1. Home
  2. ยป
  3. Sosok
1 November 2018 00:01

Kisah Eko & Yuli, barista tuna daksa sajikan kopi istimewa

Tak menyerah di tengah keterbatasan fisik. Hira Hilary Aragon

Brilio.net - Jalan Kaliurang, Jogja memiliki cerita tersendiri bagi para pendatang, baik mahasiswa maupun wisatawan. Selain suasananya yang adem, setiap berada di kawasan ini seolah selalu disajikan pemadangan indahnya lereng pegunungan.

Jalan Kaliurang populer juga dengan sebutan Jakal, di sepanjang Jakal kamu akan sangat mudah menemukan tempat ngopi dengan bermacam tema dan style yang berbeda. Namun jika ingin tak sekadar mencicipi segelas kopi namun ingin menemukan sebuah inspirasi, kamu bisa singgah di kedai sederhana yang berkawasan di Panti Rehabilitasi Yakkum.

BACA JUGA :
8 Potret kegigihan Uzma Nawaz, montir wanita pertama di Pakistan


foto: Brilio.net/Syamsu Dhuha

Di antara banyaknya orang yang tengah lalu lalang, terlihat dua orang pria yang sedang asik menikmati sepiring sarapan pagi itu. Mereka adalah Eko Sugeng dan Yuli Suswanto, dua barista andalan Cupable Coffee yang berlokasi di Panti Yakkum.

Tak berselang lama, keduanya pun mulai disibukkan dengan aktivitasnya meracik kopi. Seperti barista pada umumnya, keduanya pun menggunakan celemek.

BACA JUGA :
Heboh soal politisi sontoloyo, ini arti sebenarnya kata 'sontoloyo'

foto: Brilio.net/Syamsu Dhuha

Sudah sejak satu terakhir, Eko bekerja sebagai pembuat kopi di kedai ini. Meski keduanya tangannya harus diamputasi tak menjadi alasannya untuk menyerah. Ditemui brilio.net, Selasa (30/10), pria 33 tahun itu menceritakan insiden yang pernah dialaminya sehingga membuatnya harus kehilangan tangannya.

"Dulu saya terlahir dengan kondisi yang sempurna, tetapi suatu ketika saya mengalami kecelakaan karena tersengat listrik yang mengakibatkan dua tangan saya diamputasi," cerita Eko memulai pembicaraan bersama brilio.net.

foto: Brilio.net/Syamsu Dhuha

Eko menceritakan keadaan dirinya yang sempat frustasi setelah kehilangan keduanya tangannya di usia yang masih muda.

"Waktu itu saya kecelakaan tahun 2003. 2 sampai 3 tahun pertama jadi masa-masa paling berat buat saya. tahun 2004 saya kesini (Panti Yakkum), untuk melawan diri sendiri untuk melangkah," kenangnya.

Eko yang kala itu terus menutup diri akhirnya ingin mendorong pemikiran orang di desa yang berpikir bila orang difabel tidak bisa melakukan apa-apa. Dengan raut wajah serius, Eko menceritakan pengalamannya saat disangka sebagai seorang pengemis, hal itu membuat perasaannya semakin sedih.

foto: Brilio.net/Syamsu Dhuha

Lain halnya dengan Yuli, pria paruh baya itu menceritakan kecelakaan yang dialaminya pada tahun 1983 yang menyebabkan kakinya sampai putus.
Yuli sendiri baru bekerja menjadi barista kurang lebih 2 bulan. Sebelumnya, dia bekerja sebagai kasir di beberapa pusat perbelanjaaan.

Sebelum mendapat rehabiltasi di Yakkum, Yuli sudah 4 kali menjalani operasi, namun tetap gagal. Hingga akhirnya, tahun 1990 dirinya memutuskan agar kakinya diamputasi saja.

foto: Brilio.net/Ivanovich Aldino

Perjalanannya pun dimulai ketika dirinya memutuskan rehabilitasi di Yakkum. Disini, pria asal Turi ini mendapat beragam pembelajaran dan keterampilan.

Sama halnya dengan Yuli, selama di Yakkum, Eko sendiri mendapat berbagai macam pelatihan mengasah kemampuan meski tanpa tangan. Kembali belajar dari nol bukanlah perkara yang mudah, mulanya ia harus belajar menulis, makan, mencuci menggunakan kedua kakinya. Kemudian Eko mencoba menggabungkan aktivitas menggunakan tangannya.

Sebelum terjun sebagai barista, Eko sempat belajar mengoperasikan komputer, menulis dan menggambar menggunakan kaki. Usahanya pun tidak sia-sia, tak lama dirinya berkesempatan bekerja sebagai Resepsionis di Panti Yakkum. Ini menjadi gerbang utamanya bisa masuk menjadi barista di Cupable.

"Dulu kan posisi saya jadi resepsionis shift sore, jadi saya sering jajan disini. Kebetulan ownernya menawarkan ke saya untuk nggak mencoba membuat kopi. Awalnya saya bingung apa bisa karena kedua tangan saya gini," ungkap pria warga Ngaglik, Sleman itu.

Berkat bantuan beberapa barista lain, Eko belajar melakukan grinder kopi. Kala itu menu pertama kali yang dibuatnya adalah kopi tubruk.

foto: Brilio.net/Syamsu Dhuha

"Waktu itu saya dibantu cara memegang teko agar nggak panas, terus berlatih akhirnya bisa sedikit-sedikit," tambahnya.

Sejauh ini kesulitan yang dirasakannya adalah ketika menggunakan mesin pembuat kopi. Bila kedai sedang ramai, Eko bisa membuat sampai 10 kopi dengan proses manual perhari.

"Saya mengalami kesulitan terlebih menggunakan mesin ekspreso karena butuh tangan, jari-jari untuk memegang. Beruntungnya, ia mendapat bantuan modifikasi alat bagaimana caranya saya mengoperasikan itu. Terus belajar akhirnya saya bisa sedikit-sedikit," jawabnya sambil tersenyum.

Kenangnya, Eko selalu merasa senang dan terkesan setelah membuat menu dinikmati para pelanggan. Setelah menyajikan kopi, Eko juga mengenang bagaimana beragam respon dari pelanggan. Eko bukan cuma menyajikan kopi saja, ia juga mengantarkan langsung gelas sajian itu ke meja pembeli.

foto: Brilio.net/Ivanovich Aldino

"Kadang ada salut memberikan respect, kadang ada yang heran juga lihat kalau pertama. Kalau begitu tugas saya agar suasa nggak tegang dan saya menjelaskan," ujar pria yang mengenang topi hitam itu.

Baginya, selain semangat dan kemauan dari diri sendiri, dorongan dan dukungan dari orang terdekat begitu berpengaruh padanya agar tidak gampang menyerah.

Eko pun berkeinginan agar suatu saat bisa mempunyai kedai kopi sendiri. Wah sungguh cita-cita dan semangat yang hebat!


Tonton selengkapnya:




SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags