1. BRILIO.NET
  2. »
  3. Cinta
23 Mei 2017 17:31

Kamu dalam Stoples (1)

Yuk, selami kisah Adrian dan Miss Fox!
foto: Ayudya Ariana

Brilio.net - Hai, Sobat Brilio

Apa kabar? Semoga kamu semua baik dan selalu bahagia, ya.

Eh, Brilio.net mau ngasih sesuatu yang baru nih buat kamu pembaca setia. Yakni penyajian cerita bersambung (cerbung). Konten ini hasil kerja sama brilio.net dengan Storial.co.

Nah untuk cerbung pertama, kami mengambil judul Kamu dalam Stoples karya Ayudya Ariana. Cerita ini terdiri 20 bab dan rencananya akan kami hadirkan selama 10 minggu ke depan setiap Selasa dan Kamis.

Penasaran kisahnya? Yuk, selami kisah Adrian dan Miss Fox sekarang juga!

Sinopsis Kamu dalam Stoples

Adrian Jenaro Riga agak fobia pulang ke rumah orang tuanya. Ia tak membenci ibunya, hanya tak sanggup berada di sana; Adrian si pengkhayal memiliki hobi cloud watching sambil berbicara dengan ‘Putri Awan’ sejak kecil. Hal itu selalu menjadi bahan ledekan Ben, sahabatnya sejak lama yang suka bergaya K-Pop. Ben lalu mengenalkan Adrian pada seseorang yang juga punya kebiasaan mengkhayal di sebuah tempat.

BAB 1

B atau M

Dia sama sekali tidak merindukan rumah.
Diabaikannya ponsel yang terus bergetar di atas meja. Empat kali. Lalu menyusul bunyi pesan masuk, lagi-lagi dari nama yang sama, dari ibunya. Empat SMS thread yang cuma berisi kalimat-kalimat pendek:

Adrian.
Lagi sibuk?
Ini Mama.
Masih simpan nomor Mama, kan?

Setelah membaca sekilas, Adrian hanya menarik napas pendek.

Dalam hati memohon maaf telah menjadi anak durhaka sekelas Malin Kundang sampai harus dipanggil berkali-kali. Dan dia mengucap syukur kemudian; karena empat pesan itu bukan yang bertipe instant—bisa gawat akibatnya—ketahuan sudah dibaca namun nihil reaksi. Sudah pasti kalau dia mati saat ini juga langsung diantar ke depan pintu neraka Jahanam, atau kalau misalkan diberi belas kasihan, mungkin cukup diganjar dengan menjadi batu.

Okay, Adrian menjawab dalam hati. Nanti aku akan telepon Mama. Kalau nggak nanti, mungkin besok, atau lusa. Atau kalau ingat.

Dia pun kembali ke layar iPad, menonton Up, film kesukaannya meski hanya sampai adegan Carl Frederickson dan Ellie bergandengan memandang awan di atas bukit.

Telunjuk Adrian lalu menekan tombol off, adegan favoritnya selesai sudah, hanya sampai situ. Kemudian melepaskan earphone, mengembalikan si kotak persegi putih itu ke posisi stand by, dan memandang langit sore dari jendela ruangan rekreasi kantor di Jameston Tower lantai 17. Pandangannya beralih ke layar Mac yang masih menayangkan artikel tentang cloud watching oleh Gavin Pretor-Pinney, pendiri The Cloud Appreciation Society di situs forthekidinme.com.

Cloud watching is antidote to modern life; “It’s the futility of it that is important.”

“It is because we are so focused on doing to achieve,” he says, “that we need more futile things in our lives.” And according to this society’s manifesto: “clouds are for dreamers and their contemplation benefits the soul. Indeed all who consider the shapes they see in them will save on psycho analysis bills.”

Adrian memandangi bentuk sayap-sayap dari jenis Cirrus yang terbentang di langit biru sorenya. Awan kesukaannya itu membuat dia ingin terbang menjemput bidadari. Lelaki itu menyeringai atas khayalan yang sejak kecil menempel tak mau pergi, seolah ada lem super kuat di antara mereka.

