1. Home
  2. ยป
  3. Olahraga
19 Juli 2018 16:30

Kisah haru Nanda Mei Sholihah, atlet difabel dengan segudang prestasi

Sosok inspiratif nih. Aliftya Amarilisya

Brilio.net - Takdir tidak ada yang bisa mengingkari. Pun dengan yang dialami oleh Rini Suwarni. Anak sulung dari perempuan asal Sragen ini terlahir dengan keterbatasan fisik. Meski begitu, ia tidak putus asa. Kekurangan sang anak, Nanda Mei Sholihah justru menjadi pemantik agar menjadi ibu yang lebih baik dan bijak.

Ya, Nanda, sapaan akrabnya, memang terlahir tanpa setengah lengan kanan. Akan tetapi, kekurangannya tersebut tidak menjadi sebuah halangan besar. Ia tetap bisa melakukan segala aktivitas, meski hanya satu tangan yang berfungsi normal.

BACA JUGA :
8 Aksi memukau difabel cantik saat skateboard & surfing, bikin takjub


Buktinya, kini ia bisa menjadi atlet paralimpik cabang atletik nomor 100 meter, 200 meter, dan 400 meter dengan segudang prestasi. Ia pernah menyabet medali perak di lari 100 meter dan 200 meter serta perunggu di lari 400 meter pada ajang ASEANPara Games 2014 di Myanmar.

Lalu, 3 medali emas di ajang ASEAN Para Games 2015 cabang atletik nomor 100 meter, 200 meter, dan 400 meter. Terbaru, ia berhasil meraih 3 medali emas di ASEAN Para Games tahun 2017 di Malaysia.

BACA JUGA :
Difabel perajin miniatur pesawat ini ternyata atlet profesional

foto: Instagram/@nandameish

"Anehnya, aku tuh ngerasa kalau aku nggak cacat. Kalau aku nggak beda. Jadi aku cuek aja. Lagi pula, orangtuaku juga selalu mengajakku untuk bersosialisasi dengan orang banyak, jadinya ya udah biasa," papar Nanda ketika ditemui di kawasan Malioboro saat berlatih membawa api obor replika Asian Games 2018, Rabu (18/7) sore.

Semenjak kecil, orangtua Nanda memang selalu memperlakukan gadis jelita kelahiran 17 Mei 1999 ini laiknya tak memiliki keterbatasan fisik, termasuk soal pemilihan sekolah. Karenanya, mereka pun memutuskan untuk menyekolahkan sang anak di sekolah umum. Akan tetapi, keinginan tersebut sempat mengalami rintangan.

"Itu waktu aku umur 5 tahun. Orangtuaku mendaftarkan aku di sebuah TK deket rumah, di Kediri. Tapi, tiba-tiba mereka dipanggil. 'Pak, ini anaknya ada keterbatasan fisik dan ini nggak bisa diterima di sini'," ucap Nanda.

Kala itu, sang kepala sekolah justru menyarankan orangtua Nanda untuk mendaftarkan sang anak ke Sekolah Luar Biasa (SLB). "Nenek aku waktu itu terus marah-marah, kenapa anak nggak ada cacat mental kok suruh sekolah di SLB. Akhirnya, ya pindah aja ke TK lain," lanjutnya.

Nanda kemudian bersekolah di TK Aisyah ABA VII Kediri. Tak disangka, lingkungan sekolahnya tersebut justru amat mendukung dirinya. Di sana ia kerap diikutsertakan dalam berbagai lomba. "Aku ikut lomba lari sama anak-anak kecil antar TK, baca puisi, menggambar juga, " kenangnya.

Nah, titik balik seorang Nanda hingga akhirnya menjadi salah satu atlet difabel andalan Tanah Air ini terjadi pada saat ia berada di bangku kelas 5 SD. Adalah Karmani, Ketua NPC Kediri kala itu yang menawarinya untuk menjadi atlet.

"Katanya, aku itu udah dilirik dari kecil (untuk jadi atlet). Nah, waktu kelas 5 SD, Pak Karmani datang ke SD aku, tanya alamatku. Terus datang ke rumah. Dia bilang, 'kamu mau kan naik pesawat nanti, ke luar kota untuk lomba-lomba?'," ujar mahasiswi Sosiologi UNS ini.

Awalnya, Nanda memang sempat ragu. Tak sedikit pula orang yang meragukan kemampuannya. Tetapi, dorongan kuat dari sang ibu membuatnya yakin untuk mengambil kesempatan tersebut.

"(Dengan menjadi atlet ini) aku juga jadi belajar banyak. Bahwa ada banyak penyandang difabel yang kekurangannya lebih dari aku. Jadi aku pun lebih bersyukur," paparnya.

foto: Instagram/@nandameish

Saat ini, Nanda sendiri tengah disibukkan dengan pelatihan nasional di Solo guna mengikuti Asian Para Games 2018 yang akan dilaksanakan pada Oktober mendatang. Dalam pesta olahraga tersebut, dirinya akan turun di nomor 100 meter, 200 meter, dan lompat jauh.

"Khusus lompat jauh, ini peluang baru buatku. Aku ditarget perunggu sama pelatih. Tapi, kalau target pribadi sih, ya harus lebih dari itu," ujar atlet asuhan Slamet Widodo ini sambil tersenyum.

Sejauh ini, beragam persiapan telah ia lakukan. Mulai dari latihan yang lebih intens, menjaga pola makan serta waktu istirahat yang cukup.

"Asian Para Games ini lebih berat, lawannya juga lebih senior. Jepang sama Cina adalah yang paling berat. Jadi, latihannya lebih intens, dari Senin sampai Sabtu, di pagi dan sore hari. Menjauhi makanan berlemak dan gorengan. Terus harus rileks, jaga emosi," papar gadis penggemar anime dan film zombie ini.

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags