1. Home
  2. ยป
  3. Gadget
21 Desember 2019 06:29

6 Aplikasi yang gagal dan tinggal kenangan, ada dari Google

Mungkin karena ide aplikasi yang buruk, eksekusi salah, atau ketidakmampuan untuk menghasilkan uang secara efektif Dwiyana Pangesthi

Brilio.net - Bicara soal teknologi pasti nggak ada habisnya. Pasalnya perkembangan teknologi terjadi setip detiknya. Ya misalnya saja produk teknologi yang paling banyak digunakan ialah ponsel. Dalam ponsel sendiri terdapat beragam aplikasi yang digunakan untuk komunikasi. Seperti WhatsApp, Line, Kakaotalk menjadi aplikasi chatting yang paling digemari banyak orang saat ini. Selain tampilannya menarik, fitur-fiturnya pun juga beragam.

Namun ternyata dari banyaknya aplikasi yang dapat kamu gunakan terdapat aplikasi yang gagal bersaing. Ini mungkin karena ide aplikasi yang buruk, eksekusi yang salah, atau ketidakmampuan untuk menghasilkan uang secara efektif. Dalam beberapa kasus, ribuan dolar dari para investor terbuang sia-sia ketika aplikasi tersebut gagal.

Tak terkecuali juga pada produk keluaran Google yang juga gagal. Penasaran apa saja aplikasi tersebut? Dilansir brilio.net dari berbagai sumber pada Sabtu (22/12), berikut 6 aplikasi yang gagal & tinggal kenangan, ada dari Google.


1. Quixey.

BACA JUGA :
6 Cara menggunakan Wattpad untuk pemula, mudah dan seru


foto: axios.com



Fungsi utama aplikasi Quixey adalah membantu pengguna menemukan konten di aplikasi yang diinstal pada perangkat mereka. Pada Mei 2017 menjadi bulan terakhir untuk aplikasi Quixey mendapatkan dana investasi secara besar-besaran.

Alibaba sebagai pemegang saham terbesar, ya perusahaan Cina ini menginvestasikan hampir 80 juta USD. Namun pada bulan Februari 2017 Alibaba menolak putaran investasi lain. Tepat setelah itu sebagian besar tim diberhentikan. Menurut pengumuman oleh Alibaba, Quixey tidak memenuhi harapan dan dewan memutuskan untuk menutup


2. Google Wave.

BACA JUGA :
Daftar produk endorse yang akan diblokir Instagram (IG), termasuk vape

foto: techradar.com



Ketika Google mengumumkan Wave, layanan itu seharusnya menjadi alat kolaborasi yang akan memiliki fitur seperti email, pesan instan, blogging, wiki, manajemen multimedia, dan berbagi dokumen. Aplikasi ini dibuat untuk alat yang meningkatkan komunikasi antar rekan kerja. Namun sayangnya aplikasi ini gagal lantaran Wave menggabungkan banyak layanan yang sudah ada tetapi layanan di Wave ini lebih rendah daripada platform individu yang menawarkan masing-masing layanan ini.

Ini menjadikan aplikasi tidak berfungsi karena tidak dapat meningkatkan layanan yang merupakan bagian inti dari platform, atau kombinasinya.


3. Auctionata.

foto: eu-startups.com



Pelelangan online, disiarkan langsung bisa mengubah dunia penjualan di bidang seni rupa dan koleksi. Ya aplikasi ini merupakan proyek yang dirancang untuk menarik khalayak yang lebih besar ke pelelangan seni dengan memberikan sensasi penawaran melalui perangkat. Namun sayangnya upaya acara penyiaran gagal memenuhi tingkat yang diharapkan.

Sebab aplikasi ini memiliki kendala dibatasi oleh kecepatan broadband lambat, layanan pelanggan yang buruk, serta masalah pembayaran online dan masalah pengiriman. Aplikasi yang didirikan sejak 2012 silam, akhirnya ditutup pada Februari 2017 setelah mengalami kesulitan keuangan yang krusial.


4. Rdio.

foto: iphoneheck.com



Pada Agustus 2010 Rdio menjadi salah satu layanan streaming musik modern pertama di Amerika Serikat. Pada saat itu, aplikasi ini menawarkan paket streaming hanya 5 USD di web dan aplikasi BlackBerry. Perusahaan ini didirikan oleh Janus Friis dan Niklas Zennstrom, yang juga membuat Skype. Perusahaan itu memiliki 7 juta lagu yang terhitung sedikit jika dibandingkan dengan Spotify yang menawarkan sekitar 30 juta.

Rdio berkomitmen untuk membangun layanan streaming musik terbaik. Ia ingin membangun aplikasi streaming terbaik yang akan disukai penggunanya. Aplikasi ini memasukkan fitur sosial ke dalam aplikasi yang memungkinkan pengguna melihat apa yang didengarkan teman-teman mereka secara real time. Meskipun apikasi ini memiliki layanan yang baik dan unggul, namun perusahaan tidak memiliki tim pemasaran yang baik untuk menggaet para pengguna.


5. Yik Yak.

foto: appdigitally.com



Pada November 2013 lalu, aplikasi ini diciptakan oleh Tyler dan Brooks Buffington saat mereka masih kuliah. Yik Yak merupakan aplikasi SMS anonim yang memungkinkan pengguna untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar mereka. Pengguna dapat memeriksa obrolan dari area lain tetapi hanya dapat memposting di area di mana mereka berada saat itu.

Aplikasi ini dibuat untuk segmentasi siswa sekolah menengah dan mahasiswa. Untuk keunggulan aplikasi ini terletak di anonimitasnya. Namun, dengan obrolan anonim, ada suatu kasus di mana pengguna terlibat cyberbullying. Hal ini yang menyebabkan beberapa sekolah memblokir Yik Yak untuk mencegah siswa mengakses aplikasi ini. Akhirnya pada Desember 2016 perusahaan ini kehilangan pengguna.


6. Hailo.

foto: appdigitally.com



Startup ini adalah layanan e-taxi seperti Uber. Layanan ini telah mencapai tingkat keberhasilan di London dengan 2,5 juta penumpang. Target mereka kala itu adalah New York. Dengan diperkenalkannya layanan di New York, perusahaan memutuskan untuk menargetkan pengemudi taksi kuning ke layanan e-taxi. Namun, perusahaan mulai memiliki masalah.

Sebab alat utama yang diperlukan untuk menggunakan layanannya ini adalah smartphone. Sedangkan pengemudi taksi kuning di kota New York tidak terbiasa membawa smartphone selama bekerja seperti pengemudi di London. Warga New Yorkpun juga tidak menggunakan aplikasi ini dalam jumlah besar. Selain itu mereka juga bersaing dengan Uber yang lebih menawarkan harga rendah.





SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags