1. Home
  2. ยป
  3. Creator
7 Februari 2019 11:47

Rokok elektrik e-cigarette 'Vape' yang dilematis, lebih amankah?

Rokok elektrik atau e-Cigarette (populer dengan sebutan 'Vape') diposisikan sebagai pengganti rokok konvensional yang lebih 'aman'. Benarkah? Harry Rezqiano

Beberapa waktu yang lalu ada berita tentang meledaknya rokok elektrik di Texas, Amerika Serikat yang menyebabkan kematian. Baterai yang ada di dalam rokok elektrik mendiang William Brown (24) meledak dan akibatnya serpihan metal dari rokok elektrik tersebut menembus wajah dan memutuskan arteri sehingga menyebabkan kematian Brown akibat stroke dua hari kemudian di rumah sakit setempat.


Mendiang William Brown (Sumber gambar: BBC)

Industri rokok merupakan salah satu bisnis yang tahan bencana, inflasi, dan berbagai jenis masalah ekonomi lainnya, terutama di negara terbelakang. Lihat saja di Asia Tenggara, atau ingin lebih dekat lagi? Lihat Indonesia. Saat krisis moneter di akhir 90-an mematikan berbagai sektor industri, industri tembakau (alias rokok) tidak goyang sedikitpun. Margin keuntungan mereka tetap tinggi. Harga saham mereka tetap stabil. Bahkan ditekan dengan berbagai opini kesehatan dan cukai tinggi, para pengusaha rokok terlihat santai saja menghadapinya.

Saat bungkus rokok mereka dipaksa untuk menampilkan gambar-gambar seram soal bahaya merokok, industri rokok tidak juga menunjukkan grafik menurun. Mereka tetap mampu menghasilkan laba penjualan menggiurkan setiap tutup tahun buku. Puluhan, mungkin ratusan bahkan ribuan kajian soal bahaya rokok sudah sering dilempar ke publik. Awareness soal (bahaya) rokok dipublikasikan di berbagai tempat dan kesempatan.

(Sumber gambar: DetikHealth)

Bahkan iklan rokok secara eksplisit tidak dimungkinkan lagi di media-media Indonesia; tidak seperti di era 60-an hingga 90-an dimana adegan menghisap rokok ada di iklan rokok.

Iklan rokok tahun '80an: https://www.youtube.com/watch?v=4mJstjeDmzw

Tapi semua tindakan edukasi dan preventif tadi tidak membuat jumlah perokok aktif, dan pelaku industri ini, berkurang. Yang ada malah kecenderungan lahirnya banyak perokok pemula di kalangan usia muda. Karena citra rokok dibangun sebagai hip and cool accessory. Sebuah benda yang bikin keren. Sementara rokok aslinya adalah racun yang memberi efek negatif buat kesehatan tubuh serta lingkungan.

Tapi kenyataan itu tertutupi iklan dan citra cerdas yang dibangun pelaku industri rokok. Mereka mensponsori konser musik anak muda. Mereka membangun pusat pelatihan olahraga seperti sekolah badminton dan berbagai langkah strategis untuk memberikan citra positif di produk mereka. Sebuah ironi jika melihat dampak rokok pada kesehatan atlet olahraga.

(Sumber gambar: YouTube)

Mungkin berangkat dari kondisi seperti itulah muncul rokok elektrik, e-Cigarette / e-Cigs. Atau populer dengan sebutan Vape. Nge-Vape / Vaping semakin meraih popularitas tidak hanya di kalangan perokok tradisional, tapi juga para calon perokok yang tadinya merupakan target pasar rokok tradisional. Faktor penting penyebab meroketnya popularitas benda ini adalah e-Cigarette alias Vape digadang-gadang sebagai alternatif rokok yang lebih sehat ketimbang rokok tembakau. Benarkah demikian?

(Sumber gambar: The Gazette)

Asosiasi Jantung Amerika Serikat (The America Heart Association) menyatakan kalau rokok elektrik adalah cara terakhir untuk berhenti merokok rokok tembakau/tradisional. Asosiasi tersebut juga menyatakan setelah dipelajari, e-Cigs (mengandung nikotin namun tidak ada tembakau), dapat mengendalikan keinginan penggunanya untuk menghisap rokok tembakau/tradisional.

e-Cigarette,sebenarnya benda seperti apa?

