×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Media online gencar bertumbuh, mampukah koran bertahan?

0

Serius

Media online gencar bertumbuh, mampukah koran bertahan?

Di era canggih seperti ini, masih adakah yang mau membaca koran?

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

cherry kari

03 / 09 / 2018 11:58

Tergantung dengan apa yang didefinisikan sebagai media cetak dan ‘bertahan’.

Surat kabar (biasanya suka ada yang protes kalau saya bilang koran, padahal sebenarnya ya tidak salah juga) sekarang justru banyak didistribusikan lewat internet, entah melalui aplikasi kembangan media, penyedia pihak ketiga seperti S Lime yang hanya bisa dibaca in-app, atau pembelian melalui website yang outputnya .pdf.

Tapi itu surat kabar.

Beritanya sama, visualnya sama, layoutnya sama (kecuali untuk yang model interaktif), dan yang terpenting, tim redaksinya sama.

Jadi sebenarnya batas antara berita cetak dan online itu sekarang benar-benar tidak jelas.

Loading...

Pembedanya, bagi saya, paling terasa di kurasi berita. Situs berita mengejar SEO dan traffic, jadi banyak yang sifatnya seperti tempat sampah dengan tumpukan informasi yang berantakan dan sepotong-sepotong. Informasinya tidak utuh. Kalau Anda orang media, pasti familiar dengan istilah running news—berita tidak akan bisa benar-benar utuh, jadi pemberitaan dilakukan seiringan dengan peristiwa terjadi karena mengejar kecepatan keterbacaan.

Surat kabar, yang dulunya tujuannya untuk berita harian, jadi punya posisi tidak jelas antara situs berita dan majalah, tetapi masih punya kekuatan dengan kurasi berita harian.

Banyak perusahaan media mulai mengalihkan fokus surat kabar untuk memberikan unique selling proposition baru. New York Times, contohnya, sekarang tidak lagi menerbitkan berita-berita harian hard news dalam surat kabarnya, tapi malah mulai mengangkat berita-berita ringan yang dikurasi dengan periode yang lebih cepat daripada majalah.

Dan semua konten itu tetap didistribusikan secara lebih luas menggunakan internet sebagai medium. Biasanya, perusahaan media akan menawarkan model berlangganan bundling antara produk online dan cetaknya untuk mengangkat penjualan cetak.

Jadi kalau ditanya apakah media cetak model surat kabar bisa bertahan, tentu saja bisa, tapi segmentasi dan identitasnya mungkin berubah seiring dengan kecakapan perusahaan membaca pasar. Internet, sebagai sebuah platform pemersatu konten, tentu saja tidak bisa dihindarkan dari masa depan media cetak.

Tetapi jujur saja sih, kalau menurut saya, memang perlu sebuah reformasi besar-besaran di industri media. Penjualan surat kabar itu sungguh tidak menguntungkan kalau masih dibebankan di jumlah cetak, belum menghitung biaya distribusi. Akan lebih efektif kalau newsroom media cetak dan online dijadikan satu, surat kabar dikembangkan sebagai produk kurasi eksklusif yang disesuaikan minat pembaca (mungkin model agregator begitu menarik), dan majalah untuk liputan khusus dan versi kompilasi eksklusifnya. Hanya saja, bagian surat kabar masih menampung jurnalis yang jumlahnya luar biasa banyak dan biasanya isinya jurnalis-jurnalis senior—jadi cukup sulit untuk melakukan inovasi.

 






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red