1. Home
  2. ยป
  3. Creator
16 Mei 2019 14:50

'Dongeng' 1989, pelecut bagi Indonesia di ajang Sudirman Cup 2019

Sesuatu yang mustahil dapat terjadi jika telah memasuki karpet hijau. Bukti nyatanya terjadi tahun 1989. Riyanto Agus

Piala Sudirman merupakan kejuaraan beregu prestisius yang ditunggu-tunggu oleh pencinta bulu tangkis Tanah Air pada akhir Mei nanti. Seperti yang kita ketahui, dua tahun lalu Indonesia harus terperosok di dasar klasemen grup. Hasil tersebut menjadi penampilan terburuk sepanjang kiprah Indonesia di kejuaraan beregu dua tahunan tersebut.


Kejuaraan yang dilaksanakan dua tahun sekali itu pernah menciptakan dongengindah bagi Bumi Pertiwi, yakni pada tahun 1989, tepatnya saat Sudirman Cup edisi pertama digelar di Istora.

Dongeng ini bermula ketika Suharso Suhandinata ingin mengenang jasa Dick Sudirman yang mempersatukan dua federasi bulu tangkis Internasional yang saat itu sedang terpecah. Ia pun mengajukan sebuah ajang untuk mengenang "Bung Sudirman" serta memberikan persembahan Indonesia kepada dunia bulu tangkis. Usaha itu pun berhasil dan tepatnya pada tahun 1989 Sudirman Cup dapat dihelat di Jakarta.

Sayembara desain trofi Piala Sudirman dimenangkan oleh seorang mahasiswa Fakultas Seni Rupa ITB. Desain ini diperbaiki kembali dan dibuat dengan modal 27 juta rupiah. Alhasil, jadilah trofi yang terbuat dari perak dan dilapisi oleh emas. Tingginya 80 cm. Dengan pegangan menyerupai benang sari dan daun sirih. Badannya menyerupai shuttle cock dan puncaknya didesain seperti puncak Borobudur. Rasanya citra kejuaraan Sudirman lekat sekali dengan Indonesia.

Usai kejuaraan dunia tahun 1989, Sudirman Cup digelar dalam kondisi Jakarta yang saat itu lembap dan bersuhu tinggi. Situasi lapangan tersebut turut menguji fisik dan mental atlet bulu tangkis saat itu.

Dilansir dari majalah World Badminton yang menggambarkan situasi pertandingan saat itu,"Hal pertama yang mengejutkan Anda adalah panasnya ... Setelah hanya beberapa pukulan, pakaian menjadi basah, dan perlu break bermain untuk mengeringkan keringat dan mengusap alis. Setelah pertandingan pertama, banyak pemain mengganti bajunya. Tapi sekali lagi tak lama setelah itu basah lagi.Ya, itu pekerjaan panas untuk semua yang terlibat, tetapi terutama untuk para pemain. Tidak ada jalan keluar dari pemanggang ini!"

Dalam Sudirman Cup edisi perdana dikelompokkan dalam 7 grup. Grup 1 untuk perebutan trofi Sudirman Cup, sedangkan grup lain untuk mengangkat poin negara mereka. Grup satu terbagi menjadi dua lagi, yaitu grup A dan grup B yang masing-masing terdiri dari 3 negara. Sedangkan grup 2,3,4, dan 5 terdiri dari masing-masing 4 tim serta grup 6 dan 7 masing-masing terdapat tiga tim.

Indonesia tergabung dalam grup 1A, tergabung bersama Indonesia, Korea, Inggris. Sedangkan Grup 1B terdiri dari China, Denmark, dan Swedia.

Hasil sangat kentara saat itu diperlihatkan oleh pertandingan Swedia yang berhadapan dengan Inggris dalam penentuan degradasi grup 1. Keduanya yang merupakan juru kunci grup 1 A dan Grup 1 B harus saling mengalahkan untuk mempertahankan posisi negara mereka di grup satu. Hasil pertandingan, Swedia unggul 5 - 0 dari Inggris sehingga berhak berlaga di grup satu pada edisi 1991. sedangkan Inggris harus turun ke grup dua. Posisi Inggris tergantikan oleh Jepang yang memuncaki grup 2 dan berhak lolos ke grup satu.

