Brilio.net - Dalam melakukan sebuah ekspedisi penjelajahan pasti mengalami yang namanya tantangan untuk bisa bertahan hidup. Keadaan yang jauh dari keramaian kota membuat mereka harus melakukan tindakan tertentu.

Tak jarang tindakan kecil tapi ekstrem mesti dilakukan penjelajah. Hal itu juga dirasakan Imam Ghazali, mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) saat mengikuti Ekspedisi 1.000 Jurnalis di Bukit Raya, Katingan, Kalimantan Tengah.

Imam bercerita, salah satu momen yang ia ingat adalah saat harus meminum air yang ada di Kantong Semar. Padahal air yang ada di dalamnya tak selalu bersih dan kadang berbau.

Ketika itu para peserta yang mempunyai misi mengibarkan sang Merah Putih di puncak Bukit Raya harus dibagi berkelompok-kelompok. Perlengkapan yang dibawa juga memang terbatas. Salah satu yang terbatas ketersediaan air yang sangat dibutuhkan selama perjalanan. "Sebelum melakukan ekspedisi juga sudah diberi tahu jika di titik tertentu akan sulit menemukan sumber air," terang Imam kepada brilio.net, Minggu (6/9).

Air Kantong Semar bisa jadi penyelamat kehausan di hutan

Loading...

Air Kantong Semar bisa jadi penyelamat kehausan di hutan

Untuk menghilangkan haus atau sekadar membasahi tenggorokan di sepanjang perjalanan, Imam dan teman-temannya harus rela menjilati embun di lumut-lumut yang menempel di tanah atau pun batang dan akar pepohonan. Selain itu, mahasiswa yang sebelumnya juga mengikuti Ekspedisi Nusantara Jaya 2015 ini mencari air yang ada di Kantong Semar. Kantong Semar memang mempunyai bentuk yang memungkinkan untuk menampung air. Air di dalam Kantong Semar yang berasal dari air hujan maupun embun dapat diambil untuk diminum.

Imam bercerita, tak semua air yang ada di dalamnya bisa dimanfaatkan. Air yang bisa dimanfaatkan adalah air yang bersih. Tetapi air kotor pun masih bisa dimanfaatkan asalkan tidak berbau busuk.

Untuk mengambilnya, Imam tak memotong tumbuhan itu. Ia tuangkan air yang ada di dalam Kantong Semar ke dalam botol yang ada. Kemudian ia saring dengan tisu maupun perban untuk memisahkan air dengan kotoran yang ada. "Untuk mengelabuhi diri sendiri dari warna dan bau, air tersebut lantas dimasak dan diberi kopi," terang pemuda asal Mempawah, Kalimantan Barat ini.

Meski harus melalui perjuangan yang berat saat perjalanan, Imam dan Tim Ekspedisi 1.000 Jurnalis ke Bukit Raya berhasil sampai di titik ketinggian 2.278 meter dari permukaan laut dan mengibarkan sang Merah Putih di sana pada 17 Agustus 2015.