Brilio.net - Sebuah video game asal Australia terpaksa ditarik dari peredaran karena menuai protes keras dari berbagai pihak. Dalam game 3D bernama 'Survival Island 3 - Australia Story' itu, seorang pemain harus menemukan cara bertahan hidup di salah satu tempat paling berbahaya di dunia, termasuk harus bertarung dan membunuh penduduk asli Aborigin.

Dalam deskripsi produk di Google Play dan Apps Store disebutkan, "waspadalah terhadap hewan marah, terutama jika Anda tidak memiliki senjata apapun. Pada malam hari, keadaan benar-benar berbahaya, bersembunyilah di suatu tempat... berburu hewan atau tanaman - anda harus makan sesuatu."

Dalam rangka untuk bertahan hidup, seorang pemain juga diajarkan untuk bertarung melawan penduduk lokal. "Anda juga harus bertarung dengan orang Aborigin - serang rumah mereka!" tulis game tersebut yang dikutip brilio.net dari the guardian, Minggu (17/1).

Karena dinilai berbau SARA serta merendahkan suku Aborigin, permainan yang dirilis sejak 14 Desember 2015 lalu ini pun mendapat kecaman keras. Buntutnya, muncul sebuah petisi di situs change.org, yang menyerukan permainan tersebut ditarik dari toko aplikasi smartphone. Hingga saat ini, petisi tersebut telah ditandatangani lebih dari 50.000 orang sejak dibuat pada Jumat, (15/1).

Penggagas petisi tersebut Georgia Mantle mengatakan dirinya mengetahui game tersebut dari Twitter temannya. Dia kemudian mendiskusikannya dengan anggota grup Students Support Aboriginal Communities. Mantle dan rekan-rekannya lalu mendesak pihak Google maupun Apple untuk menghapus game itu dari toko aplikasi mereka.

Menuai banyak protes dari para pengguna, permainan video Survival Island 3 belakangan telah hilang dari iTunes Store dan Google Play. "Saya menunggu permohonan maaf dari toko aplikasi dan pihak pengembang, bukan sekadar menghapusnya begitu saja," kata wanita asal Timor Leste tersebut.

Baik Google maupun Apple sampai saat ini enggan merespons kontak dari awak media. Menurut juru bicara Google, pihak perusahaan memang tidak perlu menanggapi protes itu tetapi mengatakan Google akan menghapus 'aplikasi yang melanggar kebijakan'.

Diketahui, suku Aborigin di Australia diperkirakan berjumlah sekitar satu juta pada saat kependudukan Inggris. Namun, sekarang hanya ada 470.000 dari jumlah rakyat Australia sebanyak 23 juta. Warga Aborigin banyak mengalami persoalan di antaranya penyakit, penjara dan masalah masyarakat lain dengan tingkat sangat tinggi. Selain itu, suku Aborigin memiliki tingkat harapan pendidikan dan pekerjaan yang rendah.