Brilio.net - Wabah virus Corona memberikan banyak perubahan pada dunia. Meski memiliki ukuran kecil, virus ini membawa pengaruh yang besar pada banyak hal. Selain dari aspek kesehatan, berbagai bidang kehidupan lain juga ikut terdampak. Mulai dari sosial hingga ekonomi harus melahirkan beragam pembaruan untuk meminimalisir timbulnya pasien baru. Sehingga masyarakat akan tetap menjalani kehidupan dengan tenang dan aman.

Pasalnya, semenjak virus Corona mewabah, banyak masyarakat yang harus kehilangan pekerjaan. Selain itu ruang gerak juga dibatasi agar meminimalisir penyebaran virus ini. Sehingga tidak bisa dipungkiri perkembangan ekonomi pun juga ikut terkena dampaknya. Bahkan Bank Dunia pada Juni 2020 telah memprediksi jika resesi ekonomi global akan terjadi pada tahun ini, imbas virus Corona.

Dilansir brilio.net pada Kamis (1/10) dari laman resmi worldbank.org, Bank Dunia memperkirakan ekonomi global akan menyusut 5,2 persen pada tahun ini. Ini akan mewakili resesi terdalam sejak Perang Dunia Kedua.

"Di mana ekonomi terbesar mengalami penurunan output per kapita sejak 1870," kata Bank Dunia dalam Prospek Ekonomi Global Juni 2020.

Aktivitas ekonomi di negara-negara maju diperkirakan menyusut 7 persen pada tahun 2020 karena permintaan dan penawaran domestik, perdagangan, dan keuangan yang sangat terganggu. Dan seperti yang kamu tahu, dampak virus Corona ini juga sudah melemahkan ekonomi beberapa negara dan masuk dalam jurang resesi di antaranya Singapura, Australia, Jepang dan lainnya.

Loading...

Istilah resesi ekonomi saat ini menjadi kata yang kerap disebutkan. Apalagi, Indonesia juga diprediksi akan masuk ke dalamnya. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2020 mencapai minus 2,9 hingga minus 1,0 persen.

Dilansir brilio.net pada Kamis (1/10) dari liputan6.com, untuk sementara secara keseluruhan di 2020, Kemenkeu memprediksi pertumbuhan ekonomi akan mencapai minus 1,7 sampai minus 0,6 persen.

"Kementerian Keuangan melakukan revisi forecast pada bulan September ini, yang sebelumnya kita memperkirakan untuk tahun ini adalah minus 1,1 hingga positif 0,2 persen. Forkes terbaru kita pada bulan September tahun 2020 adalah pada kisaran minus 1,7 hingga minus 0,6,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam APBN Kita, Rabu (23/9).

Nah sebenarnya, apa sih resesi ekonomi itu? Lalu apa dampak yang akan terjadi pada masyarakat jika negara mengalami resesi? Simak selengkapnya dalam ulasan brilio.net yang disarikan dari berbagai sumber, Kamis (1/10).

Pengertian Resesi Ekonomi.

Pengertian dan dampak resesi © 2020 brilio.net

foto: freepik.com

Dilansir brilio.net dari antaranews.com, berdasarkan data Forbes yang berjudul What Is a Recession? pada 1974 ekonom Julius Shiskin mendefinisikan resesi ekonomi ketika penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) terjadi dalam dua kuartal berturut-turut.

Sementara itu, para ahli menyatakan resesi berarti ketika terjadi penurunan signifikan aktivitas ekonomi yang mengakibatkan PDB negatif, melonjaknya tingkat pengangguran, penurunan produksi, penurunan penjualan ritel, dan kontraksi di pendapatan manufaktur untuk periode waktu yang panjang.

Penyebab resesi.

Pengertian dan dampak resesi © 2020 brilio.net

foto: freepik.com

Wabah Covid-19 jelas memberikan pengaruh besar pada ekonomi pada masyarakat. Nggak hanya untuk Indonesia, namun juga negara-negara terdampak. Namun wabah Covid-19 bukan satu-satunya yang dapat menyebabkan resesi ekonomi. Ada beberapa faktor yang dapat memunculkan situasi ini, di antaranya sebagai berikut.

1. Guncangan ekonomi secara mendadak menjadi salah satu penyebab dari adanya resesi ekonomi. Dan wabah Covid-19 bisa dikatakan sebagai salah satu contoh dari bentuk guncangan ekonomi yang terjadi saat ini.

2. Hutang yang berlebih. Faktor ini jelas melahirkan dampak besar pada ekonomi suatu negara. Secara sederhana, ketika seseorang atau negara terlalu banyak memiliki hutang, maka bisa membuat pihak tersebut sulit untuk membayarkan kembali. Kondisi inilah yang akan membuat individu atau negara menjadi cepat untuk bangkrut.

3. Penyebab selanjutnya adalah gelembung aset. Ketika adanya investasi berlebihan di pasar saham atau sektor properti maka bisa menyebabkan resesi saat gelembung tersebut meledak.

4. Inflasi yang terlalu tinggi juga bisa menjadi salah satu faktor penyebab. Inflasi tidaklah buruk, namun jika inflasi terjadi berlebihan dapat memberikan dampak tidak baik. Bank sentral mengendalikan inflasi dengan menaikkan suku bunga, dan suku bunga yang lebih tinggi menekan kegiatan ekonomi.

5. Begitu juga saat terlalu banyak deflasi. Deflasi akan memberikan dampak yang lebih buruk. Deflasi yang terlalu besar dari waktu ke waktu bisa menyebabkan tingkat upah menurun yang selanjutnya menekan harga-harga barang dan jasa.

6. Perubahan teknologi juga termasuk dalam salah satu faktor yang menyebabkan resesi. Pada dasarnya, teknologi baru akan memberikan peningkatan produktivitas dan membantu ekonomi, namun pada saat jangka panjang.

Dampak resesi pada masyarakat.

Pengertian dan dampak resesi © 2020 brilio.net

foto: freepik.com

Dengan terjadinya resesi tentu akan memberikan dampak nyata pada masyarakat. Mulai dari pendapatan sampai aktivitas yang terjadi di dalam kehidupan sosial. Berikut penjelasan selengkapnya.

1. Pendapatan masyarakat menurun. Dampak ini jelas akan terlihat ketika resesi terjadi. Dengan terjadinya penurunan daya beli, akan berdampak secara khusus pada pelaku bisnis.

2. Meningkatnya angka pengangguran juga termasuk pada dampak dengan terjadinya resesi. Minimnya lapangan pekerjaan akan membuat masyarakat akan susah untuk mendapatkan pemasukan. Hal inilah yang perlu diwaspadai masyarakat.

3. Meningkatnya harga barang juga akan jadi pemandangan saat resesi terjadi. Hal ini berkaitan dengan penurunan daya beli masyarakat. Sehingga saat jumlah barang yang sedikit dengan permintaan yang tetap akan memberikan pengaruh pada peningkatan harga.

4. Kehidupan sosial juga akan terdampak dengan situasi tersebut. Gaya hidup akan berubah secara jelas. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada golongan masyarakat menengah ke bawah, namun juga untuk para elit. Sehingga perlu kehati-hatian dalam memutuskan sesuatu.