Brilio.net - Jakarta merupakan kota megapolitan yang tentu saja memiliki banyak kisah di dalamnya. Sebagai seorang penulis, Moammar Emka baru saja merilis triler film yang dikisahkan dalam buku yang ditulisnya, Jakarta Undercover.

Film yang diproduksi oleh Grafent Pictures dan Demi Istri Production ini mengangkat sisi lain dari Jakarta yang enggak hanya soal prostitusi dan segala hal negatif.

"Kalau di bukunya seluruh yang saya tulis potret buram, itu yg saya sebut sisi lain.

Sisi buram kemudian di jahit jadi script. Jadi film ini mengangkat dari sisi kehidupan sosial, percintaan, dan pertemanan. Enggak hanya sisi gelap dari Jakarta aja," ujarnya.

Film yang akan tayang pada 23 Februari 2017 mendatang ini akan memaparkan sebuah refleksi cinta, pesta, dan realita. Film ini juga membalut realita yang cukup jauh dari manis tentang kehidupan megapolitan Jakarta yang harus diperjuangkan. Isu-isu yang seringkali tak nyaman diperbincangkan, justru hendak diungkap agar kita bisa menjejak tanah.

Loading...

Meski enggak semua yang ditulis dalam buku itu dituangkan dalam film, namun Emka mengaku puas dengan film tersebut.

"Paling enggak pesan penting dibuku tersampaikan. Bukunya di filmkan semuanya enggak mungkin. Dia harus tampil sebagai film dengan tidak menghilangkan benang merah dalam film," ungkapnya kepada brilio.net.

Sebagai seorang sutradara, tentu saja menjadi hal yang seru ketika mendapat tantangan untuk menggarapa film yang diangkat dari cerita novel. Fajar Nugros mengatakan banyak hal-hal yang bisa diangkat dalam film ini tentang kehidupan Jakarta seperti kekerasan terhadap perempuan, premanisme, kemiskinan, dan jeritan kaum minoritas.

"Cerita-cerita seperti itu adalah sebagai realita yang kami hendak angkat di film ini, sehingga menjadi misi kami untuk menyuarakan nilai kemanusiaan kepada masyarakat," paparnya.

Jakarta memang selalu dilihat sebagai kota yang penuh dengan hal-hal negatif. Meski menonjolkan sisi gelap secara terang-terangan, seorang sutradara harus tetap mengemasnya dengan enggak terlalu fulgar.

"Semua film maker punya self sensorship, kita sadar negara kita dan masyarakat kita seperti apa. Ada part yang kita bablasin, pemilihan shot yang kita ambil anglenya yg aman," tambahnya.