Brilio.net - Baru-baru ini kabar cukup mengejutkan datang dari grup Band D'Masiv. Pada Sabtu (13/7) malam, konser D'Masiv yang digelar di Lapangan Rembiga, Lombok sempat diwarnai kejadian kurang mengenakkan. Ketika konser berlangsung, sang vokalis Rian tampak bersitegang dengan bassis Ray di atas panggung.

Pada awalnya mereka terlihat tengah membicarakan sesuatu di atas panggung. Entah apa yang mereka bicarakan, Ray kemudian mendorong tubuh Rian ke belakang. Kemudian Ray terlihat menjatuhkan gitar bass yang ia kenakan lalu pergi meninggalkan panggung.

Hingga kini, manajemen D'Masiv belum memberikan keterangan mengenai insiden tersebut. Publik pun masih menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi di dalam internal band D'Masiv.

Tak lama usai insiden itu terjadi, Ray diketahui mengunggah dua status di Instagram Story lewat akun pribadinya @raidinata. Salah satu status tersebut berisi kata umpatan dengan emoji tangan mengacungkan jari tengah.

"F*ck megalomania," tulis Ray dalam Instagram Stories.

Loading...

rian megalomania © 2019 brilio.net

Tak ayal, status tersebut diduga ditujukan kepada sang vokalis Rian. Di sisi lain, banyak orang yang bertanya-tanya maksud sebutan Megalomania yang tertulis dalam status tersebut.

Dilansir brilio.net dari hellosehat.com, Minggu (14/7), megalomania atau yang memiliki nama lain Narcissistic Personality Disorder adalah sebuah gangguan mental ketika seseorang menganggap dirinya jauh lebih penting dari orang lain. Seseorang yang memiliki gangguan megalomania memiliki keinginan untuk dipuji dan dibanggakan. Di sisi lain, ia tidak memiliki empati terhadap orang lain.

Megalomania adalah gangguan kejiwaan yang cukup langka. Gangguan mental tersebut sering muncul pada masa remaja atau dewasa muda di mana laki-laki lebih rentang untuk mengalami gangguan itu dibanding wanita.

Sejumlah ciri-ciri pun dapat diketahui terhadap orang yang mengidap megalomania, antara lain: orang tersebut suka melebihkan pencapaian diri, merasa istimewa, arogan, dan mudah cemburu terhadap orang lain. Seseorang yang mengalami ciri-ciri dan gejala tersebut disarankan untuk segera menemui dokter. Gangguan tersebut bisa didiagnosis oleh dokter berdasarkan rekam jejak medis.

Secara medis, penyebab megalomania belum diketahui secara pasti. Berdasarkan para ahli, perilaku orangtua sangat berkaitan erat dengan munculnya gangguan tersebut pada anak, termasuk kekerasan, perilaku dimanjakan, hingga karena anak terlalu dipuji berlebihan. Faktor gen atau masalah psikologis juga diduga menjadi salah satu penyebab gangguan kepribadian ini.

Untuk terhindar dari gangguan tersebut, ada beberapa sikap yang perlu ditanamkan dalam diri seseorang, antara lain: selalu terbuka dan bersosialisasi dengan orang lain hingga menghindari stres berkepanjangan. Apabila kamu merasa mengalami gejala gangguan tersebut, jangan ragu untuk meminta bantuan.

Menjalani psikoterapi merupakan langkah terbaik yang bisa dilakukan penderita megalomania bersama psikiater maupun psikolog. Terapi ini dapat membantu pengidap megalomania agar lebih peka terhadap orang lain serta memahami perasaan dan perilakunya sendiri.