×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Kelelawar, virus Corona, dan manusia

0

N/A

Kelelawar, virus Corona, dan manusia

Foto: Salmar dari Pixabay

COVID-19 sedang menggemparkan kita saat ini dan telah mewabah di Indonesia. Reservoir virus ini diduga berasal dari kelelawar. Benarkah?

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Husni Mubarok

18 / 03 / 2020 17:55

Virus Corona terbaru dengan nama nCov-19 atau COVID-19 sedang menggemparkan kita saat ini. Virus tersebut diidentifikasi pertama kali di Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019. Virus ini telah mencapai Indonesia dan telah menginfeksi lebih dari 100 orang.

Beberapa penelitian menyebutkan, virus ini secara genetik ternyata memiliki kekerabatan lebih dekat dengan beberapa jenis virus serupa yang berasal dari kelelawar. Kebiasaan masyarakat Wuhan yang memakan sup tradisional kelelawar juga mendukung spekulasi bahwa daging kelelawar yang dimakan inilah sebagai penyebab merebaknya wabah ini.

Kelelawar telah lama dikenal sebagai reservoir penyakit zoonosis yaitu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya akibat organisme patogen. Sementara itu, reservoir itu sendiri adalah hewan, tumbuhan atau benda sebagai sumber penularan penyakit tertentu atau tempat hidup organisme penyebab penyakit zoonosis.

Hal tersebut yang kurang dipahami oleh masyarakat. Beberapa masyarakat di Indonesia masih menganggap kelelawar sebagai santapan yang lezat dan obat yang mujarab untuk penyakit tertentu. Padahal hal tersebut belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Satu yang pasti bahwa kelelawar merupakan 'biang' dari berbagai organisme patogen, termasuk virus Corona.

Kelelawar dan Corona.

Loading...

Sebutan kelelawar sebagai 'biang' virus Corona dirasa benar adanya. Beberapa tipe virus dari keluarga Corona (Coronaviridae) diketahui berasal dari kelelawar. Virus Corona tersebut menyerang hewan ternak dan juga manusia.

Beberapa contohnya virus Corona PEDV dan SADS-CoV yang menyerang babi berturut-turut berasal dari spesies kelelawar Scotophilus kuhlii dan Rhinolophus spp. Sedangkan virus Corona SARS-CoV dan MERS-CoV yang menyerang manusia berturut-turut berasal dari spesies kelelawar Rhinolophus spp. dan Taphozous perforatus, Rhinopoma hardwickii, serta Pipistrellus kuhlii.

Berbeda dengan tipe virus yang menyerang babi, kedua virus Corona yang menyerang manusia terlebih dahulu 'melompat' ke hewan lain seperti musang sawit Asia dan unta. Beberapa virus lain dari kelelawar seperti virus Ebola 'melompat' melalui gorila dan simpanse, virus Nipah melalui babi, virus Hendra melalui kuda dan virus Marburg melalui monyet hijau Afrika.

Meskipun virus tersebut 'melompat' terlebih dahulu dari kelelawar ke hewan lain, ternyata masih tetap sangat ganas dan mematikan saat sampai ke manusia. Hal tersebut semestinya menyadarkan kita bahwa kontak langsung dengan kelelawar seperti menjadikannya sebagai makanan dapat meningkatkan risiko yang jauh lebih besar terhadap berbagai virus yang berasal dari kelelawar, terutama virus Corona.

Kelelawar dan kita.

Banyak di antara kita yang belum mengenal betul kelelawar. Kelelawar secara garis besar terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok kelelawar pemakan buah (Megachiroptera) atau biasa dikenal dengan Codot, Kalong dan sebangsanya, serta kelompok kelelawar pemakan serangga (Microchiroptera) atau dikenal dengan nama Kampret.

Kelelawar buah dan serangga dapat dibedakan berdasarkan ukuran dan bentuk hidung maupun telinga. Microchiroptera berukuran lebih kecil dan memiliki bentuk hidung dan telinga yang khas. Spesies kelelawar yang diketahui sebagai reservoir beberapa virus Corona yang telah disebutkan sebelumnya termasuk dalam kelompok Microchiroptera. Namun, bukan berarti Megachiroptera tidak menjadi reservoir virus yang mematikan; Virus Nipah, Hendra dan Ebola berasal dari kelelawar kelompok ini.

Ketika populasi manusia berkembang dan terjadi perubahan sosial, kontak manusia dengan satwa liar akan terus meningkat. Hal tersebut akan meningkatkan risiko munculnya virus zoonosis, termasuk virus Corona terhadap kesehatan manusia dan hewan.

Kita tahu bahwa Tiongkok memiliki populasi manusia terbesar di dunia. Hal tersebut dapat dirasa wajar bila terjadi kontak dengan satwa liar, termasuk kelelawar. Indonesia memiliki jumlah penduduk yang tidak kalah besar, oleh sebab itu kewaspadaan kita untuk kontak dengan satwa liar harus lebih diperhatikan.

Berdasarkan kasus Corona yang sedang mereka saat ini, seharusnya penelitian ekologis dan epidemiologis untuk mengidentifikasi perubahan lanskap dan praktik manusia yang dapat memungkinkan virus Corona untuk 'keluar' dari kelelawar juga sangat diperlukan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Sebenarnya kelelawar sangat penting dalam kehidupan kita. Mereka berperan penting dalam penyebaran biji dan penyerbukan tumbuhan untuk kelangsungan hidup manusia. Sehingga, jangan sampai peran tersebut menjadi tertutupi dengan suatu kejadian mematikan dan pada akhirnya manusia menyalahkan kelelawar atas kejadian tersebut, padahal semua itu terjadi akibat keteledoran dan ketidaksadaran kita. 






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red