Artikel berikutnya dari FD Poston, Poetry and Cloud Watching—masih dari situs yang sama. Si Guru bahasa Inggris itu membagi rahasianya dalam melakukan cloud watching yang efektif, salah satunya adalah santai dan biarkan pikiran terbang, terbuka dan imajinatif… suddenly the sky fills with dragons morphing into terriers and teddy bears.

Yeah, you right Mr. Poston, Adrian tersenyum kemudian meraih permen kapas putih yang dia beli tadi usai makan siang. Ben tadi mentraktirnya makan steak di restoran western yang terletak di Jameston Tower lantai tiga atas keberhasilannya mendapatkan pin BB sekretaris bos mereka. Di sebelah restoran steak itu ada toko permen, cokelat, cupcake, dan segala macam manisan yang bakalan bikin semua anak kecil mengantre di dokter gigi.

Toko itu bernama Caramella—interiornya cantik dengan kanopi kain bergaris gaya Eropa dengan perpaduan pink, biru muda, kuning, oranye, dan merah. Berada di tempat ini, Adrian seperti masuk surga karena bisa menemukan permen kapas kesukaannya, dan yang terpenting adalah lokasinya dekat! Pramuniaganya juga terlihat tidak kalah cantik dengan barisan angel Victoria Secrets, dan seolah menyapa dengan ucapan, “Selamat datang di Surga!”

Bagi lelaki tukang melamun itu, permen kapas adalah salah satu bentuk kebahagiaan paling simpel, karena gulali itu seperti awan yang bisa dipegang.
Dan saat santai beginilah yang dimaksud FD Poston dalam artikelnya karena sekarang sayap-sayap Cirrus menjelma menjadi lengkungan senyum menyapanya. Adrian tersenyum merespons cinta pertamanya di langit.

Adrian menyukai Cloud watching sejak kecil, tak ada tandingan rasanya bisa berlama-lama memandangi gumpalan putih yang bergerak-gerak ditiup angin ke sana-ke mari, bentuknya pun bisa berubah setiap saat. Waktu kecil dia membuat awan berbentuk mobil Mercy, berganti jadi bentuk kelinci, kucing, atau pesawat terbang, lalu dia bakalan tertawa setelahnya, puas sudah berkhayal dengan kawan imajinernya.

Kebiasaan itu terus mengikutinya sampai sekarang; untuk mengusir sepi, mencari teman bicara atau sekadar mencari gagasan baru. Bianca—temannya di saat menjomblo kalau kata Ben—sudah mati rasa bosannya diduakan oleh awan di langit kala sedang berdua sejak dulu. Si dokter gigi itu lebih baik diam bersabar menunggu sampai jagoannya kembali turun ke bumi.

Waktu kuliah di Singapura, acara kencan kesukaannya adalah piknik di Singapore Botanic Gardens atau pantai sekitar. Cukup bawa sekeranjang kudapan, minuman soda, dan air mineral yang banyak, serta selimut lipat untuk sekadar duduk santai atau berbaring memandangi awan di langit. Beberapa pacar Adrian saat itu, awalnya menganggap sangat romantis, tapi kalau setiap kencan selalu memandangi awan, lama-lama membosankan untuk mereka—lelaki itu selalu hilang di negeri ajaibnya dan tak kembali. Kemudian berakhirlah kisah cinta mereka.

Ben membebani bahu kanan Adrian dengan gulungan kertas tebal. “Wake up you cloud guy! Ini masih waktu kerja! Sudah dapet ide belum buat design-nya DiaitaFood?”
“Damn! Setan jelek! I am working Ben! Lo pikir gue lagi ngapain?” Adrian memandang kesal temannya yang hobi bergaya fashion K-Pop.

DiaitaFood adalah perusahaan makanan dan minuman diet rendah kalori seperti susu, sirop, mentega, mi instan, cookies, madu sampai dengan aneka gula yang diklaim sebagai pemanis anti diabetes dengan merk dagang DiaVit. Rata-rata produk DiaitaFood memang laris di pasaran, terutama bagi para perempuan yang bermimpi memiliki tubuh langsing ideal selamanya.

Produk terbaru yang bakalan mereka luncurkan sebentar lagi adalah madu olesan. Adrian sedang berpikir merancang sebuah wadah madu cair diet yang handy dan praktis, Ben kebagian mendesain cover-nya.

“Terserah deh! Yang penting pas meeting nanti lagi kepala lo itu sudah ada isinya plus bukti nyata mock-up-nya!” seru Ben yang memergoki isi MacBook Adrian. “Semoga tulisan-tulisan itu ngasih ide buat lo!”

Adrian diam saja, malas mendengar temannya di tim desain, malahan memainkan ponsel.

“Eh, mate, gue ingat sesuatu! Elo entar harus ikut. Gue kenal seseorang yang sama anehnya kayak lo,” kata Ben sambil duduk di tepi meja.

“Orang aneh apaan? Dukun? Buat apa, Ben? Gue nggak perlu dukun demi punya pacar! Lagipula gue janjian sama Bianca.” Adrian meyenderkan badan.

“Orang aneh kayak elo harus ada di tempat yang tidak biasa dan berkumpul bersama orang aneh lainnya.” Ben menunjuk muka Adrian dengan pulpen.

“Yah, sebentar aja. Habis itu nggak ada larangan pacaran. Bianca bakalan setia nungguin lo sampai tua, Dri,” Ben lanjut meledek.

Adrian tertawa sekilas mengingat Bianca yang hari ini mengajaknya makan malam.

Si pramuniaga Caramella tersenyum menyapa Adrian dan Ben yang datang kembali. Ini semua ulah Ben. Sebenarnya lelaki berponi samping itu cuma mau menyapa sekretaris si bos yang sedang beli kudapan. Adrian menyeringai lalu menggigiti sebatang Kitkat menyaksikan adegan sahabatnya sedang diacuhkan sang sekretaris.

Ponsel Adrian bergetar, dia hanya memandang sekilas lalu segera membenamkan benda itu ke dalam saku jins.

“Gila! Pacar lo nggak sabaran banget, sih!” Ben menghina seraya menurunkan majalah yang sedang dibacanya setelah si Sekretaris bos pergi seenaknya tanpa memberi perhatian sedikit pun.

Selain menjual kudapan dan aneka kue manis, Caramella juga menyediakan beberapa majalah dan koran terbaru di sudut ruangan.

“Ha ha. Very funny.” Adrian lebih tertarik pada majalah di tangan Ben. “Lo sekarang baca majalah anak-anak? Tumben, biasanya bacaan lo kan isinya perempuan yang irit baju semua, bukan yang gambarnya tupai begitu. Tupai yang nggak seksi sama sekali.”

“Ini bukan sembarang majalah gambar tupai doang, mate. Saudara gue yang bikin ilustrasi cerpen di sini. Keren, kan?” Ben memamerkan gambar-gambar yang dimaksud.
“Oh, hemm, ya, bagus,” komentar Adrian sambil lalu, menyimpan kekaguman di suatu tempat.

Ponsel Adrian bergetar lagi. Mungkin Bianca, pikirnya. Ben mengintip sekilas. Huruf kapital M terpampang di layar.

“Gue pikir nama pacar lo depannya huruf B, bukan M. Itu Mantan maksudnya?”

Adrian melengos meninggalkan Ben. Dibalasnya si inisial M dengan satu pesan singkat:

Nanti aku telepon lagi, Ma. Maaf.

***

Teaser Bab Selanjutnya

Sosok dengan rambut berombak sebahu, hitam mengkilat mirip iklan sampo, dagu tirus, tulang pipi meronanya sedikit menonjol plus alis melengkung indah alami, masih berdiri di samping meja dekat jendela. Dia hanya tersenyum sambil memandangi bergantian dua lelaki di hadapannya.

 

(brl/tin)

Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

Share This Article

To:

Cc:

Subject:

Kamu dalam Stoples (1).
Yuk, selami kisah Adrian dan Miss Fox!
https://www.brilio.net/cinta/kamu-dalam-stoples-1-170522v.html
SEND

WHAT DO YOU THINK

MORE STORIES


Show More Stories


AYO MENANGIN TOTAL 10 JUTA RUPIAH
UNTUK 10 CREATOR PALING KREATIF!

Ikutan SEKARANG!
TOP

Would you like to switch to the English Version?