×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
3 Cara tingkatkan literasi media agar baby boomer tak percaya hoax

0

Serius

3 Cara tingkatkan literasi media agar baby boomer tak percaya hoax

Foto: Thomas Ulrich dari Pixabay

Peningkatan literasi media akan berdampak pada kesadaran diri untuk melakukan pengecekan informasi sehingga penyebaran hoax dapat diminimalisasi.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Suci Marini - Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Jaya

24 / 11 / 2020 13:45

Orang yang lahir pada tahun 1946–1964 sering kali disebut sebagai generasi baby boomer. Baby boomer adalah sebutan untuk bayi–bayi yang lahir pasca Perang Dunia II. Meski baby boomer bukan lagi dominator kelompok demografi di Indonesia, gelombang terakhir dari generasi ini belum pensiun. Oleh karena itu, pembaruan informasi tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Saat ini, informasi tidak hanya didapatkan dari televisi atau radio. Baby boomer juga memperolehnya dari media sosial. Media sosial adalah media online atau dalam jaringan (daring) yang oleh penggunanya dimnfaatkan untuk dapat berbagi, berinteraksi, berpartisipasi tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Tim Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Jaya, ditemukan bahwa aplikasi WhatsApp adalah media yang sering digunakan oleh baby boomer. WhatsApp adalah aplikasi yang terus berevolusi. Tadinya pengguna hanya dapat bertukar pesan, namun saat ini fungsinya bertambah jadi berbagi status melalui satu aplikasi. Sehingga WhatsApp kini dapat digolongkan menjadi media sosial juga.

Baby boomer merupakan salah satu kelompok usia yang intens dalam penggunaan WhatsApp. Akan tetapi pesan WhatsApp tidak dimediasi. Tidak ada moderasi pesan yang dilakukan di platform ini, rantai pesan mudah disebarkan. Sehingga penyiaran pesan faktual dan palsu (hoax) dapat dilakukan tanpa pengawasan. Baby boomer sebagai pengguna sering kali merasa bahwa semua pesan yang didapatkan dari WhatsApp adalah faktual dan kembali menyebarkannya. Padahal faktualitas pesan tidak dapat dinilai, pesan hoax pun dapat menyebar dengan mudah.

Penelitian yang dilakukan oleh Tim Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Jaya menemukan bahwa ada strategi untuk meningkatkan literasi media. Peningkatan literasi media akan berdampak pada kesadaran diri untuk melakukan pengecekan informasi. Sehingga penyebaran pesan hoax dapat diminimalisasi. Berikut langkah–langkahnya:

Loading...

1. Mengecek sumber atau nama yang tercantum di dalam pesan melalui mesin pencari, Google misalnya.

2. Tidak terburu–buru meneruskan pesan yang diterima.

3. Jika terkonfirmasi hoax, maka minta pengirim untuk berhenti meneruskan pesannya.
Langkah mudah ini akan membantu baby boomer untuk memahami pesan yang diterima. Yuk, teruskan!






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red