Brilio.net - Gaganawati Stegmann, namanya. Wanita ini menyimpan banyak kisah menarik tentang aktivitas pelestarian budaya Indonesia di luar negeri. Wanita yang semula bernama Gaganawati Dyah Panca Harsanti adalah warga negara Indonesia yang pindah ke Jerman pada tahun 2006 karena harus mengikuti suaminya. Namanya pun berubah mengikuti surat pernikahan Internasional menjadi Gaganawati Stegmann.

Gana tak menyia-nyiakan masa mudanya. Saat berumur 19 tahun, dia terpilih seleksi dari 10 orang mahasiswa Jateng untuk mengikuti konferensi PMR se-ASEAN di Filipina. Di situ dia membawa nama Indonesia dengan cara yang sederhana, yakni tampil menari kreasi baru dalam malam budaya.

Pindah ke Jerman tak hentikan Gana lestarikan budaya Indonesia

Ibu muda yang saat ini berusia 39 tahun ini mengatakan, pada tahun 1998 dia mulai bergabung dengan sebuah LSM. Tak menyangka suatu hari, dia mendapat amanah sebagai koordinator salah satu proyek dan menjadi duta Indonesia dalam beragam pertemuan di dalam dan luar negeri. Dalam perkemahan internasional yang diselenggarakan di tanah air, dia selalu mengenalkan banyak hal tentang keIndonesiaan, mulai dari makanan, cara hidup, sopan-santun, bahasa, tradisi dan tarian.

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Selanjutnya pada tahun 2001, Gana bersama seorang teman, menjadi duta IIWC dalam Youth Summit di Manila, Filipina. Lagi-lagi Gana memamerkan tarian tradisional Indonesia di ajang internasional. Dengan bangganya, saat malam api unggun dia berlenggak lenggok menarikan tari Roro Ngigel dan Gambang Semarang.

Gana tak pernah absen untuk memamerkan tarian khas Indonesia di berbagai pertemuan antar negara yang dia ikuti. Dia terus menerus membuat teman manca negaranya berdecak kagum dengan kebolehannya menari.

Dari berbagai acara di 20 negara yang sudah dia ikuti, ada satu acara yang paling membekas di hati Gana. The 4th Youth Camp ASEF di Denmark tahun 2003 berhasil membuatnya tersenyum-senyum sendiri bila mengingatnya. Di malam kebudayaan itu, Gana tak hanya menari tapi juga mengajarkan tari Yapong pada teman-teman putri. "Mereka yang meminta," katanya. Bahagianya, dia juga didaulat menjadi make up artist dan sutradara tunggal untuk drama satu babak Bawang Merah-Bawang putih.

Setelah berkeluarga pun Gana masih terus aktif mengenalkan tarian Indonesia ke kalangan masyarakat Jerman. "Mereka jadi tahu, budaya Indonesia itu indah. Tak hanya dilihat dari baju tari yang warna-warni," ungkap Gana.

(brl/pep)