Brilio.net - Pendidikan di Indonesia memang belum sepenuhnya merata. Sangat jauh kualitasnya jika membandingkan kondisi di Jawa dan di daerah-daerah di luar Jawa. Entah dari segi pengajaran di kelas sampai dengan fasilitas yang diberikan.

Contohnya ketidakmerataan datang dari daerah Ruteng, Nusa Tenggara Timur (NTT). Asis Wahyudi, pengajar di SMP N 4 Ruteng yang pernah mengajar di sana melalui program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) periode 2013-2014 menceritakan bahwa memang pendidikan di daerah tempatnya mengajar masih jauh dari kondisi yang ada di Jawa.

“Di sana gedung sekolahnya sudah ada dan layak namun sayangnya lokasinya bisa dibilang belum strategis. Di sekolah tempat saya mengajar itu tidak ada yang namanya air, sinyal, dan listrik,” ucap Asis kepada brilio.net (23/4).

Selain itu, sarjana Geografi asal Kediri, Jawa Timur, ini juga menambahkan bahwa akses menuju sekolah dari kabupaten dan kota sendiri sangat susah, bahkan tukang ojek pun terkadang enggan untuk mengantar penumpang ke lokasi sekolah karena memang harus melewati jalan persawahan dan disekitar hutan. Belum lagi ketika hujan tiba, para pengguna jalan harus berhati-hati agar tidak terjatuh.

Cerita pendidikan dari Ruteng, NTT, murid SMP masih sulit baca tulis

Loading...

Selain masalah akses ke sekolah yang sulit, Asis bercerita bahwa untuk bahan pengajaran sekolah tempatnya mengajar masih menggunakan beberapa buku lama. Sebenarnya sekolah sudah diberikan bantuan buku-buku baru oleh pemerintah, namun faktanya buku-buku bantuan itu dibiarkan di perpustakaan masih di dalam kardus dan tidak pernah dibuka dengan alasan khawatir bila ada yang meminjam tidak dikembalikan lagi.

Fakta lain adalah ternyata untuk para murid sekolah dasar yang masih duduk di kelas 1 sampai 3, para guru biasanya masih mengajar dengan menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar.

Hal ini biasanya dilakukan karena para murid akan sulit menerima pelajaran jika disampaikan dalam Bahasa Indonesia. Dan baru ketika sudah duduk di kelas 4, para guru lebih intens menggunakan Bahasa Indonesia meskipun sesekali masih juga menggunakan bahasa daerah.

“Tidak hanya di SD, bahkan di SMP pun masih sering pelajaran disampaikan dalam bahasa daerah. Dan itu yang membuat siswa ada yang masih merasa kesulitan untuk menulis dan membaca,” ujar Asis.

Terlepas dari itu semua Asis mengatakan bahwa masyarakat Ruteng sangat sadar pentingnya pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan bila ada anak yang malas sekolah, orangtua pasti akan langsung memotivasi anaknya untuk tetap masuk sekolah. Beberapa muridnya juga memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan sekolahnya ke SMA meskipun jaraknya juga bisa dibilang jauh.

Cerita pendidikan dari Ruteng, NTT, murid SMP masih sulit baca tulis

“Tapi 50:50 sih antara lanjut SMA atau diam di rumah. Karena kebanyakan murid saya yang cowok itu sebelum berangkat sekolah itu ngojek karena kebanyakan ojek yang saya tumpangi ternyata murid saya gitu.”

Ya itulah satu sisi dari potret pendidikan dari daerah Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT yang mungkin selama ini tidak banyak diketahui orang. Maka dari itu menurut Asis bersyukurlah kita di Jawa sudah mendapatkan fasilitas pendidikan terbaik.