Brilio.net - Tak bisa dipungkiri tragedi Tsunami Tanjung Lesung pada Desember 2018 menjadi pukulan terberat bagi keluarga besar band Seventeen. Namun kehidupan harus terus berlanjut. Film 'Kemarin' akan menjadi kenangan indah dan pengungkap fakta perjuangan band asal Yogyakarta itu hingga dipisahkan oleh maut.

Setahun lebih setelah peristiwa yang terjadi pada 22 Desember 2018, akhirnya Seventeen bisa merampungkan produksi film semi dokumenter mereka bertajuk 'Kemarin'. Tragedi yang membawa pergi M Awal Purbani (Bani - bassis), Herman Sikumbang (Herman - gitaris), Windu Andi Darmawan (Andi - drummer), serta Oki Wijaya (road manager), Ujang (kru) dan Dylan Sahara (istri Ifan vokalis Seventeen) itu menjadi poros utama di film ini.

Dua minggu sebelum tragedi terjadi, Seventeen dan manajemen melakukan internal meeting memutuskan tiga hal. Salah satunya adalah pembuatan dokumenter perjalanan Seventeen. Manajemen pun mulai merancang semua dokumen perjalanan selama hampir 20 tahun Seventeen. Hingga akhirnya rencana tersebut diurungkan karena bencana alam tsunami menimpa mereka saat manggung di Tanjung Lesung.

Sebulan kemudian, 22 Januari 2019, secara ajaib tim manajemen menemukan kamera milik almarhum Andi yang merekam detik-detik terakhir kebersamaan mereka sebelum manggung. Bahkan momen saat tsunami datang menggulung panggung Seventeen di lagu kedua mereka pun terabadikan. Kamera Andi ditemukan dalam keadaan rusak namun memory card-nya masih bisa diakses datanya.

"Setelah menemukan kamera Andi itu gue memutuskan untuk melanjutkan pembuatan dokumenter Seventeen. Ifan awalnya risih diikuti kamera ke mana-mana karena salah satu cerita di sana adalah kejadian setelah tsunami dan Ifan satu-satunya personel inti yang bertahan hidup," ujar CEO Makarya Pictures, Dendi Reynando dalam siaran pers yang diterima brilio.net pada Selasa (24/3).

Loading...

Film kemarin © 2020 brilio.net

Upie Guava pun didaulat menjadi sutradara bersanding dengan Wisnu Surya Pratama sebagai penulis naskah yang sebelumnya mengerjakan proyek film dokumenter juga. Footage video menjadi modal awal penulisan film ini. Stok footage yang dimiliki Seventeen berupa mini DV yang terkumpul dari tahun 2003. Total stok footage yang diolah sebanyak 55 jam lebih. Ditambah lagi mereka memproduksi ulang adegan tsunami dengan menggunakan CGI.

"Proses produksi ini memakan waktu 14 bulan. Dimulai dari menonton semua footage yang berjumlah 55 jam. Memilih angle cerita paling tepat yang akan disampaikan. Lalu kita memproduksi ulang adegan tsunami selama 2 hari. Nah, ini melibatkan puluhan extras dan membuat ombak tsunami, kemudian di touch up dengan CGI. Ifan pribadi juga diikuti kamera selama berbulan-bulan. Untuk merekam aktivitas dan kondisi sesungguhnya yang dia alami setelah kejadian tsunami," ucap Upie.

Setelah melalui proses produksi, Upie mengakui banyak peristiwa emosional yang dialaminya bersama tim produksi hingga film 'Kemarin' selesai diedit. "Semua tim manajemen menitikkan air mata," tambahnya.

Rencananya film produksi Mahakarya itu akan dirilis pada 23 April mendatang di Indonesia. Film ini juga akan didistribusikan dan tayang di Negeri Jiran, Malaysia.

Kalau kamu penasaran dan belum nonton trailernya, simak cuplikan videonya di bawah ini

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

Kemarin engkau masih ada di sini Bersamaku menikmati rasa ini Berharap semua takkan pernah berakhir Bersamamu.. . Penggalan lirik dari @seventeenbandid berjudul KEMARIN yg senantiasa mengingatkan kami akan keluarga yg telah mendahului kami. Kami ingin berbagi tentang kehilangan yang datang tiba-tiba dan sekaligus yg terjadi kepada keluarga kami. . Semoga trailer KEMARIN ini bisa menjadi pengingat buat kita semua, setidaknya untuk kami yang telah melewati ini semua dengan duka cita. Semoga “Tsunami” COVID-19 ini bisa segera berlalu dan tidak membuat kita terpisah dengan orang-orang yang kita cintai seperti yang pernah kami alami pada Tsunami Selat Sunda. Amiin. • Film KEMARIN kami dedikasikan Untuk mereka, keluarga yang pernah bersama kami : Herman Sikumbang (gitarist Seventeen) Windu Andi Darmawan (drummer Seventeen) Muh Awal Purbani (bassist Seventeen) Oki Wijaya (roadman Seventeen) Rukmana Rustam (kru bass Seventeen) serta Dylan Sahara (istri Ifan Seventeen) •

A post shared by M O K O (@mamokomamiki) on