Brilio.net - Nining Suryati, guru honorer di Sekolah Negeri Karyabuana, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Banten harus tinggal seatap dengan toilet sekolah tempatnya mengabdi. Sudah sejak dua tahun terakhir, Nining terpaksa membuat rumah di toilet sekolah. Rumah tersebut terbuat dari triplek dengan kamar tidur dan dapur yang berbatasan langsung dengan WC guru dan siswa.

Setiap hari, Nining membersihkan toilet sekolah agar tak ada bau pesing yang menyengat. WC tersebut sehari-hari masih digunakan oleh guru dan siswa SDN Karyabuana 3 tersebut. Nining terpaksa membangun rumah di toilet sekolah tersebut lantaran tempat tinggalnya roboh karena termakan usia. Dirinya membangun rumah di tempat tersebut karena tak memiliki tempat lagi untuk tinggal.

Upah sebagai guru honorer membuatnya tak dapat mengontrak atau membuat rumah yang lebih layak. Kendati demikian, di tengah keadaannya yang sulit tersebut, Nining tetap menjalankan tugasnya sebagai tenaga pengajar di SDN Karyabuana 3.

Dengan penghasilan yang tak seberapa, Nining berhasil menyekolahkan sang anak hingga tamat SMA dan bekerja di Jakarta. Sementara itu, anak keduanya masih mengenyam pendidikan di Ponpes Darul Ulum di Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Dilansir brilio.net dari berbagai sumber pada Rabu (17/7), berikut 4 fakta Nining Suryati, guru honorer yang tinggal di toilet sekolah.


1. Gaji Rp 350 ribu sebulan.
Dikutip dari liputan6.com, sebagai guru honorer, Nining menerima upah sebesar Rp 350 ribu setiap bulannya. Pendapatan ini dibayarkan setiap tiga bulan sekali. Dengan kondisi keuangan yang demikian, membuat Nining tak sanggup untuk mengontrak rumah. Bahkan untuk biaya hidup sehari-hari, dirinya juga mengaku masih kekurangan.

Sang suami, Eby (46) hanya pekerja serabutan yang penghasilannya juga tak menentu. Sementara itu, Nining berharap dirinya dapat memperoleh kenaikan gaji karena sudah mengabdi sebagai guru honorer selama 15 tahun.


2. Bergelar sarjana dan belum diangkat PNS.
Nining Suryati menjadi tenaga pengajar untuk siswa kelas satu SD. Dirinya mengampu seluruh mata pelajaran untuk siswa. Sebelumnya, Nining pernah berkuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten.

Namun dirinya tak melanjutkan dan berhenti di semester empat. Nining Suryati pun melanjutkan pendidikan S1-nya di Universitas Terbuka. Dirinya mengejar gelar S1 dengan harapan dapat diangkat menjadi PNS.

Kendati demikian, harapannya menjadi PNS seolah pupus. Pasalnya, meski telah memiliki gelar sarjana, Nining Suryati terbentur masalah usia yang sudah menginjak 44 tahun.

"Merasa putus asa karena pemerintah nggak ada kebijakan buat saya (di angkat menjadi PNS). Putus asa usia sudah tua, bagaimana selanjutnya kalau nggak ada perhatian dari pemerintah," ujar Nining.


3. Pihak sekolah sempat tak izinkan tinggal di toilet.
Pihak SDN Karyabuana 3 mengaku sudah melarang Nining untuk mendirikan rumah seatap dengan toilet sekolah. Pihak sekolah hanya memberikan izin Nining untuk mendirikan rumah di area sekolah yang masih kosong, tidak berdampingan langsung dengan toilet. Kendati demikian, pihaknya terpaksa mengizinkan Nining membuat rumah di sana karena rumah sebelumnya telah roboh.

"Sebenarnya sudah ditolak baik dari komite, kepala sekolah menolak (bangun rumah) di sana. Namanya WC mengganggu juga. Terpaksa mengizinkan dengan direnovasi, tambah ruang," kata Encep Hadikusuma, Sekretaris Camat (Sekmat) Cigeulis.


4. Akan dibuatkan rumah.
Menindaklanjuti Nining yang tinggal satu atap dengan toilet, pihak kecamatan akan membuatkan rumah di tanah kosong sebelah sekolah. Bagian depan rumah rencananya akan dibangun warung untuknya berjualan.

Sementara itu, bagian belakang akan dibuat kamar. Pembuatan rumah untuk guru honorer yang telah mengabdi selama 15 tahun inipun akan dikerjakan secara swadaya dengan dana iuran.