Brilio.net - Gelaran Indonesia Internet Expo & Summit (IIXS) 2016 yang diselenggarakan di Balai Kartini pada 22-24 November benar-benar menyedot perhatian anak muda lho. Maklum, ajang ini menampilkan banyak pelaku bisnis internet.

Apalagi, para peserta secara bergantian memperkenalkan produk dan layanan di stage utama pameran. Pemaparan para peserta pemeran itu secara umum menunjukkan bahwa potensi digital Indonesia sangat besar.

IIXS 2016 © 2016 brilio.net

foto: brilio.net/islahuddin

Peserta pameran tidak hanya memperkenalkan bisnis mereka, namun juga memberi solusi untuk mengembangkan kreativitas digital di Indonesia. Seperti disampaikan CEO Click Square, Antariksa Erlanda. Perusahaannya memfasilitasi para kreator Indonesia untuk terus berkarya.

Loading...

Click Square tidak hanya menyediakan tempat untuk belajar, tapi juga fasilitas jaringan, mengantar para kreator memiliki Haki (hak kekayaan intelektual), hingga menjadi marketplace antara kreator dan industri.

IIXS 2016 © 2016 brilio.net

foto: brilio.net/islahuddin

“Orang Indonesia banyak yang kreatif tapi kurang fasilitas. Dalam berkreasi mereka sering mentok dan menemui jalan buntu. Click Square ingin memfasilitasi para kreator hingga menghasilkan karya, memperoleh Haki, termasuk menyediakan networking untuk menyalurkannya,” ujar Antariksa.

Dia berharap semakin banyak start up bermunculan di Indonesia. Pihaknya akan terus memfasilitasi semua kebutuhan kreatif. Seperti menyediakan gedung pelatihan yang menempati tanah seluas 5.958 meter persegi dan berlokasi cukup strategis di Bandung. Di gedung itu ada studio rekaman berkelas internasional, teknologi canggih seperti video mapping permanen pertama di Asia dan lainnya.

IIXS 2016 © 2016 brilio.net

foto: brilio.net/islahuddin

Sementara itu Ketua Umum APJII, Jamalul Izza menyebutkan, banyak peluang bisnis berbasis internet yang bisa berkembang di Indonesia. Namun dia mengakui bahwa ada sejumlah kendala yang dihadapi, misalnya pendanaan. - -“Masalah utama di pendanaan, karena operasionalnya cukup tinggi. Makanya kita harap pemerintah bisa bantu, misalnya dengan beasiswa start up. Atau mencari investor dari luar negeri. Jadi sebenarnya banyak cara untuk menunjang pendanaan mereka,” ujar Jamal.

IIXS 2016 © 2016 brilio.net

foto: brilio.net/islahuddin

Jama juga menyoroti penggunaan browser asing yang biasa dipakai netizen di Indonesia karena belum adanya browser lokal yang mampu menarik perhatian. Oleh karena itu pihaknya mendorong terciptanya browser buatan dalam negeri. "Nantinya, browser lokal ini harus berbeda dengan yang ada saat ini. Nah ini juga sedang dipikirkan teman-teman yang ikut dalam Liga Digital,” ujar Jamal.