×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
5 Alasan kita harus khawatir pada Star Wars: The Rise of Skywalker

0

Film

5 Alasan kita harus khawatir pada Star Wars: The Rise of Skywalker

Star Wars Episode IX akan tayang akhir tahun ini. Trailernya yang sudah dirilis beberapa waktu lalu menuai berbagai reaksi.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Hadi Alkatiri

02 / 05 / 2019 14:55

"Sesulit apa sih untuk membuat film Star Wars yang keren?" adalah sesuatu yang sudah geram fans tanyakan terus menerus sejak 1999. Jawabannya yang sebenarnya; sangat sulit. Setelah The Force Awakens yang sepertinya telah berjalan kearah yang baik, franchise ini dengan The Last Jedi-nya tiba-tiba malah berada di sebuah posisi yang sulit meskipun masih dalam batasan segmented. Bahkan film itu cukup disukai kritikus di beberapa situs film populer seperti Rotten Tomatoes dan Metacritics. Namun tetap saja ada Sebuah kombinasi dari mulai reaksi keras para fans, kekecewaan terhadap trilogi sebelumnya yang kembali, hingga sebuah proses kreatif yang sembarangan yang mana telah menempatkan The Rise of Skywalker di posisi yang tidak memungkinkan. Nah, ini dia beberapa alasannya.

5. Tidak ada visi atau tujuan pasti dari cerita di trilogi kali ini.

Rian Johnson

Seberapa pun kalian suka The Last Jedi atau pun membencinya, keduanya mungkin karena alasan yang sama, sang sutradara, Rian Johnson. Ia menghabiskan 150 menit film dengan menekan dan memaksakan setiap keping plot yang telah kita kenal di The Force Awakens ke dalam ruang hampa yang dingin. Si "Big Bad" yang dulunya terlihat mengerikan, mati dengan mudah. Silsilah keluarga Rey, tidak menarik. Luke muncul dari peristirahatan Jedi untuk kemudian menjadi petarung keren ala John Wick? Enggak juga tuh. Saya sebenarnya terkejut Johnson tidak menghidupkan kembali Han Solo dan mengungkapkan kalau Chewbacca selama ini bukan apa-apa selain imajinasi yang diciptakan akibat trauma masa kecil yang pernah dialaminya dari dilecehkan pamannya hingga ibunya yang bunuh diri di hadapannya (ok, kalau itu lebay).

Masalahnya adalah bermain dengan ekspektasi penonton adalah sesuatu yang secara harafiah film dengan kisah hebat harus lakukan, The Last Jedi bukanlah sebuah kisah pamungkas, itu adalah bagian tengah dari kisah seseorang. Itu artinya J.J. Abrams, yang akan menyutradarai Episode IX, sekarang harus menyatukan kembali ketidaksesuaian antara Episode VII dan VIII tanpa dengan mudahnya melempar seluruh pemain menjadi karakter yang akan dimatikan. Ini bukanlah rencana semula.

Loading...

Sebenarnya selain menulis The Force Awakens, Abrams juga sudah menulis sample script dari episode VIII dan IX, agar ketiga bagian kisah menjadi satu kesatuan cerita yang bertautan dengan baik, dengan kisah karakter yang jelas. Abrams mungkin tidak mengharapkan sutradara selanjutnya untuk mendeskripsikan secara sempurna hingga gaya rambut Rey, tapi setidaknya harus ada semacam roadmap. Tetapi, saat Rian Johnson mengambil alih The Last Jedi, dia memulai semuanya dari kertas kosong. Penulisan ulangnya bahkan bocor ke The Force Awakens, seperti misalnya Abrams pernah memintanya untuk mengirim R2-D2 untuk misi menemukan Luke Skywalker ketimbang BB-8 agar R2 bisa kemudian memutar kembali pesan "only Hope"-nya Leia. 

Sekarang Abrams kembali jadi yang berwenang, tapi roadmap awal itu pada dasarnya sudah tidak berguna lagi. Apakah Abrams akan tetap melanjutkan dengan semua perubahan Johnson, atau akankah dia melakukan "pembenahan" dan mengembalikan Trilogi ini pada visi originalnya? Abrams mungkin akan menciptakan segala macam twist yang buruk sekali, seperti "becanda deng! Kylo Ren itu bohong soal orang tua Rey, dan sebenarnya Snoke menanamkan jiwanya ke BB-8 jadi dia nggak bener-bener mati," atau "Surprise! para pemberontak yang melarikan diri itu kebanyakan tidak hancur. Mereka sebenarnya punya semacam kapal luar angkasa yang tersembunyi di sebuah planet pasir #74, dan mereka semua selamat," atau "Hantu force-nya Luke bisa berfungsi layaknya masih hidup, jadi kematiannya adalah hanya alasan aja supaya lebih keren!". Tentu saja kita tidak menginginkan semua itu terjadi. 

