Brilio.net - Novel karya tangan Paula Hawkins yang terbit awal tahun 2015, The Girl on the Train diangkat ke layar lebar oleh Tate Taylor. Novel ini dinyatakan sebagai The New York Times Fiction Best Sellers tahun 2015. Dalam rentang Januari hingga Maret 2015, terjual sebanyak 1000 eksemplar. Film ini dibintangi oleh Emily Blunt.

Berkisah seorang Rachel Watson pasca bercerai. Setiap hari dia naik kereta untuk bekerja di New York. Setiap hari pula dia berpapasan dengan rumah lamanya. Rumah itu dihuni mantan suaminya yang telah menikah lagi. Rachel berupaya melupakan sakitnya. Dia mengalihkan pikiran dengan memerhatikan kehidupan pasangan Megan-Scott Hipwell yang dikenalnya. Dia menciptakan khayalan indah tentang betapa bahagianya pasangan ini di masa depan.

Hingga suatu ketika dia terbangun dari pingsan yang aneh. Dia memiliki beberapa luka memar. Tak ada sesuatu yang diingat semalam sebelumnya. Yang dia ingat hanyalah sesuatu yang buruk telah terjadi. Hingga berita tv mengabarkan bahwa Megan Hipwell hilang. Rachel berupaya menginvestigasi kasus ini, berusaha menemukan Megan, mencari tahu apa yang terjadi padanya, di mana dia berasa, dan apa yang sebenarnya terjadi ketika malam dimana Megan menghilang.

Memfilmkan sebuah novel memang tidak memungkinkan untuk persis seperti adanya. Penggambaran lewat visual berbeda dengan teks. Suatu kejadian yang dalam novel bisa begitu detail namun dalam film perlu penggambaran lain yang cukup singkat agar film menjadi tak terlalu lama. Improvisasi perlu dilakukan di sana sini. Beberapa kejadian panjang sangat mungkin dikonversi menjadi adegan ringkas. Misalnya saja kerja pengumpulan data oleh para wartawan dalam film Spotlight yang sebenarnya memakan waktu berbulan-bulan hanya digambarkan dalam satu hingga dua malam.

Nah ketika The Girl on the Train difilmkan terdapat beberapa adegan yang mencolok bedanya dari novel. Dirilis brilio,net dari cosmopolitan pada Senin (24/10).

Loading...

1. Latar tempat pinggiran kota London diganti menjadi pinggiran kota New York.

girl train © 2016 brilio.net

- foto: imdb -

Ini sebenarnya tidak begitu berpengaruh, kecuali aksen sang Rachel. Emily Blunt menampilkan aksen British meskipun dia seorang yang tinggal di New York. Sutradara menjelaskan bahwa aksen ini dapat menjadi sesuatu yang berbeda dari novel, sekaligus menggambarkan betapa terisolasinya Rachel.

2. Detectif Riley menjadi penanggung jawab penuh investigasi kasus hilangnya Megan.

girl train © 2016 brilio.net

-foto: imdb

Dalam novel ada dua detektif yaitu Gaskill dan Riley yang melakukan investigasi kasus hilang dan terbunuhnya Megan. Posisi Riley lebih banyak di belakang meja.

3. Di film Rachel digambarkan begitu tidak menyukai minuman alkohol.

girl train © 2016 brilio.net

-foto: imdb

Di novel Rachel menghabiskan waktu dalam kemacetan dengan menenggak gin dan tonic.

4. Hubungan Scott dan Rachel tidak cukup dekat seperti di novel.

girl train © 2016 brilio.net

-foto: imdb

Rachel berusaha dekat dengan Scott dengan mengaku teman dari Megan. Namun tidak sampaii bertemu dengan ibu Scott atau tidur sekamar seperti di novel. Juga, Scott tidak begitu kejam dalam film. Dia memang sempat mengancam namun tak sampai mengurung Rachel di kamar.

5. Ada adegan tambahan yang mana membantu Rachel mayakinkan bahwa dirinya bertanggung jawab atas kematian Megan.

girl train © 2016 brilio.net

foto: imdb

Rachel banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan bahwa dialah pembunuh Megan. Dia tak punya cukup bukti selain ingatan samarnya.

6. Kebohongan Tom sedikit berbeda.

girl train © 2016 brilio.net

foto: imdb

Di novel, Rachel berpikir dia tak pernah bertemu orangtua Tom karena Tom tak begitu akrab dengan keluarganya. Sedangkan di film, tak ada tokoh orangtua tersebut.

7. Ada tokoh baru.

girl train © 2016 brilio.net

foto: imdb

Salah satu kebohongan Tom adalah ketika menjelaskan pada Rachel apa yang Rachel lakukan ketika dia (Rachel) sedang pingsan. Namuun Rachel menemukan apa yang sebenarnya lewat dengan memeriksa kembali ingatannya. Di dalam film, rachel dibantu oleh sosok bernama Martha.