1. Home
  2. ยป
  3. Kesehatan
7 Agustus 2021 08:30

Suka menimbun barang? Yuk kenali hoarding disorder & 3 cara mengatasi

Kelainan ini umumnya bermula dari usia remaja dan dewasa namun semakin sulit diatasi ketika menyentuh paruh baya. Dwiyana Pangesthi
foto: Dokumentasi The Street Store Indonesia

Brilio.net - Apakah kamu punya kebiasaan menimbun barang? Sering berbelanja tapi barangnya jarang digunakan bahkan tak pernah dipakai sama sekali? Hati-hati, kebiasaan ini bisa menjadi tanda gangguan psikologis, yaitu hoarding disorder.

Istilah hoarding sendiri berasal dari sebuah tindakan menimbun (hoard) berbagai macam benda. Seringkali orang yang mengidap kelainan ini memiliki pengalaman istimewa atau kenangan dengan barang-barang yang disimpan. Kelainan ini umumnya bermula dari usia remaja dan dewasa namun semakin sulit diatasi ketika menyentuh paruh baya.

BACA JUGA :
10 Sampah dapur ini bisa suburkan tanaman, jangan dibuang


Penderita hoarding disorder sangat kesulitan membuang barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi. Bahkan, penderita cenderung memiliki kecemasan dan ketakutan akan terjadi hal buruk jika barang-barang tersebut dibuang atau hilang.

Kelainan ini dapat berdampak negatif jika sudah berada pada tahap cukup ekstrem. Sampah yang menumpuk akan mempersempit ruang gerak dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Lingkungan rumah juga tidak sehat karena menumpuknya barang dan bisa menjadi sarang penyakit yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain.

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Berikut brilio.net himpun dari berbagai sumber, tiga cara mengatasi hoarding disorder, Sabtu (7/8).

BACA JUGA :
Kisah dua bocah bersihkan saluran tersumbat sampah ini bikin salut

1. Konsultasikan dengan psikiater.

foto: Shutterstock.com

Seringkali rasa malu mengalahkan diri untuk berkata jujur. Namun, bercerita adalah obat ampuh menyembuhkan berbagai penyakit hati. Psikiater adalah salah satu profesional di bidangnya yang bisa menjadi teman bicara. Percayakan kepadanya dan pasti akan dibantu untuk mengatasi permasalahan yang ada.

2. Penanganan dengan psikoterapi.

foto: Shutterstock.com

Penanganan ini berupa terapi perilaku kognitif dimana penderita kelainan diajarkan untuk menyadari dan memahami apa yang membuat mereka menimbun barang. Pasien dapat belajar memilah barang mana yang harus dibuang dan yang masih bisa disimpan. Melalui psikoterapi, penderita juga belajar bagaimana menolak dorongan untuk menimbun lebih banyak barang.

3. Berikan kepada orang yang membutuhkan.

foto: BBERES.ID

Setelah barang dipilah dan dipisahkan sebaiknya penderita juga belajar bertanggung jawab dengan tidak membuang sampah atau limbah sembarang. Lebih baik barang yang ditimbun diberikan kepada orang yang membutuhkan.

Bagi kamu atau kerabat yang mengalami gejala ini, bisa dikenalkan dengan BBeres Indonesia. Beberes Indonesia merupakan penyedia jasa membereskan masalah barang-barang tak terpakai.

Barang-barang yang diberikan ke Beberes Indonesia akan dikelola melalui penyortiran dan dipisahkan mana yang layak dan mana yang tidak. Barang yang masih layak pakai akan dibersihkan, diperbaiki, dikreasikan atau disalurkan kepada Penerima Manfaat berkolaborasi dengan Outlet Dhuafa, The Street Store Indonesia, dan Elegro ID.

Sedangkan barang yang sudah tidak layak pakai akan dimusnahkan menggunakan insinerator alat bakar sampah yang ramah lingkungan. Hasilnya, abu residu tersebut yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran material.

Bareng Beberes Indonesia, barang yang sudah lama tersimpan dan berdebu ternyata bisa bermanfaat. Dengan dikelola dan diolah secara matang, barang tersebut bisa memiliki nilai guna lebih daripada hanya ditumpuk sembarangan di salah satu sudut rumah.

Adv.

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags