1. Home
  2. ยป
  3. Serius
6 November 2018 04:01

20 Sandi korupsi di Indonesia ini berhasil diungkap KPK

Sandi bagi para pelaku koruptor rupanya sudah menjadi tren. Eki Arum Khasanah

Brilio.net - Dalam sebuah hubungan, komunikasi sangat diperlukan. Baik hubungan keluarga, percintaan, pertemanan, ataupun hubungan antar rekan kerja. Tanpa adanya komunikasi yang jelas, sebuah hubungan bisa terasa rancu. Untuk itu, dibutuhkan sebuah kejelasan dan kesepakatan antar lawan bicara dalam berkomunikasi.

Komunikasi sendiri terdiri dari dua macam, yaitu komunikasi verbal dan non-verbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang dilakukan menggunakan kata-kata, sementara non-verbal menggunakan isyarat tertentu atau bahasa tubuh. Meski begitu, rupanya dua model komunikasi ini bisa dipadupadankan, sehingga komunikasi bisa berbentuk kalimat verbal, namun mempunyai isyarat tertentu.

BACA JUGA :
3 Kakak beradik di pusaran korupsi, terbaru pemberi suap Bupati Bekasi


Namun, komunikasi dengan memadukan bahasa verbal dan isyarat ternyata tidak selamanya digunakan untuk hal positif. Sebut saja dalam pemerintahan di Indonesia, rupanya komunikasi macam ini justru digunakan untuk mengelabuhi orang lain. Terlebih bagi para pejabat yang tersangkut kasus korupsi, mereka menggunakannya untuk menyembunyikan maksud terselubung mereka. Mereka menggunakan kata-kata tertentu untuk menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Cara komunikasi ini kemudian kerap disebut sebagai sandi atau kode.

Sandi bagi para pelaku koruptor rupanya sudah menjadi tren. Banyaknya sandi yang digunakan di berbagai kasus korupsi telah dikuak oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Apa sajakah sandi yang digunakan itu? Berikut brilio.net telah merangkumnya dari berbagai sumber, Selasa (6/11).

1. '1 Ton'.


foto: merdeka.com

BACA JUGA :
10 Gaya traveling Steffy Burase, model di pusaran rasuah Gubernur Aceh

Dalam kasus terbaru, KPK telah membongkar sebuah sandi yang digunakan tersangka Muhamad Yahya Fuad yang terlibat kasus anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik Kabupaten Kebumen APBN 2016. Sandi yang digunakan adalah '1 Ton' yang berarti '1 miliar rupiah'. Dicurigai dana sebanyak Rp 3 miliar lebih disalurkan kepada Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan atau yang lainnya.


2. 'Tina Toon'.


foto: merdeka.com

Sandi berupa 'Tina Toon' juga digunakan untuk menyamarkan nama-nama pejabat di Pemkab Bekasi. Tak hanya 'Tina Toon', kode 'Melvin', 'windu' dan 'penyanyi' juga digunakan dalam kasus dugaan suap perizinan proyek pembangunan Meikarta.


3. 'Ahok'.


foto: merdeka.com

Kode 'Ahok' pernah digunakan pada untuk menyebut pelaku suap pengusaha impor daging, yaitu Basuki Hariman. Yang disuap saat itu adalah Patrialis Akbar, mantan hakim Mahkamah Konstitusi (MK). Kode ini diungkap oleh orang terdekat Patrialis Akbar, yaitu Kamaludin pada Juli 2017.


4. 'Apel Malang' dan 'Apel Washington'.


foto: merdeka.com

Dalam kasus suap Wisma Atlet, Angelina Sondakh dan Mindo Rosalina menggunakan sandi 'Apel Malang' dan 'Apel Washington'. Sandi ini merujuk pada uang rupiah (Apel Malang) dan uang dolar (Apel Washington).


5. 'Pelumas' dan 'Semangka'.


foto: merdeka.com

Masih pada kasus yang menjerat Angelina Sondakh dan Mindo Rosalina, mereka menggunakan sandi 'pelumas' yang diartikan sebagai uang, dan 'semangka' yang diartikan sebagai permintaan dana.


6. 'Pengajian'.


foto: merdeka.com

Tidak hanya benda dan tokoh saja yang dijadikan kode para pelaku koruptor, melainkan juga kegiatan keagamaan seperti 'pengajian'. Kode 'pengajian' berarti transaksi atau janjian untuk bertemu. Sandi ini digunakan oleh Anggota DPR Fraksi Golkar, Aditya Anugrah Moha dan Ketua Pengadilan Tinggi Sulawesi Utara, Hakim Sudiwardono.


7. 'Santri' dan 'Anak Jin'.


foto: merdeka.com

Sandi berupa 'santri' digunakan untuk menyebut Fahd El Fouz dan Dendy Prasetya Zulkarnaen dalam kasus suap pengadaan Al-Quran. Sandi ini diungkap oleh Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kemenag Affandi Mohtar, saat bersaksi pada Kamis 10 Agustus 2018.

Selain itu, saksi Mohamad Zen yang merupakan mantan Ketua Unit Layanan Pengadaan (ULP) di Kementerian Agama mengatakan bahwa Fahd dan Dendy juga pernah disebut dengan kode "anak jin".


8. 'McGuire', 'Chivas Regal', dan 'Vodka'.


foto: merdeka.com

Ketiga nama minuman keras itu dijadikan sandi pada amplop berisi uang yang disebarkan ke anggota DPR dari beberapa fraksi. Uang tersebut merupakan hasil korupsi proyek e-KTP.


