Brilio.net - Gerak geriknya lincah, tutur bicaranya sopan dan terlihat sangat pintar. Itulah kesan pertama yang didapatkan dari Rini (bukan nama sebenarnya). Namun siapa sangka di balik itu semua dia dan kembarannya Rina, menderita skizofrenia.

Dikutip dari peduliskizofrenia.org, penyakit ini merupakan gangguan kejiwaan kompleks dimana seseorang mengalami kesulitan dalam proses berpikir sehingga menimbulkan halusinasi, delusi, gangguan berpikir dan bicara atau perilaku yang tidak biasa (dikenal sebagai gejala psikotik).

Rina menunjukkan gejala skizofrenia pada tahun 2005 lalu sampai masuk rumah sakit empat kali. Sedangkan Rini mulai mengidapnya sejak tahun 2010. Menurut psikiater yang menangani Rina, kembar identik itu 60 persen ada peluang ikut sakit juga jika yang satu mengalami sakit dan lebih parah.

Awalnya tubuh gatal-gatal dan tidak bisa tidur tiap malam. Bicaraku cepat, percaya diri, tidak takut siapa-siapa dan merasa bisa baca pikiran orang, ungkap Rini saat ditemui brilio.net.

Karena tidak bisa tidur, saya jadi anarkis dan agresif, mulai menyakiti diri sendiri dan membanting barang, akhirnya saya dibawa ke UGD dan disana baru didiagnosis kalau saya mengalami skizofrenia.

Keadaan Rini semakin tidak menentu ketika tahun 2013, dia juga didiagnosis menderita bipolar, dimana suasana hati bisa berubah setiap saat. Selain itu halusinasi yang ditimbulkan oleh penyakit skizofrenia terus mengganggu kehidupan si kembar.

Kalau halusinasi saya tikus, kuntilanak dan voldemort (tokoh jahat di kisah Harry Potter).Mereka sering membisiki saya untuk melakukan hal-hal negatif seperti kabur dari rumah dan bunuh diri, tutur Rini.

Sedangkan Rina jauh lebih parah, dia menderita paham kebesaran, merasa dirinya utusan nabi, pernah melihat alien, jin berbadan hijau dan orang tinggi berbaju hitam.

Anak kembar skizofrenia sering merasa seperti tokoh Harry Potter