Brilio.net - Sungai Ciliwung salah satu sungai terbesar yang melintas dari Bogor hingga ke Jakarta. Sungai yang memiliki panjang hampir 120 km ini selalu menjadi penyebab banjir yang terjadi di wilayah Jakarta. Padahal zaman dahulu sungai ini selalu dilintasi penduduk Jakarta untuk perdagangan.

Namun sayangnya, saat ini Sungai Ciliwung keadaannya sudah sangat memprihatinkan. Banyak sampah yang menumpuk dan juga pembangun liar yang berada di pinggir sungai membuat Sungai Ciliwung menjadi lebih sempit. Hal itu membuat dampak banjir tahunan yang melanda Jakarta.

Melihat mirisnya keadaan Sungai Ciliwung, Komunitas Condet Kita akan menggelar acara Susur Sungai Ciliwung 2017 pada Sabtu (26/8) mendatang. Nantinya para komunitas ini akan meluncur sejauh tujuh kilometer menggunakan ban dari Jembatan Tb Simatupang hingga kawasan Tanjungan, Condet, Balekambang, Kramat Jati, Jakarta dan menyusuri wilayah tersebut dengan memakan waktu hingga empat jam.

Beberapa tokoh Condet dijadwalkan akan melepas peserta dari jembatan Tb Simatupang pada pukul 08.00 WIB. Mereka diantaranya anggota DPRD DKI Jakarta Drs H Syamsuddin, Camat Kramat Jati Eka Darmawan, SE, M.Si, mantan Lurah Balekambang dan Batu Ampar yang sudah dianggap warga sebagai tokoh masyarakat Condet H Rosyid Ahmad, dan Ketua Pokdar Kamtibmas Resort Jakarta Timur Budiyanto Subagya.

Ketua Panitia Susur Sungai Ciliwung 2017 Ahmad Maulana mengungkapkan, acara ini merupakan kegiatan yang digelar dari warga untuk warga. Pendanaannya pun dilakukan secara swadaya.

Loading...

Panitia, peserta juga tokoh masyarakat Condet bersama-sama mendanai acara yang juga dilakukan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 RI ini.

Maulana yang akrab disapa Lantur menegaskan, susur sungai ini bertujuan untuk mengingatkan kepada warga bantaran kali tentang pentingnya Ciliwung.

“Banyak peserta anak-anak pinggir kali. Lewat acara susur sungai ini, kita pengen mengingatkan kepada warga betapa penting revitalisasi sungai ini supaya bisa kembali bersih seperti zaman orang tua kita dulu,” kata Lantur, dalam siaran pers yang brilio.net terima.

Jernihnya Ciliwung yang masih dilihat pada tahun 80-an masih punya harapan untuk dilestarikan. Lantur bahkan berharap Ciliwung bisa menjadi ikon wisata baru di Kota Jakarta. Dia mencontohkan Sungai Cheonggyecheon di Korea Selatan yang melintasi perkotaan tetapi airnya bisa tetap jernih. Sungai itu pun kerap menjadi sarana rekreasi masyarakat urban.

Beberapa sungai di Tanah Air juga sudah dikelola untuk kebutuhan pariwisata. Contohnya, Karst Tubing di Bantul, tubing di Magelang, dan wisata susur sungai di Kalimantan. "Yang belum ada memang Ciliwung," tegas Lantur.

Padahal, pria yang juga pendiri Brigade Jawara Betawi ini menjelaskan warga tidak hanya bisa menikmati rekreasi air di Ciliwung. Sungai ini menyimpan kekayaan sejarah.

Di Ciliwung, peradaban masyarakat prasejarah lahir. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan adanya temuan benda purbakala seperti gerabah dan pecahan beliung di daerah Condet yang diperkirakan sudah berusia berkisar 5 ribu tahun.

Meski demikian, Lantur mengakui masih banyak pekerjaan rumah untuk menjadikan Ciliwung layak menjadi objek wisata. Kebersihan sungai sekali lagi menjadi isu utama. Untuk membuat Ciliwung bersih, dia menegaskan, masyarakat jangan hanya berpangku tangan mengharapkan peran pemerintah. Menurut dia, kesadaran dan peran serta warga setempat terhadap Ciliwung menjadi faktor penentu masa depan sungai tua ini.

"Susur sungai ini setidaknya bertujuan mengingatkan warga Jakarta. Oh kita masih punya Ciliwung,” kata dia.

Rute yang dilalui peserta pun akan menyuguhkan pemandangan beragam. Dari daerah aliran sungai yang masih terjaga kebersihannya hingga area pemukiman dimana masih banyak warga dan industri membuang limbah.

Untuk membangun kesadaran peserta terhadap kebersihan Ciliwung, Lantur menjelaskan, setiap kelompok berlomba mengumpulkan sampah yang ditemukan di sungai. Mereka juga akan menyebar spanduk di lima titik di bantaran sungai. Isinya berupa imbauan agar warga tidak membuang sampah sembarangan dan pentingnya menjaga kelestarian Ciliwung.

Panitia juga memperhatikan keselamatan dan keamanan tubbing massal ini. Peserta akan dibekali lifejacket dan helm. Setiap kelompok juga akan dikawal oleh dua fasilitator.

Tidak hanya itu, peserta susur sungai akan mendapat penjagaan dari para relawan dari Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI), Pokdar Kamtibmas, Tim Kiblat hingga aparat keamanan setempat. Menurut Lantur, armada perahu karet juga disiapkan untuk menjamin keamanan peserta.