9. 'Undangan'.


foto: merdeka.com

Sandi 'undangan' juga pernah digunakan dalam proyek belanja modal dan mesin pengadaan meubelair di Pemkot Batu tahun anggaran 2017. Dalam kasus ini, Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko, beserta anak buahnya diduga menerima suap dari Direktur PT Dailbana Prima, Filipus Djap, sebanyak Rp 500 juta.


10. 'Buku' dan 'Perhatian'.


foto: merdeka.com

Kasus korupsi dalam laporan penilaian opini wajar tanpa pengecualian (WTP) melibatkan pejabat Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) dan auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Mereka menggunakan sandi berupa beli 'buku' yang artinya uang, dan 'perhatian' yang artinya penentuan jumlah uang yang akan disepakati.


11. 'Undangan' (Suap DPRD Jambi).


foto: Dok Humas Pemprov Jambi/B Santoso

Kali ini sandi 'undangan' digunakan oleh Pemprov Jambi terhadap anggota DPRD Jambi dalam kasus suap agar mau menghadiri pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (R-APBD) Provinsi Jambi tahun 2018. Sandi 'undangan' merujuk pada pertemuan penyerahan uang yang dilakukan oleh Saipudin selaku Asisten Daerah III Provinsi Jambi, kepada Supriono selaku anggota DPRD.


12. 'Sapi' dan 'Kambing'.


foto: liputan6.com

Sandi 'sapi' dan 'kambing' muncul dalam kasus suap yang dilakukan oleh pengacara Akhmad Zaini sebanyak Rp 400 juta kepada Tarmizi selaku panitera pengganti pada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Kata 'sapi' dan 'kambing' digunakan untuk menyebut uang suap yang akan diberikan. Kasus suap ini terjadi ketika Eastern Jason Fabrication Service Pte Ltd menggugat PT Aqua Marine Divindo Inspection karena mengalami kerugian dan menuntutnya untuk ganti rugi sebanyak 7,6 juta dollar AS dan 131.000 dollar Singapura.


13. 'Kalender'.


foto: merdeka.com

Sandi berupa 'kalender' digunakan dalam kasus suap dari Adi Putra Kurniawan selaku Komisaris PT Adhiguna Keruktama kepada Tonny Budiono selaku mantan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Antonius dengan total uang sebanyak Rp 2,3 miliar. Jumlah ini diberikan secara bertahap.

Sandi 'kalender' digunakan pada transferan pertama kali untuk menyamarkan uang yang telah dikirim Adi Putra mendekati tahun baru. Saat itu Adi Putra melalui Blackberry Messenger (BBM) mengirimkan pesan bertulisan "Kalender tahun 2017 sudah saya kirim".


14. 'Telur asin'.


foto: merdeka.com

Masih dalam kasus suap yang dilakukan Adi Putra dan Tonny Budiono. Sandi kedua yang digunakan berbeda lagi. Untuk suap terkait proyek di Semarang, Jawa Tengah, mereka menggunakan sandi 'telur asin'. "Telur asin sudah saya kirim" begitu yang tertulis di BBM Tonny.


15. 'Sarung'.


foto: merdeka.com

Terakhir dari kasus proyek PT Adhiguna Keruktama, Adi Putra kepada Tonny Budiono menggunakan sandi 'sarung' untuk menyamarkan uang yang dikirim menjelang hari raya Idul Fitri.


16. 'Kacang pukul'.


foto: merdeka.com

Gulat Medali Emas Manurung, tersangka kasus suap kepada Gubernur Riau nonaktif Annas Maamun menggunakan istilah 'kacang pukul' saat memberikan uang. Gulat tidak memberikan uang itu langsung kepada Annas, melainkan dititipkan melalui ajudannya bernama Triyanto.


17. 'Obat'.


foto: merdeka.com

Kode 'obat' digunakan oleh Fuad Amin saat ia tertangkap KPK dan semua ponselnya disita pada Desember 2014. Ketika itu Fuad Amin bertanya kepada penyelidik, "Ini ada 'obatnya' enggak, Mas?". Maksudnya, urusan ini bisa diselesaikan menggunakan uang tidak? Namun dari pihak penyidik hanya tersenyum dan mengatakan bahwa mereka tidak menerima tawaran 'obat' yang dimaksud.


18. 'Bibit' dan 'batang tanaman'.


foto: liputan6.com

Pada kasus suap tukar menukar lahan hutan di Kabupaten Bogor, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor, HM Zairin, pernah menggunakan sandi 'bibit' dan 'batang tanaman'. Ketika itu Zairin berkomunikasi dengan anak buah mantan Direktur PT Bukit Jonggol Asri (PT BJA) menggunakan kata 'bibit' dan 'batang tanaman' untuk menyebut uang yang akan dikirim kepada Bupati Bogor, Rachmat Yasin.


19. 'Ton pinang'.


foto: merdeka.com

Dalam kasus proyek rekonstruksi tanggul laut abrasi pantai yang melibatkan Bupati Biar, Numfor Yesaya Sombuk, terdapat sandi 'ton pinang' untuk mengganti kata uang. Numfor diduga menerima uang suap sebanyak 100 ribu dollar Singapura dari Direktur PT Papua Indah Perkasa (PIP) Teddy Renyut dalam 2 tahap.


20. 'Ton emas'.


foto: merdeka.com

Agar tidak dicurigai, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar, menggunakan istilah '3 ton emas' untuk meminta uang sebanyak Rp 3 miliar kepada Hambit Bintih. Uang itu dialirkan dalam kasus suap gugatan sengketa Pilkada Gunung Mas, Kalimantan Tengah.



SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags