1. Home
  2. ยป
  3. Personal Finance
19 Januari 2021 13:23

Belajar dari pandemi, 5 habit finansial ini harus dimiliki millenial

Kebiasaan baik ini akan membantu millenial bertahan selama pandemi maupun ke depannya. Azizta Laksa Mahardikengrat
foto: shutterstock.com

Brilio.net - Pandemi memaksa kita beradaptasi dengan kebiasaan baru. Dari mulai pekerjaan, hubungan sosial, sampai gaya hidup, semuanya berubah. Hal ini juga jelas terasa dalam kebiasaan finansial anak muda atau millenial.

Kondisi ekonomi yang terpukul membuat banyak orang kelimpungan. Sebelum pandemi kita mungkin abai dengan pengelolaan keuangan. Asal gaji tetap masuk, gaya hidup berjalan seperti biasanya. Bahkan, ada yang rela berutang dengan credit card (CC) atau uang instan demi memenuhi gaya hidup mewah. Godaan demi godaan membuat banyak millenial merelakan keuangannya hancur asal bisa mengikuti tren terbaru.

BACA JUGA :
6 Tips menggunakan kredit tanpa kartu biar nggak terjerat utang  


Ketika pandemi Covid-19 datang, banyak millenial yang akhirnya harus mengatur kembali keuangannya dari dasar agar bisa survive. Pengaturan finansial yang lebih sehat pasti akan sangat membantu millenial. Perilaku atau habit finansial yang sehat nantinya akan sangat berharga, baik selama maupun setelah pandemi berlalu. Sebagai millenial, kita harus lebih awas lagi menghadapi situasi darurat seperti sekarang.

Belajar dari pandemi, seperti apa habit finansial yang harus dimiliki millenial akibat pandemi? Dirangkum Brilio.net dari berbagai sumber, Selasa (19/1), mari kita simak bersama-sama.

1. Membeli barang karena kebutuhan, bukan keinginan.

BACA JUGA :
40 Kata-kata motivasi mandiri keuangan, jadi tabungan masa depan

foto: shutterstock.com

Pada era digital saat ini, membeli barang semudah men-tap layar smartphone. Mau yang mahal seperti laptop, gadget, sampai mobil bisa dibeli lewat internet. Urusan sehari-hari seperti belanja bulanan juga semakin mudah dengan adanya layanan pengantaran instan. Alhasil, kita jadi terbiasa membeli barang karena keinginan, bukan berdasarkan kebutuhan.

Pandemi memaksa kita lebih cermat dengan pengeluaran. Hal ini termasuk membeli barang yang benar-benar kita butuhkan dan bukan karena keinginan. Buatlah daftar prioritas dari yang paling penting hingga paling tidak penting. Kebutuhan dasar seperti belanja bulanan, utilitas, dan lainnya harus menjadi prioritas utama. Sedangkan kebutuhan tersier seperti baju baru, gadget terkini, dan lain-lain harus direlakan untuk yang paling terakhir.

2. Lebih bijak membeli barang menggunakan CC atau fitur paylater.

foto: shutterstock.com

Kemudahan bertransaksi sering membuat kita lupa kondisi keuangan. Tinggal gunakan fitur paylater atau swipe kartu kredit (CC), kita bisa membeli barang yang kita inginkan. Jika tak dikontrol, cicilan dan tagihan bisa membengkak tanpa disadari. Sudah saatnya kita menggunakan CC atau fitur paylater lebih bijak.

Sebagai solusinya, perilaku yang harus kamu terapkan adalah pencatatan rinci atas keuanganmu. Dengan catatan ini, kamu bisa lebih berhati-hati lagi saat berbelanja. Gunakan aturan 72 jam sebelum membeli barang. Caranya, masukkan barang ke keranjang belanja online selama 72 jam. Selama waktu itu, pertimbangkan kegunaan barang-barang tersebut. Jika benar-benar dibutuhkan, silakan beli. Tapi jika tidak, langsung saja keluarkan barang tersebut dari keranjang belanja.

