Brilio.net - Kepedulian masyarakat Jepang untuk menciptakan kota yang khas dan memiliki karakteristik yang kuat memang patut diacungi jempol. Sudah beberapa tahun ini Wali Kota Kumamoto membuat sebuah program tentang perancangan kota yang membuat semua bangunan yang ada di tempat tersebut harus dibangun oleh arsitek ataupun seniman.

Awalnya kegiatan ini memang hanya untuk kalangan arsitek Jepang, namun seiring berjalannya waktu dan melihat potensi pengembangan bangunan ke arah yang lebih global, maka masyarakat umum khususnya masyarakat Asia diundang membuat proyeknya. Nama kegiatan sayembara desain perumahan tersebut adalah 'Kumamoto Artpolis'.

Membanggakan, mahasiswa Indonesia ternyata ikut terlibat dalam perancangan kota tersebut. Adalah Ardhyasa Fabrian Gusma, Galih Adityas, Eko Cahyo Saputro, Hafizha Muslim Primaramadhan dan Nabila Afif serta dosen pendamping Ikaputra Ir.,M.Eng.,Ph.D. Kelima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengikut sertakan karya mereka yang diberi nama 'Growing House'.

Desain rumah mahasiwa terinspirasi gempa Bantul ini dipuji Jepang

Munculnya konsep desain rumah growing house ini dilatar belakangi oleh studi kasus rumah tahan gempa yang ada di Bantul, Yogyakarta. Pasca gempa Jogja 2006, di Bantul banyak dibuat rumah-rumah tahan gempa.

Loading...

Melihat kondisi Indonesia dan Jepang sama-sama negara yang rawan gempa, maka persoalan gempa menjadi konsep awal yang mereka hadirkan. Tidak hanya itu, ternyata kelima mahasiswa ini ingin menghadirkan sisi gotong-royong masyarakat Indonesia yang sangat kuat.

"Konsep desain ini dibagi tiga tahap yaitu home for all, space for all dan life for future," jelas Gusma sebagai ketua tim kepada brilio.net, Rabu (29/4).

Maksud dari konsep home for all adalah mendesain bangunan secara parsial yang masih sesuai dengan fungsi utamanya. Selain itu juga ditambahkan ruang untuk beraktivitas di dalam rumah.

Fungsi luar rumah juga dimaksimalkan untuk tetap digunakan seperti tempat untuk bercocok tanam, olahraga, festival atau sekedar tempat untuk memelihara hewan. Konsep rumah ini akan membuat penghuninya akan lebih produktif dan tetap dapat berinteraksi dengan lingkungan.

Tidak hanya unik, growing house juga didesain dengan tingkat keamanan yang baik dan memikirkan dampak lingkungan. Growing house dirancang sebagai rumah tahan gempa dan dapat mengantisipasi bencana banjir.

Perihal gempa, pemerintah Jepang memang menerapkan aturan yang cukup ketat untuk desain rumah agar tetap aman bagi masyarakat saat ada bencana gempa. Lebih dari itu, growing house juga hadir dengan desain rumah untuk difabel. Menyangkut energi, growing house juga dilengkapi dengan panel surya.

"Saya berharap karya growing house dapat menginspirasi mahasiswa Indonesia lainnya, sebentar lagi MEA dan arsitek Indonesia harus mampu bersaing dengan mahasiswa internasional, keluar dari zona nyaman akan membuat kita tidak kalah dengan arsitek lain," ujar Gusma.

Saingan mahasiswa UGM ini saat di Jepang juga merupakan arsitek-arsitek terbaik Asia. Kompetitor internasionalnya berasal dari China, Korea, Thailand dan Taiwan.

Untuk kompetitor nasionalnya hampir semua universitas dari Kyusu. Proses persiapan yang mereka lakukan memakan waktu hingga 2 bulan. Hal ini terbilang cukup cepat untuk desain dengan konsep yang sangat matang seperti growing house.

Awal penjurian dipilih 20-30 kelompok terbaik. Dengan memberikan kemampuan terbaik, akhirnya tim Indonesia mendapatkan penghargaan excellence prize dengan juara dua kategori desain dan juara dua kategori panel terbaik. "Dalam presentasi di depan juri, kami memberikan nuansa baru dengan menggunakan software spacesyntax untuk lebih memperkuat desain kami," ujar Gusma

Tidak hanya memenangkan lomba, tanggapan pemerintah Jepang pun sangat positif terhadap karya mereka. Pemerintah Jepang mengakui bahwa karya mahasiswa Indonesia adalah salah satu desain terbaik yang pernah mereka jumpai.

Tentang tanggapan pemerintah Jepang tersebut dan review growing house karya mereka dapat dilihat di website resmi Kumamoto www.pref.kumamoto.jp.

Memang karya mahasiswa Indonesia tidak kalah dengan mahasiswa internasional lainnya. Anak-anak bangsa ini mampu membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk disejajarkan dengan arsitektur Internasional.

Kalau kelima mahasiswa ini membanggakan bangsa dengan karya growing house, maka ditunggu ya karya kamu. Banggakan Indonesia dengan prestasi.