1. Home
  2. ยป
  3. News
15 April 2015 08:07

Timpangnya pendidikan di Papua, 22 Tahun baru sekolah SMP

Pendidikan tampak sebagai hal yang prestisius dan sangat diperhatikan di kota-kota besar, sedangkan terkesan diabaikan di daerah tertinggal. Ines Faradina

Brilio.net - Mungkin sudah bukan rahasia lagi bahwa pendidikan di Indonesia ini masih belum merata. Pendidikan tampak sebagai hal yang prestisius dan sangat diperhatikan di kota-kota besar, sedangkan terkesan diabaikan di daerah tertinggal.

Mungkin hal itu yang mendasari lahirnya banyak program mendidik di daerah terpencil saat ini, termasuk ke Papua. Selama ini banyak orang yang tidak terlalu memikirkan bagaimana pendidikan di sana. Terlepas dari permasalahan konflik yang kerap terjadi, ternyata pendidikan di Papua benar-benar berbeda dengan yang terlihat di Jawa.

Menurut Erlyn Stevanie, salah satu pengajar di SDN Taroi Papua, angka buta aksara di Papua terbilang cukup tinggi dan rata-rata orangtua di sana tidak lulus pendidikan SD. Di Taroi awalnya ada 1 SD sejak 1969 dan pada tahun 2013 barulah berdiri sebuah SMP dan pada tahun 2015 berdirilah SMA.

Erlyn yang merupakan sarjana kimia lulusan Universitas Negeri Malang (UM) ini juga bercerita bahwa di Papua memang sudah berlaku sekolah gratis dari TK sampai SMA dan untuk belajar mengajar di kelas hanya guru sebagai satu-satunya sember belajar karena memang tidak ada buku dan juga tidak ada internet.

Kebanyakan anak di sana hanya belajar saat di sekolah. Karena saat di rumah mereka akan membantu orang tua. Selain itu, perempuan yang berasal dari Kediri ini juga mengemukakan bahwa kesadaran orangtua akan pendidikan anak di sana masih kurang.

Hal itu terbukti dengan kebiasaan beberapa anak yang ke sekolah tanpa menggunakan alas kaki, memakai seragam sekenanya, dan tidak membawa alat tulis. Menurut Erlyn hal itu mungkin terjadi karena di sana pendidikan gratis tidak seperti di Jawa yang harus bayar mahal. Jadi orang-orang menganggap bahwa pendidikan kurang terlalu penting.

Ada siswa yang datang ke sekolah semaunya, kadang 1 bulan nggak masuk 1 minggu masuk. Tapi banyak juga yang rajin. Terus lagi di sana ada yang usianya terlambat masuk sekolah dan lama tinggal kelas. Jadi ada murid kelahiran tahun 1993 tapi masih duduk di kelas IX.

Terlepas dari itu semua, menurut Erlyn yang sudah 4 tahun mengajar di sana, siswa siswinya di Papua secara kognitif dapat bersaing dengan murid-murid di luar Papua. Dia mengungkapkan bahwa semua anak Papua memiliki kemampuan yang luar biasa selama mereka ada kemauan.

Dan mereka semua butuh orang yang dapat selalu memotivasi mereka untuk terus berkembang. Itulah yang semestinya menjadi tugas anak muda seperti Erlyn dan kamu semua saat ini.


SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
MOST POPULAR
Today Tags