Dalam semifinal, Indonesia dan China merupakan tim yang diunggulkan setelah menjadi juara grup 1A dan 1 B.

Diunggulkan, Indonesia menggila dengan membantai Denmark dengan skor telak 5 - 0. Namun kejutan terjadi di Istora di mana Tiongkok harus takluk atas keunggulan Korea dalam Skor 3 - 2.

Berkaca dari kemenangan di fase grup dan status tuan rumah menjadikan Indonesia optimis dapat meraih gelar juara. Namun sekali lagi Korea menjadi batu sandungan bagi tim unggulan di Sudirman Cup tahun '89' dengan menyulitkan publik tuan rumah.

Petaka muncul pada pertandingan pertama. Eddy Hartono dan Rudy Gunawan yang dipercaya menjadi pendobrak poin awal untuk Indonesia harus kalah dalam rubber game 15-9, 8-15, 13 -15. Pasangan Korea Park dan Kim membuktikan bahwa mereka pasangan yang tak dapat diremehkan.

Korea yang mendapatkan angin segar dari keunggulan 1 - 0. Ganda putri mereka dapat bermain lepas di Arena Istora yang dianggap angker bagi pebulu tangkis dunia manapun. Korea semakin dekat dengan gelar juara setelah di pertandingan ganda putri pasangan Verawaty Fajrin/Yanti Kusmiati harus takluk dalam dua set langsung 12-15, 6-15 dari Hwang Hye Young/Chung So Young.

Tertinggal 2-0 membuat asa Indonesia semakin tipis. Para penonton pulang tak dapat menyelesaikan tontonan yang menyedihkan itu. Susi Susanty yang menjadi harapan Indonesia terakhir bahkan harus tertinggal pada set pertama. Penonton semakin melesu dan sepertinya bersiap menyiapkan mental bahwa Indonesia akan melepas piala emas itu ke tangan Korea. Namun Tuhan berkehendak lain, Lewat tangan Susy semua berbalik seratus delapan puluh derajat. Serangan Lee Young Suk berhasil dimentahkan oleh Susy. Bahkan Susy berhasil membuat publik tuan rumah kembali bersorak dengan kemenangannya di set kedua.

Bagai kesetanan, Susy Susanti tak membiarkan Lee Young Suk berkembang permainannya di set ke-3 hingga selesai Susy pun sukses menyelamatkan muka Indonesia dengan memenangkan laga rubber game melawan pemain muda korea Lee Young Suk dengan skor 10-12, 12-10, 11-0.

Semangat bangkit dari kekalahan dari Susy Susanti ternyata cukup membuat kepercayaan diri Indonesia bangkit. Melalui tangan Edy Kurniawan di sektor tunggal putra Indonesia berhasil menyamakan kedudukan 2-2. Edy menang meyakinkan melawan Sung Han Kook 15-4, 15-3.

Pertandingan penentuan terjadi di sektor ganda campuran yang mana Indonesia harus menurunkan Eddy Hartono berpasangan dengan Verawaty Fajrin yang baru saja kalah di ganda putra dan ganda putri. Permainan di set pertama sengat ketat, bahkan perlu terjadi setting namun Indonesia diliputi oleh Dewi Fortuna sehingga memenangkan set pertama. Korea yang mentalnya jatuh akibat kebangkitan Indonesia harus menyerah 3-15 di set ke-2 yang memastikan Indonesia sebagai juara pertama Sudirman Cup 89.

'Dongeng' '89 seharusnya menjadi pelecut semangat Tim Indonesia agar dapat memulangkan kembali trofi Piala Sudirman ke tanah air. Mudah-mudahan cukup 30 tahun saja penantian kita untuk mendambakan trofi tersebut.

(brl/red)

Source:

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
MOST POPULAR
Today Tags