1. Home
  2. ยป
  3. Creator
3 Maret 2020 10:35

Sering nyisain makanan? Ketahui fakta kelaparan, food waste & obesitas

Selain menjadi sampah & sebabkan kerugian secara ekonomi, menyisakan makanan juga dianggap tak etis karena masih banyak jiwa yang alami kelaparan Rian Kusuma Dewi

Masih seringkah kamu menyisakan makanan? Jika masih, fakta berikut semoga dapat menjadi pengingat. Sebab menyisakan makanan selain menjadikannya sampah dan menyebabkan kerugian secara ekonomi juga dianggap tidak etis karena masih banyak jiwa yang masih mengalami kelaparan di seluruh penjuru dunia.

820 juta jiwa di seluruh dunia hidup dengan kurang gizi.


Menurut Food and Agriculture Organization (FAO) dalam laporan The State of Food Security and Nutrition in theWorld: Safeguarding Against Economic Slowdowns andDownturns,lebih dari 820 juta jiwa hidup dengan kurang gizi. Di mana wilayah Afrika menjadi wilayah dengan prevalensi nutrisi kurang terbanyak yaitu sebesar 20%. Selain itu fakta menunjukkan satu dari tujuh bayi baru lahir atau sekitar 20 juta bayi di seluruh dunia lahir dengan berat badan rendah di mana kondisi tersebut meningkatkan risiko kematian pada 28 hari pertama kehidupan. Di mana kurang nutrisi menjadi penyebab kematian 45% balita atau sekitar 3,1 juta anak setiap tahunnya. Apa tidak malu jika kamu masih menyisakan makanan di piringmu?

Indonesia pada level serius kelaparan.

Masih menurut Food and Agriculture Organization (FAO), prevalensi kekurangan gizi di Indonesia dinyatakan telah turun dari 19,7% pada tahun 1990-1992 menjadi 7,6% pada tahun 2014-2016. Namun indikator gizi lainnya menunjukkan masih terdapat 28% anak Indonesia mengalami kekurangan berat badan dan 37% balita Indonesia mengalami stunting. Selain itu Global Hunger Index pada tahun 2018 melaporkan bahwa angka kelaparan di Indonesia berada pada level yang serius. Indonesia memperoleh skor 21,9 dan menduduki peringkat 73 di dunia dan peringkat 6 di Asia Tenggara.

Ironisnyakegemukan dan obesitas juga meningkat.

Ironisnya angka kegemukan dan obesitas juga terus meningkat di seluruh wilayah, terutama pada anak usia sekolah dan orang dewasa. Masih menurut The State of Food Security and Nutrition in theWorld: Safeguarding Against Economic Slowdowns andDownturns pada tahun 2016, sebanyak 131 juta anak usia 5-9 tahun, 207 juta remaja dan 2 miliar orang dewasa mengalami kegemukan. Di mana sekitar sepertiga dari remaja dan orang dewasa yang mengalami kegemukan dan 44% anak usia 5-9 tahun yang mengalami kegemukan merupakan individu dengan obesitas.

Tingginya angka kegemukan dan obesitas pada anak sekolah diduga dipengaruhi oleh kurangnya konsumsi buah dan sayuran serta peningkatan konsumsi makanan cepat saji, peningkatan konsumsi minuman ringan berkarbonasi, dan juga kurangnya aktivitas fisik setiap harinya. Hal ini tentu menjadi isu yang mengkhawatirkan karena seperti yang kita ketahui bersama kegemukan dan obesitas berbanding lurus dengan peningkatan risiko terkena beberapa penyakit kronis hingga kematian.

Food waste juga berbanding lurus.

Selain persoalan kegemukan dan obesitas, masalah food waste juga menjadi kontras dari pemasalahan kelaparan. Setiap tahunnya, menurut Food and Agriculture Organization (FAO) sampah makanan mencapai 1,6 miliar ton di seluruh dunia di mana 1,3 milliar ton di antaranya adalah sampah makanan yang sebenarnya masih bisa dikonsumsi.

Menurut laporanThe Economist tahun 2016-2017 menyatakan bahwa Indonesia menjadi negara terbesar kedua setelah Arab Saudi yang menghasilkan food wastedan food lossdi dunia. Indonesia diperkirakan menghasilkan 13 juta ton sampah makanan setiap tahunnya. Berat ini setara dengan 500 kali berat Monas. Di mana apabila jumlah makanan sebesar 13 juta ton dapat memberi makan 11% penduduk Indonesia atau sekitar 28 juta jiwa. Malu jika saat ini masih sering menyisakan makanan padahal banyak saudara kita yang sedang kelaparan.

PBB mencanangkan gerakan Zero Hunger.

Melihat permasalah tersebut PBB mencanangkan kampanyeZero Hungeryang diharapkan terwujud pada tahun 2030. Di mana kampanye ini selain memastikan sudah tidak adanya lagi angka kelaparan juga menjamin akses setiap orang kepada makanan yang aman, bergizi dan mencukupi sepanjang tahun.

Lalu, apa langkah yang dapat kamu lakukan untuk membantu mewujudkan Zero Hunger? Yang pertama dan penting untuk mulai dilakukan dari sekarang adalah mengurangi food waste. Sebelum makan ada baiknya tentukan seberapa kapasitas perutmu sehingga kamu dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan. Lebih baik kurang dan tambah daripada menyisakan, kan?Apabila sedang makan di luar dan sudah merasa kenyang, kamu dapat meminta makananmu dibungkus sehingga dapat disantap lagi saat di rumah. Dan apabila kamu memiliki makanan yang berlebih jangan ragu untuk membagikan pada orang lain yang membutuhkan.

Yang kedua adalah meningkatkan jumlah produksi pangan sehingga dapat memenuhi kebutuhan pangan. Dalam hal ini para pemangku kebijakan juga diharapkan dapat mendorong adanya riset pertanian untuk menghasilkan sebuah metode baru agar hasil produksi pangan meningkat.

Dan yang terakhir menerapkan pola diet yang sehat. Masyarakat luas diajak untuk lebih memperhatikan kandungan gizi dari setiap makanan yang dikonsumsi, mengurangi konsumsi fast food, serta mengurangi konsumsi gula dan garam sehingga terhindar dari kondisi seperti obesitas dan hipertensi.

Take what you need, eat what you take. Don't waste the food.

Kelaparan menjadi masalah kita bersama, sehingga sudah selayaknya kita juga mendukung kampanye Zero Hunger. Mari kita sebarkan persepsi tentang Zero Hungeragar tidak ada lagi kasus kelaparan, food waste, dan obesitas agar tercipta Bumi yang lebih baik lagi. Siap?

(brl/red)

Source:

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
MOST POPULAR
Today Tags