3. Mengalokasikan budget untuk asuransi jiwa.

foto: shutterstock.com

Pandemi mengajarkan kita pentingnya kesehatan diri. Virus Covid-19 tak pandang bulu. Orang-orang yang awalnya tampak sangat sehat ternyata bisa meninggal akibat virus ini. Bahkan ada yang langsung berpulang selang beberapa waktu pasca dinyatakan positif Covid-19 . Yang bikin sedih, keuangan keluarga jadi berantakan karena seretnya pemasukan dan banyaknya pengeluaran.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik dalam publikasinya Hasil Survey Sosial Demografi Dampak Covid-19 menjelaskan pengaruh pandemi terhadap keuangan keluarga. Sebanyak 56% responden mengatakan mengalami peningkatan pengeluaran. Dari mereka yang mengalaminya, 44% responden mengatakan pengeluarannya meningkat 25-50% dari sebelum pandemi.

Hantaman pandemi ini menyadarkan banyak orang akan pentingnya memiliki asuransi jiwa. Dengan membayar premi secara reguler, seseorang akan mendapatkan ketenangan pikiran (peace of mind) ketika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.

Dengan asuransi, kamu bisa memiliki perlindungan untuk rencana finansial jangka panjang jika terjadi musibah atau risiko sesuai polis yang dipilih. Pada dasarnya asuransi dibagi menjadi dua jenis, yaitu asuransi jiwa tradisional dan asuransi jiwa yang dikaitkan dengan investasi (unit link).

Yang pertama, asuransi Jiwa memberikan manfaat sesuai polis kepada keluarga atau ahli waris jika peserta asuransi meninggal dunia akibat penyakit atau kecelakaan. Salah satu contoh produk yang cocok dengan keluarga millennial adalah asuransi jiwa syariah PRUCinta (PRUCinta) yang memberikan memberikan perlindungan jiwa dengan masa pembayaran kontribusi hanya 10 tahun dengan perlindungan selama 20 tahun dan kontribusi yang terjangkau, untuk mengantisipasi risiko meninggalnya sumber pendapatan utama keluarga yang dapat terjadi kapan saja serta dapat memengaruhi kesejahteraan keluarga

Kedua, asuransi jiwa dengan investasi (unit link) yang memiliki fungsi ganda, yaitu perlindungan dan investasi dalam satu polis. Selain manfaat berupa sejumlah uang pertanggungan jika meninggal, pemegang polis bisa mendapatkan potensi investasi sesuai risiko sesuai yang dipilih. Sebagian premi yang dibayarkan, dialokasikan ke biaya-biaya seperti di antaranya biaya akuisisi, biaya asuransi dan administrasi untuk membayar perlindungan tiap bulannya serta ke dalam dana investasi dalam bentuk unit. Asuransi jenis unit link sangat fleksibel karena bisa ditambahkan jenis perlindungan lain seperti untuk penyakit kritis atau rawat inap sesuai kebutuhan. Jangka waktu pertanggungan yang panjang juga sangat menarik karena bisa melindungi hingga usia 99 tahun. Meskipun unit link ada unsur investasi, namun harus diingat ya bahwa jenis asuransi ini bukan tabungan dan pastikan kamu sudah memahami mengenai risiko investasi pada umumnya dan Unit link pada khususnya.

4. Menyediakan dana darurat.

foto: shutterstock.com

Banyak pekerja dari berbagai sektor seperti pariwisata, retail, dan lainnya yang harus dirumahkan akibat pandemi. Tak ada pemasukan membuat orang bingung padahal cicilan dan tagihan terus berjalan.

Di sinilah pentingnya dana darurat untuk menyambung hidup saat tiada pemasukan. Idealnya, dana darurat harus bisa memenuhi kebutuhan hidup minimal 3-6 bulan ke depan. Selama tiada pemasukan, dana darurat bisa kamu manfaatkan memenuhi kebutuhan sehari-hari, sambil cari pekerjaan baru. Dana darurat ini juga bisa digunakan ketika ada keadaan emergency lain seperti kendaraan yang butuh perbaikan atau tertimpa musibah.

5. Mengurangi delivery makanan atau jajan di luar.

foto: shutterstock.com

Kemudahan internet dan layanan antar instan membuat kita terlena. Bagaimana tidak, hanya tinggal swipe-swipe saja, makanan favorit langsung ada di meja makan. Tak perlu lagi repot-repot harus keluar rumah. Sayangnya, banyak yang tergoda hingga keuangannya bocor karena terlalu sering delivery makanan atau jajan di luar.

Memasak sendiri bisa menjadi solusinya. Keuntungannya, kamu bisa memastikan higienitas makanan. Hal ini sangat penting pada masa pandemi. Dengan memasak sendiri, kamu juga bisa berhemat dan mencoba gaya hidup yang lebih sehat.

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags