×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
5 Alasan mengapa film Dilan cenderung dipaksakan

0

Film

5 Alasan mengapa film Dilan cenderung dipaksakan

Beberapa tidak sesuai dengan imajinasi yang ditimbulkan saat membaca versi novelnya.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

MOCH. MARSA TAUFIQURRAHMAN

29 / 01 / 2019 13:57

Para pencinta Dilan dan Milea sebentar lagi akan temu kangen dengan hadirnya film Dilan 1991 nanti. Film Dilan 1991 merupakan kelanjutan dari Dilan 1990. Nah, sebelum kita menyaksikan Dilan 1991, kita sedikit bernostalgia dulu dengan Dilan 1990 lalu. Menurut penilaian saya, film Dilan cenderung terlihat dipaksakan dan beberapa tidak sesuai dengan imajinasi yang ditimbulkan saat membaca versi novelnya.

Berikut 5 alasan mengapa film Dilan cenderung terlihat dipaksakan versi saya yang dikolaborasikan dengan pendapat penulis keren ‘Bung’ Fiersa Besari beserta warganet lainnya.

1. Pemeran Dilan.

Iqbal dalam Film Dilan

Awalnya banyak warganet yang kaget, kok bisa sih yang memerankan si Dilan dedek itu? Banyak ketakutan-ketakutan yang muncul, takut imajinasi yang terlukis terhadap sosok Dilan saat membaca versi novelnya harus hancur saat diperankan si dedek. Kok maksa banget ya, kenapa sih nggak yang lain?

Loading...

Namun ternyata, di luar dugaan, Iqbal Ramadhan mematahkan keraguan mayoritas warganet, termasuk saya sendiri. Iqbal ternyata sangat pas memerankan Dilan. Mungkin karena film ini ditangani langsung oleh penulis aslinya, yakni Pidi Baiq alias Surayah.

 

2. Product placement yang tidak sesuai dengan zamannya.

5 Alasan mengapa film Dilan cenderung dipaksakan

Diceritakan bahwa adegan tersebut terjadi pada tahun 1990, namun masih ada bahkan banyak hal-hal milenial yang ikut ke dalam frame, product placement yang tak sesuai dengan zamannya, seperti kursi sofa yang terlihat sudah modern, kompor gas, gas melon, botol saus kecap di tukang bakso yang modern, padahal tahun segitu pakainya botol kaca.

Dan betapa hampir tidak ada benda-benda era 90-an yang mencolok kecuali mobil, motor dan telepon koin. Padahal bisa saja ditambahkan kaset dan TV cembung. Bayangkan tahun segitu, rambut cewek-cewek sudah pada badai, udah kenal sama curly, udah pake blush on ke sekolah, pake mascara, keren beut. Bahkan si Rati dan Rani yang udah pake catokan, andaikan di-make up agak polos udah persis tahun 90-an kali ya.

Ada lagi, terlihat plat mobil tertulis 2022, sepele sih, tapi ini fatal sebenernya, penampakan gorengan dan settingnya tidak sesuai dengan zamannya.

 

3. Tampilan film yang kurang pas.

5 Alasan mengapa film Dilan cenderung dipaksakan

Memang sih cerita di film ini tersampaikan dengan baik, tapi ada yang terasa janggal, yakni tampilan visualisasi film. Color grading terlihat belang, green screen yang kentara, green screen saat ke bulan, adegan bunda dalam mobil, berasa nonton film naga-nagaan ala-ala sinetron khas Indonesia. Perpindahan scenes pun cenderung terlihat kasar. Ya, walaupun terlihat mengganjal, namun ini masalah teknis saja. 

 

4. Hilangnya kekuatan karakter penting yang terdapat pada versi buku.

5 Alasan mengapa film Dilan cenderung dipaksakan

Walaupun beberapa sesuatu dari buku terkesan dipaksakan untuk ditampilkan dalam film ini, namun ternyata ada beberapa hal yang juga hilang dan tidak ditampilkan ke dalam film. Misalnya karakter pendukung seperti Wati, Piyan, dan Anhar yang dikenal sangat kuat dalam versi bukunya, namun dalam versi film karakter di sekitar Dilan dan Milea kurang begitu nyata. Sehingga karakter pendukung yang sebenarnya mewarnai novel Dilan seperti kurang terasa kehadirannya.

 

5. Menjadikan Dilan sebagai sosok idola baru.

5 Alasan mengapa film Dilan cenderung dipaksakan

Kalau sebelumnya ada Rangga di Ada Apa Dengan Cinta, Nathan di Dear Nathan, terakhir ada Fahri di Ayat-ayat Cinta, dan kali ini muncul lagi idola musiman pemudi bahkan pemuda Indonesia, yakni Dilan. Memang sih gombalan-gombalan Dilan kepada Milea sangat terlihat begitu manis, bahkan saya sebagai cowok terlihat senyum-senyum sendiri melihatnya. Dilan seperti mengajak nostalgia kembali kepada masa cinta monyet zaman SMA.

Anak SMA di setiap zaman memang memiliki idola masing-masing, seperti mengidolakan Dora, Goku, dan Naruto. Tapi begitu lucu jika generasi sekarang ingin menjadi Dilan, mau diapakan? Ah, memang begitu adanya.

Oke itu saja beberapa pendapat saya yang dikolaborasikan dengan pendapat penulis keren, 'Bung' Fiersa Besari beserta warganet lainnya. Selamat menanti film Dilan 1991, semoga lebih menarik ya dari film sebelumnya. Dan tentunya jangan lupakan kalimat "Jangan rindu. Ini berat. Kau tak akan kuat. Biar aku saja".





Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red