Brilio.net - Awalnya mungkin tak terbayangkan bagi anak-anak kampung yang saban hari lebih sering melihat kerbau membajak sawah, petani pergi ke ladang, pada akhirnya bisa bertemu presiden dan menjadi tamu istimewa di istana negara.

Mereka ini adalah anak-anak dari Purworejo, kota yang lebih dikenal sebagai tempatnya pensiunan karena sepinya. Anak-anak ini tergabung dalam grup tarian dolalak. Pengalaman tampil di istana dialami mereka pada 2008 silam.

Nana Septia (24), mantan anggota dolalak mengatakan, dia dan kawan-kawan lainnya mendapat kesempatan unjuk diri di hadapan presiden. "Yang dipilih sekitar 70-an anak. Jumlah pastinya saya lupa, tapi sekitar 50-an Mas untuk menari dolalak,” ungkapnya kepada brilio.net, Kamis (30/4).

Dolalak adalah tarian tradisional Purworejo. Kota ini menjadi kampung halaman Sarwo Edhie Wibowo, ayah dari ibu negara waktu itu, Ani Yudhoyono.“Seleksinya cukup ketat, itu diambil dari sanggar-sanggar, sekolah, kecamatan yang tersebar di pelosok Purworejo,” tambah gadis manis lulusan Universitas Gadjah Mada ini.

Tarian ini merupakan peninggalan pada zaman penjajahan Belanda. Asal kata Dolalak adalah dari not Do dan La karena tarian ini diiringi hanya dengan alat musik dua nada, tentunya pada zaman dulu awal mula Dolalak.

Loading...

Seiring perkembangan zaman dan teknologi, tarian Dolalak sekarang sudah diringi dengan musik modern, yaitu keyboard. Lagu-lagu yang dimainkan pun bervariasi dan beragam.

Penari Dolalak pada mulanya dilakukan oleh para lelaki, berseragam hitam dan bercelana pendek. Seragam ini menirukan seragam tentara Belanda pada zaman dahulu. Seiring waktu, muncullah generasi-generasi penari putri dengan disertai modifikasi-modifikasi seragam.

Dan sekarang, keberadaan penari putra amat jarang, salah satu grup penari yang masih memiliki penari putra adalah grup tari Dolalak dari Kaligesing. Penari-penari Dolalak bisa mengalami trance, yaitu suatu kondisi mereka tidak sadar karena sudah begitu larut dalam tarian dan musik. Tingkah mereka bisa aneh-aneh dan lucu.

Setelah sekitar satu bulan berlatih di alun-alun Purworejo, pada 25 Juni 2008, mereka akhirnya berpentas di istana negara. “ Senang pasti, bangga juga bisa membawa tari Dolalak pentas di istana,” tutup Nana.

Nah, jangan pernah berhenti bermimpi dan berusaha. Jangan remehkan pula kesenian lokal. Buktinya, anak-anak kabupaten kecil ini pun mampu memukau presiden di istana negara dari tarian tradisional yang mereka bawakan. Salut!