1. Home
  2. »
  3. Sosok
6 Mei 2017 21:04

Dipecat dari bank, cewek tuna daksa ini sukses di dunia e-commerce

Sejak kecil nggak pernah bisa memakai sepatu di kaki kiri. Yani Andriansyah
foto: ​brilio.net/yani andryansjah

Brilio.net - Selama ini kaum difabel atau disabilitas selalu dianggap sebagai kelompok masyarakat yang perlu dikasihani. Tak jarang mereka mendapatkan perlakuan diskriminatif. Dinilai sebagai kelompok yang tak memiliki kemampuan.

Jelas itu anggapan yang salah ya. Padahal, tidak sedikit lho kaum disabilitas yang menorehkan kesuksesan dengan segala kekurangan yang mereka miliki. Malah mereka mampu mengalahkan orang normal.

Fanny Evrita, Kepala Pengembangan Produk ThisAble Enterprise salah satunya. Cewek asal Sintang, Kalimantan Barat penderita tuna daksa ini sukses mengelola bisnis e-commerce lewat produk kesehatan dan kecantikan ThisAble.

BACA JUGA :
Tinggalkan pekerjaan sebagai bankir, pria ini pilih jadi tukang sate



foto: brilio.net/yani andryansjah


Kita tidak mau dipandang sebagai kelompok yang ingin diberi belas kasihan. Kita ingin diberi sebuah kesempatan. Masuk ke dunia kerja pada umumnya agak susah bagi penyandang disabilitas, ujar Fanny kepada brilio.net saat ditemui di acara Tiga Wanita Bicara Industri Digital, Digital Agency, Digital Entrepreneur, dan E-commerce yang digelar situs belanja online elevenia baru-baru ini di Jakarta.

Oh ya cewek penyandang gelar S2 Hukum Bisnis ini punya pengalaman pahit. Setelah empat bulan bekerja dalam masa percobaan di sebuah bank swasta di Pontianak, dia justru dipecat saat hendak diangkat menjadi pegawai tetap.

Alasannya, karena dianggap nggak bisa mengikuti aturan kantor yang mengharuskan menggunakan pakaian seragam dengan bagian bawah yang agak pendek.

BACA JUGA :
Kenalin nenek Yuni, di usia 65 tahun sukses taklukkan 9 puncak gunung


foto: brilio.net/yani andryansjah


Sebagai penyandang tuna daksa, tulang kaki kiri Fanny lebih besar dibanding kaki kanannya. Karena itu dia selalu menggunakan rok panjang. Oh ya, sejak kecil Fanny juga nggak pernah bisa memakai sepatu di kaki kirinya.

Sebagai penderita tuna daksa saya nggak bisa mengikuti aturan itu, kata Fanny.

Akibat kejadian itu, selama dua bulan dia mengurung diri. Fanny merasa dirinya nggak berguna. Tapi kemudian dia sadar dan bangkit. Lalu dia mencoba lagi peruntungannya di bank BUMN. Hasilnya pun sama.


foto: brilio.net/yani andryansjah


Hingga akhirnya dia menyaksikan sebuah tayangan televisi tentang Yayasan Wisma Cheshire, sebuah lembaga yang fokus memperhatikan penyandang disabilitas.

Fanny pun mencari tahu keberadaan yayasan tersebut. Dia kemudian curhat dengan Petty Elliott, presiden Yayasan Wisma Cheshire. Pada 2015 Fanny akhirnya memutuskan pergi ke Jakarta untuk bergabung dengan lembaga tersebut. Di wisma itulah saya bisa membangun mimpi, kenang Fanny.

Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura, Pontianak itu akhirnya bisa mengembalikan kepercayaan dirinya. Setelah mendapatkan berbagai pelatihan, Fanny akhirnya memutuskan untuk berbisnis di dunia e-commerce.


foto: Instagram/@thisable_beautycare


Niatnya berbisnis semakin kuat setelah dirinya bertemu Angkie Yudistia, pendiri dan CEO ThisAble Enterprise yang juga penyandang disabilitas.

Untuk jadi entrepreneur peluangnya lebih terbuka. Yang penting kita mesti punya komitmen, etos kerja. Itu juga yang kita sebarkan ke sesama penderita, kata Fanny.

Kini, Fanny dan para penyandang disabilitas makin terbantu dengan perkembangan teknologi. Mereka bisa membuka toko sendiri lewat dunia maya. Yang penting kreatif dan punya kemauan.

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags