Brilio.net - Nurulia Lahagu (25), perempuan asal Nias Barat ini menunjukkan kepedulian yang besar terhadap masa depan anak-anak Nias, khususnya untuk para balita. "Tidak boleh lagi ada anak yang meninggal karena kurang gizi," ujarnya kepada brilio.net, Kamis (21/5) .

Meskipun belum berkeluarga dan belum memiliki anak, Nurul sangat konsen untuk urusan gizi balita di daerahnya. Dia memilih untuk berbagi pengetahuan perihal kelengkapan gizi untuk anak-anak. Nurul yang sehari-hari aktif sebagai guru honorer, mengabdikan dirinya sebagai kader posyandu, mendampingi kelompok bermain anak, kepala satuan dan tutor PAUD dan ketua kelompok kebun gizi.

Nurul aktif menyuarakan pentingnya kebutuhan gizi bagi anak-anak. Kondisi daerahnya yang masih terdapat anak-anak yang kekurangan gizi membuat hatinya tergerak untuk tidak tinggal diam saja.

"Saya kasian melihat kondisi anak-anak yang mengalami gizi buruk, memang orangtua banyak yang tidak bisa membeli makanan bergizi, namun bukan berarti anak-anak jadi korbannya," ucap Nurul.

Nurul memahami kondisi masyarakat yang tidak mampu membeli makanan pendamping Air Susu Ibu (ASI), sehingga dia berinisiatif mengembangkan makanan pendamping ASI berbahan lokal, seperti pisang yang diolah, beras, buah serta sayuran. Bahan lokal tersebut ditanam di kebun gizi yang dapat diterapkan masyarakat di halaman rumahnya.

Loading...

Perjuangan Nurul memerangi gizi buruk tidaklah mudah. Dia mendapat banyak tantangan seperti ketidakpercayaan masyarakat padanya sebab dia bukanlah orang kesehatan. Tapi Nurul tak menyerah meski harus berjalan kaki bolak-balik setiap hari menuju posyandu yang jaraknya 4 km dari tempatnya bekerja.

"Awalnya susah menyakinkan mereka, mereka tidak percaya, dipikirnya saya mengada-ngada, belum lagi kondisi posyandu yang terbatas, saya yang tidak punya kendaraan biasanya berjalan kaki sejauh 4 km kalau mau ke posyandu," cerita Nurul.

Nurul sendiri bukanlah perempuan yang berasal dari orangtua yang berada. Dia hidup sederhana, meskipun demikian, dia menyakini jika dia tidak dapat membantu secara materi, tapi dia akan mengupayakan membantu dengan segala yang dia miliki.

Dedikasi Nurul untuk membantu anak balita dibuktikannya dengan mengadakan sosialisasi waktu pemberian ASI untuk anak, pentingnya imunisasi, makanan pendamping ASI berbahan lokal dan berbagai kegiatan menyangkut memerangi gizi buruk.

Kegiatan Nurul dimulainya dari 2012 sampai hari ini. Dia tidak mengeluh sedikit pun perihal biaya yang harus dia keluarkan untuk mendanai kegiatan sosialisasi, meski dia sendiri hanya seorang guru PAUD. Keluarga Nurul pun sangat mendukung kegiatannya.

Pada bulan April 2015, berkat kerja kerasnya, Posyandu Hilimayo, tempat Nurul mengabdikan diri, dipilih oleh Dinas Kesehatan Nias Barat sebagai posyandu terbaik dan sekaligus posyandu percontohan.

"Cita-cita saya sederhana, semua anak-anak Indonesia harus sehat, tidak ada lagi ibu yang kehilangan anak karena gizi buruk, buka tangan dan selamatkan para balita masa depan bangsa, itulah cita-cita saya," harap Nurul.