Brilio.net - Jepang terkenal sebagai negara maju. Warganya, baik pria maupun wanita memiliki etos kerja tinggi, bahkan bisa dibilang banyak orang di sana workaholic. Namun begitu, gaya hidupnya juga bagus sehingga mereka selalu tampil prima.

Nah, kalau bicara interaksi antar-pegawai lintas gender, gimana ya? Sebuah survei yang dilakukan website berita My Navi Woman kepada 97 pria berusia 22-39 tahun bertanya tentang "Sejujurnya, apakah kamu berpikir wanita di tempat kerjamu menakutkan?", jawabannya sebanyak 34% responden bilang 'Iya', sebagaimana dikutip brilio.net dari ROCKET NEWS 24, Kamis (16/6).

Tapi kenapa sih, kaum Adam di Jepang menganggap begitu? Ternyata ada alasannya yang terbagi ke dalam empat kategori, yaitu:

1. Percakapan.

"Percakapan di antara mereka mengerikan, seperti memandang rendah orang lain dan nggak mau jujur tentang maksud mereka yang sebenarnya. Saya sangat nggak nyaman ketika mendengar mereka menggosipkan orang lain," ujar pria guru bidang industri (38).

Loading...

"Wanita membicarakan orang lain di belakang orang tersebut sepanjang waktu tanpa sedikit pun perasaan peduli," kata karyawan di salah satu industri elektronik (32).

2. Komunikasi di tempat kerja.

"Saya harus ekstra hati-hati ketika mendelegasikan pekerjaan kepada mereka," cetus pria karyawan industri logam dan bahan kimia (32).

"Wanita senior teman saya adalah orang yang bossy dan menjengkelkan," kata pria penjual makanan dan minuman (23).

3. Konspirasi.

"Saya sudah pernah melihat contoh di mana wanita berkomplot melawan atasan mereka dengan membuat pengaduan dan membawanya ke pengadilan. Terkadang ketika wanita bersatu, itu benar-benar menakutkan," ucap guru di bidang industri (32).

4. Rivalitas.

"Berusaha memahami maksud sebenarnya dari wanita itu sulit dan menjengkelkan ketika mereka terlibat dalam persaingan," kata pria pegawai keuangan (32).

"Wanita sepertinya bisa membentuk geng. Selain itu ada satu contoh yang saya dengar di mana atas wanita akan memukul bawahan wanitanya dengan kasar kalau nggak ada pekerja pria di sekelilingnya," ujar pria guru bidang industri (36).

Nah, tak berhenti sampai survei tersebut. Selang beberapa waktu muncul tanggapan terhadap hasil survei itu, seperti berikut:

1. "Ini semua terdengar seperti wanita di tempat kerja saya."

2. "Saya seorang wanita dan takut dengan wanita lain."

3. "Saya belum pernah menemukan pria dengan kebencian begitu besar kepada wanita seperti ini."

4. "Saya tidak pernah khawatir tentang semua hal tersebut."

Hmmm... ada yang setuju tapi juga ada yang nggak ambil pusing. Hasil survei di atas memberikan gambaran yang sebenarnya dialami beberapa pihak, dalam hal ini pria, terhadap rekan kerja ceweknya. Namun begitu, hasil survei ini nggak bertujuan mendiskreditkan kelompok tertentu. Bagaimanapun wanita juga berhak mengaktualisasikan diri, bekerja salah satu wujudnya.

Kalau kamu, pernah merasakan seperti 34% pria di Jepang itu nggak?