Brilio.net - Pakeeet!. Teriakan ini seringkali kita dengar di depan pintu. Ya kurir pengantar paket selama masa pandemi kerap menyusuri jalan dan gang-gang sempit untuk mengantarkan pesanan barang. Salah satunya dilakukan Fadjri, kurir PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) yang saban hari berkeliling di bilangan Duri Selatan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat menggunakan sepeda motor.

Fadjri memang bertugas di wilayah padat penduduk ini. Awalnya ia agak kesulitan untuk mencari alamat pemesan di wilayah yang banyak terdapat “gang tikus” ini. Namun, lama-kelamaan ia hafal setiap sudut gang yang ada di wilayah ini.

“Awalnya sulit. Repotnya lagi kalau bawa barang banyak, gangnya sempit. Tapi sekarang sudah hafal lah. Lagian keseringan sih mengantar pesanan kepada orang yang itu-itu juga,” kisah Fadjri kepada Brilio.net, belum lama ini.            

Selama pandemi, frekuensi pengantaran barang yang dilakukan Fadjri jauh lebih sering ketimbang masa sebelum pandemi. Hal ini tidak lepas dari perubahan budaya belanja masyarakat yang kini banyak mengandalkan platform digital melalui e-commerce atau marketplace.      

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Karena itu jasa pengantaran barang (logistik) menjadi layanan penting selama pandemi COVID-19. Artinya, perusahaan logistik memainkan peran unik. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan menjadi bagian utama dari pemulihan ekonomi.

Penyambung tangan UMKM

Kurir logistik © 2020 brilio.netSetiap hari Fadjri harus menyusuri jalan sempit untuk mengantarkan barang pesanan konsumen (@yans_brilio)

Di awal pandemi pun, perusahaan logsitik menjadi salah satu layanan yang diandalkan mengantarkan pengiriman kebutuhan medis seperti Alat Pelindung Diri (APD). Kini, di masa new normal, perusahaan logistik menjadi “penyambung tangan” bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) saat mereka menyesuaikan operasi bisnis yang kini mengandalkan platform digital dalam pemasaran. Sektor logistik membantu memastikan arus barang baik lokal maupun global.

Saat pandemi merebak, banyak orang tersadar, betapa perusahaan logistik berperan sangat signifikan dalam kebutuhan rantai pasokan. Satu gangguan kecil saja dalam dalam jaringan yang kompleks pada perusahaan logistik, dapat berdampak besar bagi bisnis selama masa yang tidak pasti ini.

Misalnya saja jika Fadjri berhalangan mengantarkan pesanan konsumen, berapa banyak barang yang tertunda sampai ke tangan konsumen. Bayangkan jika barang tersebut benar-benar dibutuhkan saat itu juga. Itu dari sisi bisnis ke konsumen. Lantas, bagaimana jika bisnis ke bisnis. Barang yang seharusnya digunakan untuk menjalankan produksi, ketika tertunda pengirimannya, berapa besar kerugian yang ditimbulkan.          

Karena itu, saat ini perusahaan logistik tak hanya dituntut lincah, fleksibel dan efisien, tapi juga harus cerdas menghadapi situasi dan perubahan yang terjadi. Saat dunia berjuang keras menahan penyebaran virus dan dampak ekonominya, pengamanan logistik muncul sebagai prioritas. Tak heran jika saat ini banyak perusahaan logistik mengumumkan langkah-langkah untuk melindungi karyawan mereka dan menyesuaikan operasi bisnis, termasuk menebar kebaikan.  

Salah satunya dilakukan JNE yang akhir November lalu genap berusia 30 tahun. Pada peringatan tiga dekade beroperasi, perusahaan yang memiliki tagline #connectinghappiness ini menekankan pentingnya berbagi kebahagiaan di tengah kondisi sulit seperti sekarang.       

“Bukan hanya tentang pengiriman paket, namun dalam berbagai aspek di setiap kehidupan masyarakat yang menjadi perhatian utama perusahaan,” ujar Presiden Direktur JNE M Feriadi Soeprapto saat peringatan 30 tahun JNE secara virtual live di Megahub JNE, Kota Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu.  

Berbagi kebahagiaan

Dalam peringatan ini, JNE mengusung tema “30 Tahun Bahagia Bersama”. Berbagai program dilakukan untuk mengejawantahkan tema #jne30tahun. Salah satunya dengan menggratiskan pengiriman penanganan Covid-19. JNE juga menggelar program Hari Bebas Ongkos Kirim (Harbokir) selama dua hari pada pada 26—27 November 2020.

Selain itu, lewat kampanye #30tahunbahagiabersama, perusahaan ini juga berbagi kebahagiaan dengan sejumlah lembaga seperti Ruang Guru dengan mendonasikan internet dan komputer gratis bagi anak yatim yang harus belajar daring selama pandemi. Perusahaan ini juga mendonasikan 1.000 Alquran ke berbagai daerah di Indonesia dengan menggandeng Baznas, serta membantu kaum dhuafa lain. “Tagline ‘Bahagia Bersama’ dapat bermakna mengantarkan kebahagiaan ke seluruh Indonesia dan memberikan manfaat terhadap bangsa mau pun negara,” ujar Feriadi.

Selama ini #jne dikenal dengan berbagai produk layanan andalan di antaranya Regular (REG), Ongkos Kirim Ekonomis (OKE), Pesanan Oleh-Oleh Nusantara (Pesona), Jesika (Jemput ASI Seketika), serta Yakin Esok Sampai (YES). Hanya saja untuk layanan YES sempat dihentikan beberapa waktu lalu untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. Namun per 2 Desember 2020, layanan ini sudah kembali diaktifkan.

Tentu saja, selain berbagi kebahagiaan dengan konsumen, perusahaan ini juga memperhatikan keselamatan pekerja, khususnya para Ksatria dan Srikandi JNE di masa pandemi. Terlebih bagi para Kstaria seperti Fadjri yang setiap hari harus mengantarkan barang. Sangat rentan terpapar Covid-19. Sementara ia harus memastikan barang yang diantar sampai ke tangan konsumen.  

Sebagai pekerja garis depan perusahaan logistik, Fadjri pun selalu menerapkan protokol kesehatan seperti selalu menggunakan masker. Bagi Fadjri, mengantarkan barang bukan sekadar menyampaikan pesanan konsumen, tapi juga berbagi kebahagiaan.        

(brl/red)