 

4. Tidak ada cara yang baik untuk mengakhiri kisah Leia.

Carrie Fisher dalam poster promotion The Last Jedi

Sebesar apapun arahan Johnson dalam merusak visi Abrams untuk Trilogi ini, sebenarnya rintangan terbesar dalam narasi ini adalah cerita Leia. Kematian Carrie Fisher pada 2016 secara dramatis telah merubah rencana Disney untuk Trilogi ini, memaksa mereka untuk merombak kembali naskah. Episode IX seharusnya merupakan jatahnya Leia, karena dengan cara yang sama Episode VII adalah bagian Han Solo dan VIII adalah bagiannya Luke. Kalau sudah begini bagaimana coba? 

Jadi rencananya, mereka akan "menghidupkan" kembali Carrie Fisher lewat footage yang tak terpakai yang telah direkam Abrams untuk Episode VII. Dan itu cukup aneh. Saya sebenarnya lega karena mereka tidak mencoba untuk secara digital membuat ulang dirinya seperti yang mereka lakukan pada "dead-eye" Peter Cushing di Rogue One. Tetapi, akan menjadi jenis footage seperti apakah ini? Apa akan seperti full scene dengan dialog? Keadannya tidak sama seperti Paul Walker. Jika kalian sempat berpikir demikian, setidaknya dia telah melakukan beberapa adegan untuk Furious 7, dan para crew hanya tinggal mencocokkannya saja dengan bantuan adik Paul Walker yang dilapisi CGI yang hasilnya cukup menyeramkan jika kalian tanya saya. 

Masalahnya adalah kita di sini bicara mengenai klip-klip dari "gudang" untuk film yang totally berbeda dan akan diterapkan untuk membuat karakter paling epik dan paling ikonik dalam sejarah pop culture dunia. Semoga mereka belum membersihkan recycle bin-nya.

 

3. Tidak bisa dipungkiri mereka akan mengambil berbagai risiko.

Solo: A Star Wars Story

Sulit untuk terlalu keras menekankan seberapa berbeda pemandangan kali ini dari saat melanjutkan Episode VII. Kita melihat reaksi yang santer (dan beberapa sangat kejam) ditujukan pada The Last Jedi, diikuti dengan film origins Han Solo yang menyedihkan di Box Office. Untuk pertama kalinya orang kehabisan uang untuk menonton Star Wars di bisokop. Itu tidak pernah terjadi sebelumnya bahkan untuk film kartunnya yang paling tidak disukai sekalipun! Itu seharusnya merupakan kejutan luar biasa bagi sistem yang telah berjalan selama ini. Ini bukan soal satu film di satu franchise saja; ini soal keseluruhan film Disney yang telah rilis selama berdekade-dekade, dan miliaran lagi yang akan datang hingga perusahaan ini bangkrut. Kalau penonton sudah mulai menyerah secepat ini maka akan sulit ke depannya.

Artinya mereka tidak bisa tenang dulu hingga Episode IX menghasilkan setidaknya $2 miliar dan memulihkan kembali kepercayaan semua orang pada seluruh tim kreatif franchise ini. Itu artinya sekarang bukan saatnya lagi berinovasi atau lebih tepatnya lagi bereksperimen yang tentunya mengambil lebih banyak risiko. Saya tidak akan terkejut jika dalam usaha menyedihkan mereka untuk menegakkan kembali Star Wars, Disney akan mengambil cara aman dengan membuat secara tidak langsung the boring remake Return Of The Jedi. Itu sebabnya mereka kembali menempatkan Abrams pada posisi awal—dia bukanlah apa-apa selain pengurang risiko. The Force Awakens dan reboot the Star Trek pada dasarnya adalah bahasan A New Hope, dan keduanya sama-sama luar biasa sukses. Kita lihat saja nanti apakah trailer episode IX nanti akan menyebutkan mereka sedang membangun sebuah basis starkiller yang baru.

 

2. Tidak ada cara yang bagus untuk menyimpulkan cerita trilogi ini hingga memberikan clue untuk film-film mendatang.

Felicitu Jones dalam film Rogue One

Abrams mengatakan Episode IX akan mengakhiri cerita Skywalker. Film spin-off Star Wars saat ini sedang ditunda, meskipun trilogi yang "tidak berhubungan"-nya Rian Johnson masih bergerak maju. Star Wars tidak bergerak ke mana-mana, bahkan kalau tidak ada yang benar-benar tahu apa yang akan terjadi selanjutnya sekalipun. Dengan semua itu, akhir dari Episode IX akan sangat sulit untuk ditulis.

