Brilio.net - Pernah nggak kamu kesel sama pacar yang jalannya suka kecepetan? Atau bahkan terlalu santai seperti di pantai sambil lirik sana sini? Lalu, pernahkah kamu berpikir apakah yang membuatnya memiliki kebiasaan berjalan terlalu cepat atau sebaliknya?

Ternyata seorang ahli bahasa tubuh, Patti Wood, penulis Snap: Making the Most of First Impressions, dan seorang trainer komunikasi sekaligus penulis bernama Eliot Hoppe, menyampaikan adanya kaitan antara cara berjalan dengan karakter seseorang.

"Bahasa tubuh menyampaikan emosi yang sebenarnya kamu rasakan. Dan banyak pergerakan ini tidak kita sadari. Kita tidak sadar bahwa kita berjalan lebih lambat dari normalnya, atau bahkan dengan pundak merosot," kata Hoppe.

Nah, kali ini brilio.net akan mengulas beberapa fakta tentang maksud cara berjalan pacarmu atau bahkan kamu sendiri, seperti yang dikutip dari huffingtonpost.ca, Kamis (19/3). Check it out, guys!

1. Dilihat dari kecepatan berjalan

Loading...

Wood percaya bahwa misalnya saja tipe orang yang suka mengontrol atau dominan berjalan lebih cepat dengan maksud yang sudah dimiliki. Selain itu, mereka tidak suka berhenti pada tempat yang memang bukan tujuannya. Hal ini tak jauh berbeda dengan yang dinyatakan Hoppe, bahwa semakin cepat seseorang berjalan, justru menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan diri mereka.

Sebaliknya, Hoppe menyampaikan bahwa semakin lamban orang berjalan, berarti cenderung menyukai percakapan yang mendalam. Wood menambahkan bahwa mereka termasuk orang yang tidak ingin mengganggu, pemalu, dan bisa jadi tingkat kepercayaan dirinya rendah.

2. Dilihat dari posisi tangan

Apakah kamu pernah berjalan sambil bersedekap atau melipat kedua tangan di depan dada?

Nah, ini mengindikasikan kamu sedang merasa sedih atau justru ketakutan. Intinya, kamu merasa tidak aman dan nyaman. Hoppe menambahkan, "Terutama jika kamu seorang perempuan yang berjalan sendirian pada malam hari atau melewati tetangga yang super killer."

Tapi, jangan pernah berjalan seperti ini kalau di tempat asing, terlebih sepi. Jaga-jaga saja bila daerah itu rawan tindak kriminal. Posisi berjalan seperti menunjukkan kamu dalam kondisi nggak nyaman dan lemah. Kalau sudah begini, lepaskan tanganmu dari posisi itu. Berjalanlah lebih cepat dan tubuh tegap.

3. Dilihat dari sudut pandang sebagai 'guardian'

Ini sering dikaitkan dengan berjalan bersama orang lain, misalnya pacar. Menurut Hoppe, jika seseorang mengiringi langkah kakimu saat berjalan bersama, itu bisa jadi menunjukkan hubungan kalian dinamis. Wood pun setuju dengan pernyataan ini.

Di sisi lain, jika mereka berjalan satu langkah di depanmu bisa memungkinkan arti bahwa dia ingin menjadi pusat perhatian, menjadi yang pertama, agresif, atau bahkan untuk melindungi kamu. Tapi menurut Hoppe, hal ini bisa berbeda persepsi di budaya yang berbeda.

4. Mereka yang suka berjalan sambil berbicara

Pernahkah kamu melihat orang mengoceh di telepon sambil berjalan terus tiba-tiba berhenti? Mungkin memang ada persoalan serius. Bagi Wood hal ini justru bagus. Dia justru prihatin pada orang yang ketika menelepon dan dia sendiri punya konflik, orang itu justru marah-marah. Salah-salah bisa berbahaya.

Akan tetapi di sisi lain, Wood menyatakan bahwa berjalan sambil berbicara dapat menumbuhkan energi positif. Berjalan di lingkungan kantor sambil menelepon bisa meningkatkan kreativitasmu.

5. Cara berjalan job seeker

Hoppe memberikan sedikit tips saat kamu mau wawancara pekerjaan. Janganlah terlalu tegang atau kaku dalam berjalan. Tegapkanlah tubuhmu, fokus ke tempat yang kamu tuju, tapi rilekskan pundakmu. Hal ini tidak akan menunjukkan kamu terlalu percaya diri atau justru sebaliknya.

6. Berjalan sesuai perasaan

Wood menyampaikan bahwa ketika mood jelek dan maunya marah melulu, maka berjalanlah mengelilingi kompleks rumah atau kantor dengan mengepalkan kedua tangan. Selain itu, kamu bisa mengayun-ayunkan lenganmu. Hal ini akan membantumu mengatasi mood buruk.

7. Cara berjalan 'diwariskan' oleh orangtua

Pernah dibilang orang bahwa cara berjalanmu seperti ibu atau ayahmu? Wood menyatakan ini sebagai 'modelling' alias anak meniru kebiasaan orangtuanya.