Brilio.net - Letusan gunung berapi Tambora pada 5 April 1815 adalah salah satu peristiwa ledakan terbesar di dunia dalam 10.000 tahun terakhir.

Letusan Tambora sudah dimulai pada 5 April 1815 dengan gemuruh dan emisi piroklastik kecil. Piroklastik adalah material/padatan yang terbentuk dari lelehan magma yang menyembur ketika gunung meletus. Termasuk piroklastik juga material/hancuran yang berasal dari tubuh gunung api ketika meletus. Letusan-letusan kecil gunung Tambora ini sudah dimulai sejak tahun 1812.

'Serangan' tiba-tiba yang panjang terjadi pada 10 April 1815. Durasi eksplosifnya berlangsung selama satu jam diikuti oleh aliran piroklastik yang menyapu ke laut, dan runtuhnya kaldera.

Letusan gunung Tambora terdengar hingga lebih dari 2.000 km. Abu vulkaniknya mencapai pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, serta Maluku. Material vulkanik yang disemburkan dari perutnya sebayak 50-150 kilometer kubik, jauh lebih besar dari Gunung Krakatau pada 1883 yang hanya kurang dari 20 kilometer kubik.

Ledakannya mencapai skala 7 dari skala 1-8 Volcanic Explosivity Index (VEI) yang menghasilkan kolom letusan plinian raksasa, yang diperkirakan telah mencapai lebih 40-50 km ketinggian, mendepak jumlah besar abu dan aerosol ke stratosfer. Gempanya terasa di beberapa daerah di Jawa Timur.

Runtuhnya kolom letusan menghasilkan berbagai aliran piroklastik yang mencapai laut dan menyebabkan ledakan tambahan. Selama ledakan ini, sebagian besar komponen baik dari abu ikut hancur. Letusan membentuk kaldera berdiameter lebih dari 6 km, dengan kedalaman lebih dari 1000 m. Tinggi Tambora setelah letusan menjadi 2.800 mdpl dari sebelumnya 4.200 mdpl.

Diperkirakan 92.000 orang tewas akibat letusan. Sekitar 10.000 kematian langsung dan 82.000 tewas secara tidak langsung oleh letusan karena kelaparan dan penyakit. Kuatnya debu menyebabkan turunnya salju di Australia ketika musim panas.

Dahsyatnya letusan menutupi cahaya matahari turun ke bumi dan menyebabkan suhu di seluruh permukaan turun 3 derajat celcius. Ini disebabkan adanya tabir aerosol yang menyebar di seluruh belahan bumi hingga mencapai stratosfir karena begitu tingginya kolom erupsi sehingga menghalagi sinar matahari turun ke bumi.

Dipercaya juga terjadi tsunami dengan ketinggian gelombang diperkirakan 10 meter atau bahkan lebih. Bahkan beberapa hari setelahnya pun, sinar matahari tidak terlalu terang. Langit tetap gelap selama 1-2 hari hingga 600 km dari gunung api.

Di Eropa dan Amerika bahkan terjadi fenomena yang disebut 'the year without summer' setahun setelah letusan tambora. Di belahan bumi utara terjadi gagal panen dan kematian ternak, dampaknya adalah kelaparan besar pada abad 20.