunan MCK umum," ujar Okti saat dihubungi brilio.net, Jumat (8/5).

Apa yang dilakukan Heni telah membuka mata, bahwa kepedulian harus diikuti dengan aksi agar bisa memberikan perbaikan yang lebih besar. Jadi, jika kamu peduli terhadap suatu hal, lakukanlah aksi dan dari sendiri. Siapa tau akan menular dan menjadi besar, seperti yang Heni alami.