Return of the Jedi terasa seperti akhir yang benar-benar klimaks untuk trilogi pertama (akan butuh beberapa dekade sebelum kita mengetahui kalau semua yang mereka lakukan adalah memaksa kekaisaran untuk mengubah citra dirinya sendiri), dan Revenge Of The Sith membungkus prequel dengan klimaks pula dan mengantarkan kita dengan nyaman menuju A New Hope. Tapi bagaimana sih ending episode IX? Film Rian Johnson akan menyertakan "semua karakter baru" dalam pengaturan dimana "semuanya baru", tetapi akankah Disney benar-benar membuat cerita yang tidak pernah menyebutkan Trilogi Sekuel? Kathleen Kennedy mengklaim akan ada lebih banyak cerita dengan karakter sekuel, tetapi Daisy Ridley mengatakan dia sudah selesai bermain sebagai Rey. Kecuali dia tetap membiarkan pintu rumahnya terbuka, kalau-kalau dia berubah pikiran dan atau seseorang menawarkan padanya milyaran dolar beserta pulau pribadi yang berbentuk seperti kepalanya. Tentu itu akan jadi tawaran yang sulit ditolak. 

Intinya di sini adalah bahwa arah waralaba masih sangat sangat terbuka lebar, yang berarti akhir dari Episode IX harus meninggalkan kita para penonton dengan suatu pilihan. Bisakah mereka menyelesaikan cerita yang relatif tanpa tujuan ini dengan cara yang terasa konklusif tetapi juga menyisakan ruang untuk film-film mendatang? Juga, karakter mana yang dapat dibunuh jika tidak ada yang yakin apakah mereka akan dibutuhkan lagi? Jyn Erso yang diperankan Felicity Jones sangat jelas seperti menguap pada ending Rogue One, tetapi Felicity Jones masih memiliki opsi kontrak untuk sekuel yang potensial.

Sekarang mari kita bicara tentang The Dark Knight Rises sebentar. Film itu juga mengemban tugas untuk menyelesaikan salah satu trilogi terepik sepanjang masa sementara ia juga harus bisa mengisyaratkan pada film potensial yang akan datang. Boom! semua orang terpesona. Batman pensiun, tetapi Robin menemukan Batcave dan empat tahun kemudian semuanya hilang. Dan apa yang kita dapatkan adalah Ben Affleck berteriak-teriak mengenai ibunya. Kesimpulannya adalah, DC bisa seenak jidat mereka me-reboot waralabanya kapan pun mereka ingin merusak warisan yang diberikan pada mereka itu, dan orang-orang masih saja akan mengantre untuk menontonnya. Para penonton itu, seringnya mereka kalah judi, tapi mereka tidak pernah berhenti bertaruh, tetapi Star Wars? Star Wars tidak memiliki kemewahan itu. Apa pun yang terjadi dalam film Star Wars tetap menjadi peluru meriam selamanya yang bisa menembak dengan dahsyat atau meledak saat hendak dinyalakan. 

 

1. Film ini ditulis oleh orang yang juga menulis Batman vs Superman dan Justice League.

Chris Terrio memenangkan Oscar untuk naskah asli terbaik

Jika ada satu hal yang saya coba pecahkan di sini, itu adalah mengubah semua kekacauan di atas menjadi film yang koheren dan menyenangkan bahkan meraih prestasi. Satu yang pasti, Abrams tidak bisa melakukan itu sendirian. Ia butuh seorang rekan dengan portofolio penuh dengan film sci-fi blockbuster! Seseorang yang bisa menyeimbangkan kreativitas dan komersilitas! Seseorang yang telah menulis naskah klasik seperti Batman v Superman. 

Chris Terrio memang menulis film buruk, tapi dia juga menulis film yang berhasil menyabet penghargaan film terbaik Oscar, yaitu Argo. Dia bukan penulis buruk sembarangan; jika dia mencoba hal apapun, dia akan mencobanya terlalu keras. Contohnya, ia pernah mengklaim kalau Justice League yang terkenal tolol adalah "the most rigorous intellectual exercise I've had in my writing life." Kalau dia disuguhi dengan sebuah plot yang fokus pada orang yang mengenakan kostum konyol yang sedang menghajar parademons, menekan otaknya hingga mendekati batas, akan menangani kesimpulan dari 42 tahun dari Star Wars mungkin akan membuat dia mengalami aneurysm.

Sejujurnya, nama Terrio terdengar seperti robot penulis naskah yang memahami betul kebutuhan dramatisasi tertentu yang dibutuhkan, tetapi tanpa pengetahuan tentang bagaimana manusia sebenarnya berpikir dan bertindak. Dia sadar kisahnya membutuhkan hubungan antara Batman dan Superman, dan dia seperti mendapat kabar kalau sebagian manusia mencintai ibu mereka, jadi tentu saja kesadaran (yang tiba-tiba) bahwa kedua karakter iconic itu memiliki seorang ibu bernama sama yaitu Martha pun bekerja dengan baik sebagai titik balik emosional. Dia memasang semua angka, dan perhitungannya selesai!

Dia juga bekerja di bawah pemahaman bahwa tidak peduli apa pun pilihan kreatif yang dia buat, separuh dari penggemar tetap akan membencinya. The Last Jedi sepertinya akan membuat hal itu semakin jelas. Jadi, yaa, semoga berhasil dengan hal-hal di atas.

Source





Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red