1. Home
  2. ยป
  3. News
5 Mei 2015 20:05

Cerita Krapyak Jogja, pencetak hafidz Al-Quran yang dulu daerah rawan

Pondok Pesantren Al Munawwir dan Ali Maksum merupakan dua pesantren besar yang berada di daerah itu. Nur Romdlon

Brilio.net - Saat diminta menyebutkan pusat pendidikan Islam di Yogyakarta, kebanyakan orang pasti langsung merujuk ke daerah Krapyak Yogyakarta.

Ya, di daerah tersebut memang banyak berdiri pesantren. Pondok Pesantren Al Munawwir dan Ali Maksum merupakan dua pesantren besar yang berada di daerah itu. Tapi di balik keramaian yang sekarang ada, siapa yang menyangka kalau daerah tersebut dulunya merupakan daerah rawan yang penuh semak belukar.

Krapyak terletak di sebelah selatan Kraton Yogyakarta. Panggung Krapyak yang juga disebut Kandang Menjangan di Jalan KH. Ali Maksum disebut satu garis dengan Gunung Merapi, Kraton, serta laut selatan. Dulu daerah Krapyak masyarakatnya masih sedikit yang memeluk dan melaksanakan agama Islam, kebanyakan mereka merupakan kaum abangan.

Adalah KH. Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad yang menjadi perintis pesantren di Krapyak. Terdengarnya alunan ayat-ayat suci Al-Qur'an setiap hari seakan mengajak orang di sekitarnya untuk menuju ke arah Islam. KH. Muhammad Munawwir pun terus berusaha mengembangkan lembaga pendidikan pesantren yang dirintisnya.

Dikutip brilio.net dari situs resmi Pondok Pesantren Al Munawwir, almunawwir.com, Selasa (5/5), Pondok Pesantren Al Munawwir yang jadi cikal bakal pesantren di Krapyak didirikan pada tanggal 15 November 1911 M.

Awal berdiri dan berkembangnya, pesantren ini biasa disebut dengan Pesantren Krapyak karena terletak di Dusun Krapyak. Baru tahun 1976 nama pesantren diberi tambahan Al Munawwir untuk menghormati perjuangan pendirinya.

KH. Muhammad Munawwir merupakan ulama ahli dalam qiraah sab'ah (7 bacaan Al-Qur'an). Sebelum kembali ke Tanah Air, KH. Muhammad Munawwir telah menuntut ilmu di Tanah Suci selama 21 tahun.

Pendidikan dan pengajaran pada masa KH. Muhammad Munawwir tetap menekankan pada bidang Al-Qur'an. Hal ini sesuai dengan keahlian beliau yang mumpuni dalam bidang ini. Meskipun demikian, pendidikan lainnya seperti kitab kuning tetap diadakan hanya saja sebagai penyempurna atau pelengkap.

Sepeninggal KH. Muhammad Munawwir, kepemimpinan pesantren Krapyak kemudian diteruskan oleh dua putranya. Namun, bersamaan dengan itu, masuknya penjajah Jepang ke Indonesia semakin memperparah kondisi pesantren. Akhirnya dipanggillah menantu beliau yang tinggal di Lasem, KH. Ali Maksum, untuk mengelola pesantren.

Masa kepemimpinan KH. Ali Maksum pun menjadikan pesantren Krapyak banyak perkembangan hingga bisa menjadi seperti sekarang ini. Saat ini Krapyak telah menjadi kompleks pendidikan Islam yang lengkap karena ditunjang dengan pendidikan formal di semua tingkatan.

Dari Krapyak lah, banyak muncul penghafal Al-Qur'an yang tersebar di seluruh Tanah Air.


SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
MOST POPULAR
Today Tags