1. Home
  2. »
  3. Serius
17 Maret 2026 20:06

Persiapan Idulfitri 1447 H: Cek waktu pelaksanaan Sidang Isbat penentu Lebaran 2026

Di Indonesia, penentuan resmi 1 Syawal tetap mengacu pada hasil Sidang Isbat yang diselenggarakan oleh pemerintah. Agustin Wahyuningsih
Sidang Isbat 2026|. foto: kemenag.go.id

Menjelang akhir Ramadan, pertanyaan mengenai kapan tepatnya Hari Raya Idulfitri mulai ramai diperbincangkan. Kepastian ini sangat ditunggu karena menyangkut persiapan mudik hingga momen silaturahmi keluarga. Di Indonesia, penentuan resmi 1 Syawal tetap mengacu pada hasil Sidang Isbat yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Kementerian Agama (Kemenag) pun telah menetapkan agenda untuk menentukan kapan umat Muslim akan merayakan kemenangan. Proses ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan penggabungan antara metode sains astronomi dan hukum agama.

BACA JUGA :
5 Cara pakai hijab Lebaran 2026, gaya minimalis yang mewah untuk silaturahmi


Jadwal Resmi Sidang Isbat 1 Syawal 1447 Hijriah

Pemerintah menjadwalkan Sidang Isbat untuk menetapkan awal Syawal 1447 H pada hari Kamis, 19 Maret 2026. Kegiatan ini direncanakan mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai. Tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan hari ke-29 di bulan Ramadan.

Abu Rokhmad, selaku Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, memberikan penjelasan mengenai dasar pelaksanaan sidang ini.

“Pelaksanaan sidang didasarkan pada data hisab dan hasil rukyat yang diverifikasi, serta melalui mekanisme yang terbuka kepada publik,” jelasnya pada Sabtu (14/3/2026) sebagaimana dikutip brilio.net dari situs resmi Kemenag RI.

BACA JUGA :
5 Desain kartu ucapan Lebaran digital aesthetic, siap kirim ke grup WA

Lokasi dan Alasan Teknis Pelaksanaan

Auditorium H.M. Rasjidi di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, kembali dipilih sebagai lokasi pusat kegiatan. Tempat ini dianggap paling memadai dari segi fasilitas teknis untuk mendukung kelancaran komunikasi dengan titik pemantauan hilal di daerah.

Selain fasilitas, faktor kenyamanan akses juga menjadi pertimbangan. Mengingat sebagian masyarakat sudah mulai melakukan perjalanan mudik, kondisi lalu lintas di sekitar lokasi pusat diharapkan lebih kondusif sehingga tidak menghambat mobilitas para peserta sidang.

Sinergi Ulama dan Pakar Astronomi

Keputusan besar ini diambil melalui diskusi panjang yang melibatkan berbagai elemen. Selain perwakilan organisasi masyarakat (ormas) Islam, hadir pula para pakar dari BMKG, BRIN, dan ahli astronomi lainnya. Kolaborasi ini dilakukan agar hasil penetapan bisa dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun agama.

Mengenai pentingnya keterlibatan berbagai pihak ini, Abu Rokhmad menambahkan, “Karena melibatkan representasi yang luas, keputusan sidang isbat memiliki legitimasi keagamaan yang kuat.”

Alur Sidang: Dari Seminar Hingga Pengumuman Resmi

Proses penentuan tidak dilakukan secara mendadak. Ada tahapan sistematis yang dilalui:
1. Seminar Posisi Hilal: Para ahli memaparkan data perhitungan astronomi (hisab).
2. Verifikasi Lapangan: Data tersebut dicocokkan dengan laporan rukyatul hilal (pemantauan mata telanjang/teleskop) dari berbagai provinsi.
3. Sidang Tertutup: Anggota sidang membahas temuan lapangan untuk mengambil keputusan final.
4. Konferensi Pers: Menteri Agama mengumumkan hasil sidang kepada publik secara nasional.

Pemerintah pun memastikan bahwa segala infrastruktur pendukung telah siap.

“Dari sisi teknis, kami telah menyiapkan dukungan sarana dan prasarana sidang, sistem pelaporan rukyat, serta koordinasi dengan titik-titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia. Harapannya, proses sidang dapat berjalan tertib, akurat, dan informatif bagi masyarakat,” pungkas Abu Rokhmad.

Memahami Perbedaan Metode Hisab dan Rukyat dalam Penentuan Lebaran

Bagi masyarakat awam, sering muncul pertanyaan mengapa ada dua metode yang digunakan. Hisab merupakan metode perhitungan matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan secara presisi. Sementara Rukyat adalah proses verifikasi faktual dengan melihat bulan sabit baru (hilal) secara langsung. Pemerintah Indonesia menggunakan metode MABIMS yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat agar Idulfitri bisa ditetapkan secara serentak.


Source: liputan6.com / Tyas Titi Kinapti
Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang dengan bantuan Artificial Intelligence dengan pemeriksaan dan kurasi oleh Editorial.

SHARE NOW
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags