Brilio.net - Suatu kali Abu Nawas memutuskan menjual satu-satunya keledai yang biasa digunakan sebagai kendaraan karena dia sangat membutuhkan uang. Istrinya pun menyetujui rencana itu.

Dalam perjalanan ke pasar hewan, dia bertemu seseorang. Orang itu lantas yang menanyakan harga jual ternak yang disebutnya sebagai kambing. Berkerutlah kening Abu Nawas karena orang itu menyebut keledai yang dibawanya itu sebagai kambing.

Abu Nawas menyanggah bahwa hewan yang dibawanya bukanlah kambing, tapi keledai. Seseorang tadi lantas menantang Abu Nawas untuk segera menjual hewan itu di pasar. Abu Nawas tentu akan memperoleh harga yang amat murah menurutnya.

Abu Nawas meneruskan perjalananya. Dia tak terlalu menghiraukan seseorang yang baru bicara dengannya tadi.

Tak lama berselang, ia bertemu seseorang lagi ketika dia sedang menunggangi keledainya. Dia menanyakan mengapa Abu Nawas menunggangi seekor kambing yang bukan merupakan hewan tunggangan?. Abu Nawas tentu saja langsung menyangkal dan menyebut bahwa hewannya itu adalah keledai yang merupakan hewan kendaraan.

Loading...

Orang kedua yang bicara dengan Abu Nawas ini mempersilakan Abu Nawas untuk menanyakan sendiri kepada orang-orang di pasar apakah hewannya itu kambing atau keledai. Kali ini Abu Nawas lagi-lagi tak ambil pusing soal kambing atau keledai.

Abu Nawas berjalan lagi menuju pasar. Belum sampai di pasar, dia bertemu lagi dengan seseorang yang menyangsikan bahwa hewan yang dibawa itu merupakan keledai. Dia menanyakan pada Abu Nawas hendak ke manakah kambing itu dibawa. Abu Nawas jadi terperangah dan mulai ragu. Sudah tiga orang menyebut keledainya itu sebagai kambing. Orang ketiga ini terus meyakinkan bahwa hewan yang dibawa Abu Nawas merupakan kambing.

Akhirnya di tangan orang keempat Abu Nawas menjual "kambing" itu dengan harga 3 dirham. Diperoleh dari berbagai sumber, Dirham merupakan mata uang yang terbuat dari perak dengan kurs saat ini Rp 40.000-70.000, sedangkan dinar terbuat dari emas dengan kurs kisaran Rp 2.000.000.

Sampai di rumah Abu Nawas mendapat omelan dari sang istri karena menjual keledai dengan harga sangat murah. Dia baru menyadari kalau dirinya baru saja kena tipu oleh sekawan orang yang telah bekerja sama.

Bersama rasa dongkolnya, Abu Nawas merencanakan sesuatu untuk membalas penipuan itu. Dia cari kayu dari hutan dan direkayasanya seolah-olah merupakan kayu ajaib yang bisa mewujudkan apa saja yang diinginkannya.

Kesempatan pun tiba. Suatu kali Abu Nawas menyadari bahwa empat orang yang menipunya sedang berada satu lokasi dengannya. Aksi dimulai dengan menuju warung untuk makan. Usai makan, Abu Nawas yang merasa terus diperhatikan kawanan penipu tersebut, menunjuk-nunjukkan tongkat kepada penjual dan langsung ngeloyor pergi tanpa bayar. Hal ini tentu membuat para penipu tertarik.

Mereka mendatangi Abu Nawas dan menawar untuk membeli tongkat sakti itu.

"Kami bersedia membeli tongkat itu dengan harga tinggi," ujar salah satu dari mereka.

"Berapa?" tanya Abu Nawas pra-pura tertarik.

"Seratus dinar," kata mereka mantap.

Dengan berpura-pura berat hati, Abu Nawas melepas tongkat itu dengan harga 100 dinar. Untung besar bagi Abu Nawas.

Para penipu mencoba ke warung dan membayar makan dengan menunjuk-nunjuk tongkat ke arah si penjual. Namun sayang "keajaiban" tongkat tak mempan. Ternyata, berdasarkan penjelasan si empunya warung, Abu Nawas bisa makan hanya dengan memainkan tongkat "ajaib" itu karena sebelumnya dia telah meninggakan sejumah uang di warung itu.

BACA JUGA:

Abu Nawas hampir digantung gara-gara mau terbang

Abu Nawas dan telur unta untuk obat Raja

Kecerdikan Abu Nawas selesaikan persoalan pembagian kambing

Kisah Abu Nawas yang dikalahkan oleh untanya

Kisah Abu Nawas yang ingin memindahkan masjid

Cerita Abu Nawas sukses mengakali tuan tanah yang kikir

Abu Nawas berhasil membungkus matahari