1. Home
  2. ยป
  3. Global
30 Mei 2020 00:01

40 Persen data pribadi pengguna layanan online di Asia Pasifik bocor

laporan ini mendapati bahwa lebih dari seperlima pengguna masih dengan sukarela membagikan privasi mereka Lola Lolita
foto: kaspersky.com

Brilio.net - Sebuah survei baru-baru ini dilakukan perusahaan keamanan siber global, Kaspersky. Dari hasil survei perusahaan tersebut mengungkapkan bahwa 40 persen konsumen layanan streaming atau online dari Asia Pasifik (APAC) menghadapi insiden kebocoran informasi pribadi yang diakses oleh orang lain tanpa persetujuan.

Dilansir dari liputan6.com, Jumat (29/5), selain itu 5 dari 10 pengguna juga menyatakan keprihatinan serupa dalam hal menjaga kehidupan virtual dan fisik mereka.

BACA JUGA :
5 Kecanggihan Galaxy Buds+, earphone kekinian penunjang fashion


Dalam laporan bertajuk Kaspersky Global Privacy Report 2020, perusahaan berbasis Rusia itu meneliti sikap konsumen terhadap privasi online. Survei ini melibatkan lembaga penelitian independen Toluna dan berlangsung antara Januari dan Februari 2020.

Sebanyak 15.002 konsumen di 23 negara di dunia menjadi responden survei ini dan 3.012 di antaranya berasal dari wilayah Asia Pasifik.

Beberapa pelanggaran melibatkan insiden berupa akun yang diakses tanpa izin (40 persen), pengambil alihan perangkat secara ilegal (39 persen), pencurian dan penggunaan data rahasia (31 persen), data pribadi yang diakses oleh seseorang tanpa persetujuan, dan penyebaran informasi pribadi secara publik (20 persen).

BACA JUGA :
Nih 3 Smartphone harga Rp 3 jutaan dengan quad kamera terbaru

Parahnya lagi, laporan ini mendapati bahwa lebih dari seperlima pengguna masih dengan suka rela membagikan privasi mereka untuk mendapatkan produk atau layanan secara gratis.

Sebanyak 24 persen responden lainnya juga lalai dalam menjaga privasi dengan membagikan detail akun media sosial untuk kuis-kuis hiburan. Selain itu, dua dari sepuluh konsumen yang disurvei juga mengakui bahwa mereka membutuhkan bantuan untuk mempelajari bagaimana cara melindungi privasi secara online.

"Data kami menunjukkan perilaku online yang cukup kompleks di wilayah kita. Ini sesungguhnya merupakan kemajuan yang disambut baik di mana sebagian besar konsumen sekarang cukup memahami privasi online, tetapi kebiasaan virtual dan pengetahuan keamanan mereka masih membutuhkan perubahan," ujar Stephan Neumeier, Managing Director Asia Pasifik di Kaspersky dalam siaran persnya, Jumat (29/5).

Privasi online juga harus lebih menjadi perhatian pengguna pribadi dan perusahaan lantaran kebijakan kerja jarak jauh (remote working; working from home) saat ini berlaku di banyak negara di Asia Pasifik.

"Jaringan perusahaan kini telah mencapai area kenyamanan rumah kita, yang pada gilirannya akan meningkatkan kesempatan bagi para para pelaku kejahatan siber melancarkan ancamannya. Sudah saatnya untuk Anda dapat meningkatkan kebersihan dunia maya demi reputasi pribadi dan profesional serta ketenangan pikiran," kata Stephan lebih lanjut.

Terkait konsekuensi karena pelanggaran data pribadi atau privasi, para pengguna menyebutkan beberapa hal negatif yang memengaruhi kehidupan digital dan bahkan fisik mereka. Sebagian besar (39 persen) terganggu oleh spam dan iklan, sebagian (33 persen) merasa stres, dan sebagian (24 persen) menyatakan reputasi pribadi mereka berada dalam bahaya.

"Para pelaku kejahatan siber cenderung mengikuti arah kekacauan berada. Kapan pun terdapat sebuah tren atau krisis besar, mereka akan menggunakannya sebagai kesempatan sempurna untuk mengeksploitasi peningkatan emosi manusia yang membuat pengguna lebih rentan," tutur Stephan.

Untuk melindungi data privasi selama masa kritis ini, Stephan menekankan urgensi untuk berhati-hati akan detail pribadi yang mungkin perlu dibagikan secara online dan memahami bagaimana data ini akan digunakan. Untuk memastikan informasi pribadi tetap terlindungi di ruang internet, Kaspersky menyarankan para konsumen untuk melakukan langkah sebagai berikut:

1. Menyimpan seluruh daftar akun online sehingga pengguna memiliki pemahaman penuh tentang layanan dan situs web mana yang mungkin menyimpan informasi pribadi.

2. Mulai gunakan 'Privacy Checker' yang membantu mempertimbangkan setelan profil media sosial pengguna menjadi privat. Ini akan mempersulit pihak ketiga untuk menemukan informasi yang sangat pribadi.

3. Di sektor bisnis, karyawan perlu mendapatkan pengetahuan mengenai dasar-dasar keamanan siber.

4. Secara teratur perusahaan dapat mengingatkan karyawan tentang cara menangani data sensitif, misalnya, hanya menyimpannya di layanan cloud terpercaya yang perlu diautentikasi untuk akses dan tidak boleh dibagikan dengan pihak ketiga yang tidak dipercaya.

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags