1. Home
  2. ยป
  3. Komunitas
12 Februari 2018 18:19

Butet & Garin berbagi ilmu manajemen seni pertunjukkan buat anak muda

Teori sambal itu nggak diajarkan dalam teori Barat. Ini unik, Indonesia banget Yani Andriansyah
foto-foto: Brilio.net/yani andryansjah

Brilio.net - Potensi seni pertunjukan di Indonesia yang digagas anak-anak muda sejatinya begitu besar. Sayangnya, selama ini kurang dikelola secara profesional. Ya maklum deh, banyak seniman muda yang minim pengetahuan mengenai manajemen panggung.

Fakta ini yang membuat dua seniman senior Garin Nugroho dan Butet Kertaredjasa berkolaborasi berbagi ilmu pada para seniman muda. Acara bertajuk Ruang Kreatif yang mengusung tema Workshop Manajemen Produksi Seni Pertunjukan ini digelar di GEOKS Art Space, Singapadu, Gianyar, Bali, sejak 11-12 Februari 2018.

BACA JUGA :
Den Baguse Ngarso, guru yang setia dengan dunia peran


Kedua seniman senior ini bekerjasama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation, lembaga yang selama ini sangat konsern terhadap perkembangan budaya Indonesia. Selain Butet dan Garin, workshop ini juga melibatkan Jeannie Park, Direktur Eksekutif Yayasan Bagong Kusudiardja.

Kita punya banyak panggung. Kita punya banyak sumber daya manusia, tapi manajemen panggung aja kita sangat miskin pengetahuannya untuk seniman-seniman di Indonesia, kata Garin.

BACA JUGA :
Pentas seni ini buat penonton betah hingga larut malam, keren abis ya?

Menurut Garin, program ini bertujuan untuk memperkenalkan anak-anak muda baru kelas menengah di Indonesia yang saat ini tumbuh semakin pesat. Pertumbuhannya mencapai lebih dari 30%.

Kata Garin, mereka adalah bagian dari globalisme industri kreatif. Sayangnya, untuk membuat seni pertunjukan yang bagus, umumnya mereka belum mampu karena tidak memiliki manajemen panggung yang mumpuni.

Industri kreatif tanpa pengetahuan dan keterampilan, proses manajemen yang kreatif, maka hanya akan menjadi cita-cita saja. Saat ini hiburan sudah menjadi bagian dari kebutuhan hidup kelas menengah baru karena itu dibutuhkan profesionalisme untuk mengembangkannya, lanjut Garin.

Sementara Butet mengaskan bahwa saat ini Indonesia sedang bergerak menuju industri kreatif, terutama seni pertunjukan. Sayangnya saat ini infratsruktur seni pertunjukkan di Indonesia masih banyak yang nggak beres lho.

Nah dalam kondisi semacam ini lahir para Superman di dunia seni. Nggak heran jika seorang aktor di Indonesia juga disibukkan dengan urusan remeh temeh dalam seni pertunjukkan seperti konsumsi. Ternyata hal remeh ini justru sangat penting dalam seni pertunjukan.

Banyak manusia (seniman) Indonesia dipaksa menjadi Superman, harus bisa ngurusin pajak, sponsor, perizinan, dan lain sebagainya. Dari sandungan-sandungan yang dihadapi dalam praktik juga menjadi pengetahuan yang tidak diajarkan dalam teori manajemen panggung manapun, tegas Butet.

Butet lalu mengisahkan komedian Cak Lontong yang suka sekali dengan sambal. Dia tidak akan mau pentas jika penyelenggara tidak menyediakan sambal dalam konsumsinya. Selama ini Cak Lontong justru lebih memilih ikut pertunjukan yang digelar Butet, padahal di tempat lain dalam waktu yang sama ia bisa dapat honor lebih besar.

Ilmu seperti itu di teori-teori Barat nggak ada. Teori sambal itu nggak diajarkan. Ini unik, Indonesia banget. Bagaimana manajemen memperlakukan seniman supaya persoalan kreatif tidak terganggu, kata Butet.

Pendiri Teater Gandrik ini pun memberikan tips bagaimana membuat seorang seniman berada dalam sebuah kegembiraan kerja. Lalu, bagaimana pertunjukkan itu memperlakukan penonton dengan sangat terhormat.

Maka saya akan membagikan ilmu termasuk bagaimana sih membuat proposal yang komunikatif. Karena seringkali karena senimannya congkak dan aneh-aneh, maka proposal itu isinya kesombongan aja, kata Butet.

Karena itu workshop ini ditujukan bagi pengelola atau pimpinan produksi seni pertunjukan sebagai ujung tombak dalam perwujudan gagasan sang kreator atau sutradara.

Workshop ini menghadirkan bincang-bincang, diskusi dua arah untuk saling berbagi pengetahuan terkait dengan komunikasi dan kemitraan, kata Jeannie.

Sedangkan Adi Pardianto, Program Officer Bakti Budaya Djarum Foundation mengatakan seni dan budaya bisa menjadi perekat persatuan bangsa Indonesia. Karena itulah pihaknya mendukung acara ini dan berharap menjadi inspirasi pihak lain untuk ikut serta.

Selain di Bali, workshop akan digelar di tiga kota lain yakni Malang (14 Februari 2018), Kudus (18 Februari), dan Padang Panjang (20 Februari).

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags