1. Home
  2. »
  3. Duh!
20 Februari 2026 13:10

Kronologi Dwi Sasetyaningtyas alumni LPDP minta maaf pasca “Cukup aku saja WNI, anak-anakku jangan"

Video berdurasi singkat itu menampilkan momen ketika Tyas menerima dokumen dari Home Office Inggris. Agustin Wahyuningsih
foto: Instagram/@sasetyaningtyas

Brilio.net -  Dwi Sasetyaningtyas atau yang akrab disapa Tyas, seorang alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) viral setelah sebuah video yang diunggahnya di media sosial memicu reaksi keras warganet. Dalam video berdurasi singkat itu, tampak Tyas menerima dokumen dari Home Office Inggris yang menyatakan anak keduanya resmi berstatus sebagai Warga Negara Asing Inggris.

BACA JUGA :
Cara cek pengumuman Beasiswa Unggulan 2025 secara resmi dan terpercaya


Dwi Sasetyaningtyas LPDP
foto: Instagram/@sasetyaningtyas

Dalam kesempata tersebut, Tyas mengatakan “Ini adalah surat… bahwa anak aku yang kedua udah diterima jadi Warga Negara Inggris." Tyas juga sempat menegaskan bagaimana anak keduanya bisa mendapatkan status kewarganegaraan Inggris, serta statusnya dan suami.

“👉🏻 Kami semua masih WNI, anakku (yang kedua) memiliki HAK 2 warga negara karena lahir di Inggris sehingga memiliki 2 paspor (Indonesia dan Inggris) yang SAH diakui dan dilindungi secara hukum oleh dua negara.
👉🏻 saya masih bayar pajak di Indonesia sama seperti kalian,” tulisnya dalam sebuah unggahan di Instagram maupun utas di Threads, pada 17 Februari 2026 lalu.

BACA JUGA :
Beasiswa unggulan 2025 segera dibuka, cek syarat dan cara daftarnya sekarang

Dwi Sasetyaningtyas LPDP
foto: Instagram/@sasetyaningtyas

Nah, kalimat selanjutnya yang diucapkan Tyas menjadi pemicu kritik tajam, yakni: “Aku tahu dunia terlihat nggak adil, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu."

Tak pelak ungkapan tersebut menuai kritik di berbagai platform media sosial. Warganet menilai sikap Tyas merendahkan identitas kebangsaan Indonesia. Ia dinilai tidak mencerminkan rasa terima kasih atas beasiswa yang bersumber dari uang pajak tersebut.

Profil dan Jejak Rekam sebagai Aktivis Lingkungan

Dwi Sasetyaningtyas LPDP
foto: Instagram/@sasetyaningtyas

Di luar kontroversi tersebut, Dwi Sasetyaningtyas dikenal sebagai sosok yang memiliki rekam jejak pendidikan dan aktivitas sosial yang mumpuni. Tyas merupakan lulusan Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan melanjutkan pendidikan S2 di Delft University of Technology, Belanda, melalui program beasiswa.

Dwi Sasetyaningtyas LPDP
foto: Instagram/@sasetyaningtyas

Ia juga dikenal sebagai pendiri Sustaination, sebuah organisasi yang bergerak di bidang gaya hidup ramah lingkungan dan edukasi pengelolaan sampah. Sejak meraih gelar dari luar negeri, ia aktif berkegiatan di Indonesia dan dikenal sebagai pemberi pengaruh (influencer) dalam komunitas lingkungan hidup.

Dwi Sasetyaningtyas LPDP
foto: Instagram/@sasetyaningtyas

Permintaan Maaf Terbuka Dwi Sasetyaningtyas

Menanggapi kegaduhan yang terjadi, Tyas akhirnya menghapus video tersebut dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui akun media sosialnya pada Kamis (19/2/2026). Dalam pernyataan tertulisnya, ia mengakui adanya kesalahan dalam pemilihan kata di ruang publik.

“Sehubungan dengan unggahan saya sebelumnya yang memuat kalimat 'cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan', dengan ini saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut,” tulisnya di Instagram dan Threads, dikutip brilio.net, Jumat (20/2/2026).

