Brilio.net - Kamu pasti sering mendengar orang omong kalau dua orang lawan jenis berwajah mirip, itu artinya mereka berjodoh. Kata-kata ini bikin baper, deh. Kamu juga? Memangnya bener ya, orang berjodoh itu mirip?

Dilansir brilio.net dari The New York Times, Selasa (23/8), sebuah penelitian sekitar tahun 1987-an menyuguhkan hasil bahwa pasangan awal menikah mulanya nggak merasa mengalami kemiripan khusus satu sama lain. Tapi setelah 25 tahun menikah, kemiripan mulai terlihat walaupun terlihat samar.

Selain itu, penelitian yang sama juga menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat kemiripan wajah, semakin bahagialah pasangan tersebut. Menurut peneliti yang juga psikolog di University of Michigan, Amerika Serikat, Robert Zajonc, peningkatan kemiripan wajah ini merupakan hasil dari saling berbagi emosi selama beberapa dekade.

Tapi nih, buat jombloers jangan kepedean dulu hanya karena merasa wajah gebetan mirip terus yakin doi bakal nerima cinta kamu. Tunggu dulu, cewek mana yang mau sama cowok dekil, rambut acak-acakan dan ketombean?

Perhatikan kembali penampilanmu, terkhusus rambut. Biar kamu jadi jomblo berkualitas, jadi bisa lebih mudah naklukkin gebetan. Kalau pengen rambutmu bersih sehat tanpa ketombean, kamu bisa pakai Clear Men Ice Cool Menthol.

Lanjut ke soal penelitian tadi, dalam studi tersebut orang diberi foto hitam-putih dari wajah random, kemudian diinstruksikan untuk mencocokkan antara pria dan wanita yang paling mirip. Sebanyak 24 foto terdiri dari pasangan yang baru saja menikah, sedangkan 24 lainnya adalah foto pasangan yang sudah sekitar 25 tahun menikah, yang mana sebagian besar diambil pada waktu peringatan perayaan pernikahan perak mereka. Semua pasangan ini tinggal di Michigan dan Wisconsin (keduanya di Amerika Serikat) dan berusia 50 dan 60 tahun pada foto kelompok kedua (usia pernikahan sekitar 25 tahun).

Studi bersangkutan menemukan bahwa pasangan muda hanya menunjukkan kesamaan satu sama lain pada satu kesempatan, alias tak banyak kemiripan. Namun ahli menemukan kemiripan yang pasti di antara pasangan yang telah menikah seperempat abad. Kemiripan itu terlihat dari kerutan dan kontur wajah yang samar namun tetap dapat terlihat, pada pasangan yang telah lama menikah.

Lebih lanjut, Zajonc menyatakan bahwa faktor-faktor seperti diet yang sama dapat berkontribusi dalam kemiripan pasangan. Semisal hasil diet pasangan itu memengaruhi jaringan lemak. Nah, bukti seperti ini ditemukan lebih tampak pada pasangan yang lebih tua usia pernikahannya daripada yang lebih muda.

Zajonc juga menyatakan bahwa orang sering secara nggak sadar meniru ekspresi wajah pasangan mereka dalam urusan empati dan selama bertahun-tahun mereka berbagi ekspresi yang sama dengan wajah yang sama. Dia menduga bahwa berbagi ekspresi wajah dapat mengidentifikasi emosi karena otot-otot wajah memainkan peran mengatur aliran darah ke otak.

Nah, dari sini otak akan melepaskan bahan kimia yang terkait dengan emosi tersebut. Misalnya, saat kamu tersenyum pada pasangan, otot-otot wajah kalian akan berperan mengalirkan darah ke otak, dan otak akan melepaskan neurotransmiter terkait rasa gembira atau semangat. Nah, saat pasanganmu menirukan senyumanmu, dia juga bisa merasakan emosi yang sama sepertimu. Jadi, di sini akan terjalin saling memahami satu sama lain antarpasangan.

Namun, temuan Zajonc dan rekan sempat dibantah oleh Paul Ekman, psikolog dari University of California Medical School, San Francisco, Amerika Serikat. "Pengalaman hidup pasangan selama bertahun-tahun bisa saja dapat mengubah otot dan kerutan pola wajah, yang menyebabkan kemiripan semakin meningkat. Akan tetapi tidak ada alasan untuk percaya bahwa itu ada kaitannya dengan aliran darah ke otak," ujar pria yang ahli dalam bidang otot terkait dengan ekspresi emosional. Pengalaman Ekman sendiri sudah mengidentifikasi konfigurasi khusus lebih dari 100 otot wajah yang membentuk setiap ekspresi emosional.

Pendapat Ekman didukung oleh Louis D'Alecy, profesor fisiologi dan operasi di University of Michigan, Amerika Serikat, yang berkata, "Memang aliran darah di wajah dapat memengaruhi suhu dan darah di otak, tapi sulit dijelaskan bagaimana hal ini akan memengaruhi aktivitas bahan kimia di otak."

Namun begitu, Zajonc berkukuh pada pendapatnya bahwa kemiripan wajah pasangan dipengaruhi otot wajah dan aliran darah ke otak. Hanya saja ditambah pendapatnya bahwa kemiripan itu ditopang oleh kondisi emosional yang sama di antara pasangan tersebut, yang diperkuat dengan efek kedekatan.

Nah, kalau dilihat dari sisi psikologis, orang memang cenderung merasa klik dengan orang lain yang terasa familier dengan diri mereka sendiri. "Ketika kamu melihat wajah orang yang terlihat seperti wajahmu, kamu cenderung percaya lebih dan berpikir bahwa dia bisa kooperatif," kata Tony Little, peneliti di bidang psikologi dari University of Stirling, Skotlandia.

Soal kemiripan dengan pasangan, ternyata bukan cuma soal wajah. Gaya bicara orang yang berjodoh atau pasangan bisa sama. Soalnya pasangan yang sudah menikah memiliki bahasa dan kosakata pribadi yang hanya dimengerti mereka sendiri. Hal ini merupakan efek dari saling berbagi emosi yang disebutkan sebelumnya.

Menurut sebuah studi dari Robert Hooper, profesor komunikasi dari University of Texas, adanya komunikasi dengan menggunakan bahasa pribadi bisa memperkuat ikatan dan membangun hubungan yang romantis sebagai identitas bersama. Bahasa ini mencakup lelucon, julukan ataupun panggilan sayang yang hanya dimengerti mereka. Bukan hanya memperkuat ikatan, psikolog Carol Bruess dari Ohio State University dalam studinya menunjukkan bahwa seberapa sering pasangan menggunakan kata-kata pribadi atau julukan rahasia maka semakin bahagia hubungan di antara mereka berdua.

Oh, jadi bukan serta-merta kemiripan fisik itu nunjukin kamu sama doi berjodoh. Melainkan butuh waktu untuk kalian berbagai emosi dan dekat satu sama lain yang bikin kamu dan pasangan dikatakan mirip satu sama lain.