Brilio.net - Jika kamu diminta memilih dilahirkan dalam keadaan normal atau cacat, kamu pasti akan memilih untuk dilahirkan normal. Yakin, semua manusia jika bisa memilih pasti akan memilih untuk dilahirkan sempurna. Begitu juga dengan orang yang cacat, pasti ingin bisa beraktivitas seperti orang normal.

Di sebuah keluarga hiduplah tiga orang. Ahmad, Din kakaknya Ahmad, dan Ibu Ahmad. Ahmad masih duduk di bangku SMA. Sedangkan kakaknya terlahir cacat. Ia tidak bisa berbicara dan berjalan. Bahkan untuk makan saja tidak mampu sendiri. Yang bisa dilakukan Din hanya memegang pensil dan mencoret-coret kertas dengan pensil itu.

Sedangkan Ibu mereka hanya bekerja sebagai guru SD. Selepas mengajar, ia masih menyempatkan waktu untuk mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an. Itu dilakukan untuk mendapatkan tambahan uang berobat Din.

Suatu ketika Ahmad merasakan bahwa Tuhan tidak adil memberikan hidup kepadanya. Kenapa kakaknya dilahirkan cacat sehingga ia harus menghabiskan waktu bermainnya untuk merawat kakaknya. Begitu juga setelah ia lulus SMA, ia tak bisa melanjutkan kuliah karena harus mencari uang untuk meringankan beban ibunya. Hingga Ahmad pun mengusulkan kepada ibunya untuk menitipkan kakaknya yang cacat itu ke panti asuhan.

Ahmad pun akhirnya tersadar ketika Lebaran. Kisah ini begitu mengharukan.  Kisah ini menjadi refleksi bagi kita untuk tidak hanya memikirkan keegoisan diri pribadi. Tonton kisah lengkap video asal Malaysia ini :

Loading...