1. Home
  2. ยป
  3. News
7 September 2015 15:33

Nasib pencipta lagu Hymne Guru, untuk memakai baju saja harus dibantu

Untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari keluarganya mengandalkan uang dari hasil penyewaan alat musik tradisional. Nur Romdlon

Brilio.net - Siapa yang tak tahu dengan lagu Hymne Guru? Lagu wajib nasional tersebut pasti selalu dinyanyikan saat Hari Guru Nasional 25 November. Orang yang mendengar lagu itu pasti terenyuh dan menjadi teringat dengan jasa guru yang sering disebut pahlawan tanpa tanda jasa itu. Tapi tahukah kamu siapa pencipta lagu itu dan bagaimana keadaannya sekarang?

Sartono (79), guru swasta di Madiun lah yang menciptakan lagu Hymne Guru tersebut. Pada tahun 1980, Sartono tak sengaja mengetahui sayembara lagu Hymne Guru itu di sebuah surat kabar.

BACA JUGA :
Biar kuping sehat, putar musikmu maksimal 1 jam & volume di bawah 60%


Ia yang juga berprofesi sebagai seniman itu lalu membuat lagu dan mengirimkannya. Keterbatasan alat musik saat itu membuat Sartono menciptakan lagu itu dengan siulan mulut. Tak disangka, lagunya yang berjudul Pahlawan Tanpa Tanda Jasa itu terpilih untuk dijadikan lagu Hymne Guru yang masih sering dinyanyikan hingga sekarang.

Lalu bagaimanakah keadaan Sartono saat ini?

BACA JUGA :
Yeah, Taylor Swift dan Avril Lavigne 'baikan'!

Kepada brilio.net, Imam Ghazali (21), mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang beberapa waktu lalu mengunjungi Sartono mengungkapkan, Sartono hidup dalam kesederhanaan. Tak ada kesan mewah di rumahnya di Jalan Halmahera 98 Madiun.

Istri Sartono, Damiyati (65) kepada Imam bercerita, untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari keluarganya mengandalkan uang dari hasil penyewaan alat musik tradisional yang ia punya. Selain itu, Damiyati juga masih mengandalkan undangan pentas dalam event kesenian yang tak tentu adanya.

Karena hanya hidup berdua, maka saat Damiyati sedang ada job maupun acara keluar, maka Sartono akan dititipkan ke tetangga ataupun sauadaranya. "Karena faktor usia, Pak Sartono sudah pikun. Untuk memakai baju juga harus dibantu oleh istrinya. Beruntung istrinya masih sehat sehingga bisa melayani Pak Sartono dengan baik," ungkap Imam, Minggu (6/9).

Tak ada bantuan dari pemerintah yang mengalir. Hanya saja terkadang ada bantuan yang datang dari perorangan maupun komunitas.

Ironisnya lagi, tak jarang ada juga pihak-pihak yang memanfaatkan mereka berdua untuk meminta bantuan, tapi ujung-ujungnya tak sampai kepada Sartono dan istri.

Meski lagu Sartono masih diakui hingga kini, tapi ternyata lirik terakhir lagu tersebut sudah berganti. Lirik yang awalnya "tanpa tanda jasa" berubah menjadi "pembangun insan cendekia" pada 2009 lalu.

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags