Brilio.net - Sejumlah daerah masih masih menjaga tradisi di era teknologi ini. Meskipun terkesan kuno, namun setiap adat budaya memiliki makna serta pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Salah satu daerah yang masih mempertahankan adat tersebut adalah di Desa kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Desa Kutai Tertua di Kutai Kartanegara punya upacara adat bernama Nutuk Beham, yaitu upacara perayaan panen yang dilaksanakan dua kali dalam setahun yang disimbolkan sebagai panen muda (awal) dan panen tuha (akhir). Konon, ritual ini adalah nazar para leluhur terdahulu ketika awal membuka lahan. Nutuk dapat diartikan menumbuk sedangkan beham merupakan padi ketan. Pada intinya ritual ini adalah menyajikan padi ketan yang diolah dan dimakan oleh warga sendiri.

Ditumbuk 2 hari 2 malam tanpa henti,ketan ini mungkin terenak di dunia

Warga terlibat dalam proses memasak

"Nutuk beham adalah menghaluskan padi beham dengan cara menumbuk (nutuk) dalam wadah yang bernama lesong, penumbuknya disebut halu," tutur Innal Rahman, warga setempat pada brilio.net Rabu (27/5).

Awalnya padi direndam selama tiga hari. Kemudian disangrai dan didinginkan. Barulah dilakukan penumbukan (nutuk) yang dibagi menjadi dua tahap. Penumbukan pertama yang dinamai 'ngangkal', yang mana padi beham baru setengah jadi yang kemudian ditampi untuk memisahkan kulitnya. Tahap kedua padi beham ditumbuk lagi dan ditampi lagi, ini dinamai 'ncaroh'.

Kegiatan penumbukan ini berlangsung selama dua hari dua malam tanpa henti yang mana dilakukan secara bergantian sampai padi menjadi halus. Dari warga berhasil dikumpulkan sebanyak 1,2 ton padi beham yang dimasak dan dimakan bersama oleh warga. 

Ditumbuk 2 hari 2 malam tanpa henti,ketan ini mungkin terenak di dunia

"Kegiatan ini akan selesai saat semua padi sudah di proses semua. Total ada 124 kaleng yang berisikan 9 - 10 kg padi ketan yang berasal dari sumbangan semua warga," ungkap Innal Rahman. Beham dimakan dengan dicampur gula merah, parutan kelapa dan air panas.

(brl/swh)