Brilio.net - Pernikahan merupakan impian setiap orang untuk menuju kehidupan yang lebih luas lagi. Setiap orang memiliki rencana pernikahan yang sesuai impian. Ada yang ingin menikah super megah atau konsep intim yang hanya dihadiri oleh orang terdekat saja.

Namun, munculnya virus corona Covid-19 ini merubah segala rencana pernikahan yang sudah dibuat. Calon pengantin harus merelakan penundaan pesta pernikahan dalam beberapa waktu karena adanya penerapan social distancing untuk menghindari keramaian. Kendati demikian, tidak sedikit juga pasangan yang tetap menjalani pernikahan saat pandemi meskipun hanya dihadiri oleh keluarga inti. Terlebih saat masih masa-masa new normal seperti sekarang ini.

Rupanya, menikah di saat pandemi tak selamanya buruk. Financial Planner Specialist, Prita Ghozie mengatakan bagi pasangan yang berencana untuk menunda pernikahan saat pandemi, sebaiknya tetap dilakukan meskipun hanya dihadiri beberapa orang saja. Hal itu justru akan lebih fokus pada esensi pernikahan itu sendiri.

"Jadi menikah saat pandemi bukan menunda menikah, tapi ambil esensinya dari pernikahan itu sendiri khidmatnya," ujar Prita dalam diskusi webinar Bintaro Jaya High Rise (BJHR), baru-baru ini.

Prita mengatakan banyak keuntungan yang bisa didapat ketika menikah di tengah pandemi. Salah satunya bisa mengalokasikan keuangan yang harusnya untuk pesta pernikahan, bisa digunakan untuk investasi.

Loading...

Ia mengatakan sebuah data menyebut bahwa biaya pernikahan paling sederhana dengan jumlah undangan 1.000 orang paling minimal membutuhkan budget hingga Rp 500 juta. Sedangkan untuk pernikahan yang megah dengan jumlah undangan yang sama, maka bisa memakan budget paling sedikitnya Rp 2 miliar atau lebih.

"Artinya penghematan ini bisa dijadikan sebagai sarana kita investasi, mau dialokasikan atau tidak," jelasnya.

Prita juga mengatakan bahwa kehidupan setelah menikah adalah yang paling berat dari sisi keuangan. Apalagi melihat tidak semua orang memiliki pekerjaan untuk dijadikan tabungan simpanan yang digunakan sewaktu-waktu.

"Banyak orang bekerja tapi nggak punya tabungan. Gaji setiap bulannya hanya habis untuk kehidupan dalam sebulan ke depan. Jadi dengan penghematan biaya menikah ini, uangnya bisa ditabung atau membeli sesuatu untuk investasi," tutup Prita.