Sederhananya, benda ini adalah sebuah inhaler. Inhaler yang memiliki baterai isi ulang (seperti smartphone) dan cartridge/tabung (disebut 'Cartomizer') serta lampu LED (tidak selalu ada) yang akan menyala saat kamu menyedot isi Cartomizer. Apa sih isi cartridge tadi? Cairan khusus yang disebut 'Vapor'. Yaitu cairan yang berfungsi sebagai rasa dari rokok elektrik. Jadi baterai di e-Cigs berfungsi memanaskan isi Cartomizer yang akan berubah jadi senyawa yang kemudian dihisap oleh pemakai rokok elektrik.

Proses inilah yang kerap disebut sebagai Vaping. Vaping akan menimbulkan asap sangat tebal yang menurut pemakai e-Cigs, tidak berbahaya untuk sekeliling. Berbeda dengan rokok tradisional, di mana asap yang ditimbulkan membawa senyawa berbahaya untuk siapapun yang menghirupnya.

Komponen sebuah rokok elektrik (Sumber gambar: Slide Share)

Satu set rokok elektrik ini biasanya berharga mahal, sehingga sedikit banyak membentuk citra elite dan keren untuk pemiliknya. Harga satu set e-Cigs berkualitas bisa tembus jutaan rupiah, tergantung kualitas barang dan siapa/di mana penjualnya. Sementara liquid/cairan vapor dari rokok elektrik ada dalam berbagai jenis rasa dan aroma, serta di-klaim tidak memiliki racun berbahaya seperti rokok tembakau.

Jadi intinya rokok elektrik lebih baik dan lebih sehat ketimbang rokok tembakau?

Belum tentu juga! Badan pengawasan obat dan makanan Amerika Serikat / FDA sendiri sampai sekarang tidak memberikan restu mereka pada e-Cigs sebagai produk yang sehat dan aman untuk dikonsumsi. Regulasi untuk mengatur distribusi rokok elektrik ini juga masih tumpang tindih. Sementara para penggemar Vape selalu meng-klaim kalau e-Cigs aman dari masalah-masalah yang dimiliki oleh rokok tradisional karena rokok elektrik bebas dari karsinogen berbahaya arsenik dan vynil chloride seperti rokok tembakau. Plus, asap Vape tidak berpengaruh ke perokok pasif sehingga aman untuk sekeliling orang yang sedang Vaping.

Tercatat ada lebih dari 466 merk dan 7.700 varian rasa dari rokok elektrik yang beredar di seluruh dunia. Varian rasa tadi dihasilkan dari nikotin, propylene glygcol, dan tentu saja essence berperisa khusus; sehingga tidak heran jika ada asap Vape dengan aroma strawberry atau aroma-aroma aneh lainnya. Tidak seperti rokok tradisional yang sudah pasti beraroma tembakau.

Berbagai varian rasa & aroma Vape (Sumber gambar: DIYTrade)

Saat ini sulit mengatakan kalau rokok elektrik lebih aman, sama saja atau lebih berbahaya ketimbang rokok tradisional. Walau aspek seperti bebas tembakau dapat membuat citra e-Cigs lebih baik ketimbang rokok tradisional tapi ada bahaya lain dari rokok elektrik ini. Lihat saja kasus William Brown di Texas sebelumnya di mana baterai e-Cigs dia meledak dan menyebabkan kematian.

Adanya kandungan nikotin yang secara ilmiah terbukti menjadi penyebab kecanduan juga membuat rokok elektrik terlihat sama berbahaya dengan rokok tembakau.

Saran saya? Jika kamu perokok tembakau aktif, coba saja pindah ke rokok elektrik. Mungkin hidup kamu akan jadi lebih baik. Tapi jika kamu belum jadi perokok jenis apapun, baik itu tembakau maupun elektrik,just stay the hell away dari keduanya! Hidup kamu pasti akan jauh lebih baik.

(brl/red)

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
MOST POPULAR
Today Tags