Brilio.net - Pada 11-12 April 2015 lalu diadakan upacara adat mensyukuri hasil panen bernama Nutuk Beham di desa tertua di Kutai Kartanegara yang mayoritasnya berprofesi tani.

Beberapa rangkaian yang dilaksanakan adalah mahantunyi (menyangrai padi ketan), madar (membuat lemang), mamang (ritual mensyukuri hasil panen), tari pupur (tari menyambut tamu), beluluh/tepong tawar (ritual penghormatan kepada orang yang dihormati dengan maksud untuk menjauhkan dari pengaruh roh jahat), tari jepen, dan di akhir ditampilkan olahraga tradisional Behempas yang diiringi musik khas Kutai, tingkilan.

"Behempas adalah olahraga tradisional yang menggunakan kulit kayu jomok sebagai pelindung dan rotan sebagai pemukul" aku Innal Rahman selaku salah satu warga setempat pada brilio.net pada Rabu (27/5).

Behempas menampilkan dua pemuda yang saling beradu. Mereka saling mengincar bagian punggung lawan untuk dikenai rotan yang dalam kondisi tanpa mengenakain atasan. Behempas yang sesekali dipertandingkan ini berasal dari kata bimpas yang berarti pukul-pukulan atau perang tanding. Dalam pelaksanaannya, behempas dipandu seorang wasit dan terdapat beberapa ronde serta jeda istirahat, seperti pada pertandingan tinju. Behempas umumnya dilaksanakan di tanah lapang yang kental khas nuansa tradisionalnya dengan maksud dapat menciptakan kedekatkan dan dapat dinikmati langsung oleh masyarakat.

Maksud dari behempas yang juga sering ditampilkan sebagai hiburan adalah meningkatkan jiwa ksatria dan keberanian para pemuda.

(brl/swh)