Dwi Sasetyaningtyas LPDP
foto: Instagram/@sasetyaningtyas

Tyas menjelaskan bahwa pernyataannya lahir dari rasa lelah dan frustrasi pribadi.

“Pernyataan tersebut lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi saya sebagai Warga Negara Indonesia terhadap berbagai kondisi yang saya rasakan. Namun, saya menyadari bahwa kekecewaan tersebut tidak seharusnya disampaikan dengan cara yang berpotensi melukai perasaan banyak orang, terlebih berkaitan dengan identitas kebangsaan yang kita junjung bersama,” lanjutnya.

Dwi Sasetyaningtyas LPDP
foto: Instagram/@sasetyaningtyas

Ia menutup pernyataannya dengan harapan agar momentum bulan suci Ramadan ini bisa menjadi waktu untuk memperbaiki diri dan saling menata hati. Tyas juga menegaskan komitmennya untuk tetap mencintai Indonesia dan terus berkontribusi bagi negeri di masa depan.

“Saya menyadari sepenuhnya bahwa kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai Warga Negara Indonesia.

Untuk itu, saya mengakui kesalahan saya dalam pemilihan kata dan menyampaikannya di ruang publik. Apa pun latar belakang emosi yang melatarinya, dampak dari pernyataan tersebut tetap menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya.

Melalui pernyataan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti serta atas kegaduhan yang terjadi.

Saya sangat menghargai setiap kritik dan masukan yang telah disampaikan secara baik dan konstruktif, sebagai pembelajaran untuk terus memperbaiki diri, termasuk belajar berkomunikasi dengan lebih bijaksana, lebih jernih, dan lebih berempati dalam menyampaikan pandangan di ruang publik.

Saya mencintai Indonesia, dengan segala harapan dan tantangannya, dan semoga saya tetap bisa terus berkontribusi untuk Indonesia hari ini dan di masa depan.

Semoga di bulan suci Ramadan ini, kita bisa saling menata hati, memperbaiki diri, dan fokus menjalankan ibadah sepenuh hati.

Terima kasih atas perhatian dan doa baiknya,” tulisnya.

Dwi Sasetyaningtyas LPDP
foto: Instagram/@sasetyaningtyas

FAQ Penerima Beasiswa LPDP

1. Apa kewajiban utama penerima beasiswa LPDP (Awardee) setelah lulus?

Sesuai aturan LPDP, setiap penerima beasiswa wajib kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi (kontrak pengabdian 2N+1). Mereka diharapkan berkontribusi di tanah air sebagai bentuk tanggung jawab atas dana pendidikan yang diberikan negara.

2. Mengapa status kewarganegaraan anak Tyas menjadi polemik?

Polemik muncul karena Tyas menggunakan narasi "paspor kuat" dan "jangan jadi WNI" yang dianggap meremehkan identitas kebangsaan Indonesia, padahal ia adalah lulusan luar negeri yang didanai oleh uang pajak masyarakat Indonesia.

3. Apa sanksi jika alumni LPDP tidak kembali ke Indonesia?

Pihak LPDP memiliki aturan tegas bagi alumni yang tidak memenuhi kewajiban kembali, mulai dari peringatan tertulis, kewajiban mengembalikan seluruh dana beasiswa yang telah diterima, hingga pemblokiran dari layanan publik tertentu.

4. Apakah anak dari warga negara Indonesia otomatis bisa menjadi warga negara asing di Inggris?

Inggris memiliki aturan kewarganegaraan yang kompleks. Umumnya, seorang anak bisa mendapatkan kewarganegaraan Inggris jika lahir di Inggris dan setidaknya salah satu orang tuanya memiliki status settled atau permanen, atau melalui proses registrasi tertentu jika persyaratan dipenuhi.

5. Apa itu Sustaination yang didirikan oleh Dwi Sasetyaningtyas?

Sustaination adalah sebuah platform sosial dan toko daring yang fokus pada edukasi serta penyediaan alat-alat pendukung gaya hidup minim sampah (zero waste) dan ramah lingkungan di Indonesia.

SHARE NOW
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags